Misteri Pembangunan Jalan

Refleksi Haluan Senin 5 September 2011

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Hampir setiap kali ada pembukaan jalan baru, jalan raya di perkotaan atau di pedesaan selalu menghadapi berbagai kendala bahkan protes dan penghadangan. Diantara kendala itu misalnya, ada warga yang menolak membebaskan tanah, rumah atau tanamannya, kalaupun mau masih berdebat soal nilai ganti rugi. Ada yang mau menerima ganti rugi tapi mengajukan berbagai persyaratan.

Pembebasan lahan untuk pembangunan jalan kampung atau pemukiman juga tak kalah seru. Meski jalan itu membentang di depan rumahnya, tempat keluarga dan sana familinya berlalu lalang, tempat kendaraannya akan lewat, kampungnya akan menjadi bersih dan indah, ada saja yang tak mau tahu. Berbagai alasan dan urusan dihadapkan untuk membebaskan tanah meski kadang kurang satu merter.

Padahal, ketika jalan di kampungnya masih sempit, berkerikil dan berlobang-lobang berbagai keluhan, bahkan kadang sumpah serapah ditumpahkan. Begitu juga ketika jalan raya sempit, rusak dan jelek ada warga yang kadang sampai berdemonstrasi menuntut jalan diperbaiki dan ditingkatkan. Nah ketika peningkatan, pelebaran dan perbaikan dilakukan muncullah persoalan pembebasan lahan, dan sebagainya sepeperti diutarakan di atas.

Namun begitu pembangunan, perbaikan dan peningkatan kualitas jalan selasai dikerjakan, begitu jalan-jalan pada mulus dan bersih, harga tanah, sewa toko dan sewa rumah meningkat drastis semuanya lupa dengan berbagai aksi dan tindaknnya saat jalan dibangun. Bahkan diantaranya orang berduit, berpangkat dan berjabatan yang tadinya cenderung menghalangi, menolak ganti rugi dan sebagainya malah lebih duluan membangun kedai atau pertokon di pinggir jalan yang baru dan sebagainya. Singkat kata, merekalah yang lebih awal dan lebih banyak memetik manfaat dari jalan itu.

Sebetulnya, tak hanya pada pembangunan jalan raya. Saat membangun gedung sekolah, irigasi, drainase, embung dan pasar-pasar juga terjadi hal serupa. Tetapi ketika  gedung sekolah, irigasi, drainase, embung dan pasar-pasar sudah rampung dibangun dan suasana sudah berubah semuanya seperti menerima tanpa reserve.

Kenapa sesuatu yang semula ditolak, diprotes atau bahkan dilawan kemudian diterima dan malah menjadi kebanggaan. Ini mengesankan ada sesuatu misteri di balik itu. Dalam teori perubahan sosial memang ada sedikit jawaban tentang misteri itu. Yakni, hal-hal baru yang dianggap sebagai kelanjutan dari apa yang sudah ada atau jawaban dari tuntutan satu kelompok masyarakat maka hal yang baru itu akan cepat diterima. Sebaliknya, apabila sesuatu yang baru itu dianggap akan merusak, mengalahkan atau bertentangan dengan apa yang sudah ada maka ia akan ditolak bahkan dilawan.

Dalam kontek pembangunan jalan raya, gedung sekolah, irigasi, drainase, embung,  pasar dan fasilitas publik lainnya, jelas dilakukan sebagai upaya mempertahankan dan melanjutkan apa yang sudah baik, peningkatan atau perbaikan dari apa yang pernah ada. Atau memenuhi tuntutan kebutuhan akibat peningkatan jumlah penduduk, peningkatan kebutuhan hidup dan atau menghapi perkembang (prosfek) di masa yang akan datang.

Kalau teori itu benar,  kenapa setiap pembangunan jalan dan sebagainya harus menghadapi penolakan, protes dan perlawanan? Jawabannya jelas bukan hanya karena persoalan harga dan nilai ganti rugi. Sebab, prosfek pembangunan jalan dan sebagainya jauh lebih berharga ketimbang nilai ganti rugi itu sendiri. Lantas apa?

Kalau dilihat dari sisi ilmu komunikasi, tampaknya penolakan, protes dan perlawanan  warga terhadap pembangunan jalan dan fasilitas publik itu adalah akibat minim atau kurangnya komunikasi antara penggagas dan warga. Yaitu komunikasi tentang manfaat, dampak positif, prosfek dan marwah dari apa yang dibangun. Padahal semua pihak menyadari, jangankan rakyat biasa, yang berpendidikan, pangkat dan jabatan tinggi pun kadang tak mampu menganalisa manfaat sesuatu yang dibangun. Yang ada dalam pikirannya cuma satu: kerugian akibat pembangunan tersebut.

Komunikasi, apalagi dalam kultur masyarakat Minang, merupakan hal yang prinsip. Simak pribahasa adat yang mengatakan,” biarlah permintaan indak ka dapek, asal tanyo lai bajawab”. Tanya jawab itu adalah komunikasi, dialog dan musyawarah. Dan, itu di atas segala-galanya, termasuk di atas nilai ganti rugi.

Sebetulnya kita bisa belajar dari tukang jahit. Bayangkan ketika membeli dasar pakaian, seempunya tak mau kurang sesenti pun bahkan sehelai benang saja ia tak mau yang rusak. Di tangan tukang jahit malah dgunting-gunting., siempunya oke saja. Soalnya, si penjahit mampu meyakinkan bagaimana hasil akhir bentuk pakaiannya. Kecuali jahitannya amburadul, biasanya pakaian yang pas di badan jadi kebanggaan, “dipalagaan” saat kenduri dan lebaran. Artinya, kalau komunikasinya lancar dan efektif tentul;ah tak akan ada hal-hal yang meisteri.

Meski demikian, dengan komunikasi dan pendekatan sebaik apapun kadang masih saja belum dipahami dan diterima warga. Baik karena ketidakmampuannya  mapun karena kebangkangannya. Nah, untuk kasus-kasus seperti ini, sebagaimana di Era Orde Baru,  kadang diperlukan sedikit pemaksaan, seperti halnya memaksa pasien makan obat. Kalau bukan demikian, fasilitas umum yang ada sekarang mungkin tak akan pernah ada.

Persoalannya di Era Reformasi ini, suara presiden sama dengan suara pemulung. Meski itu hanya untuk urusan politik (pemilu), nyatanya berlaku pula dalam pelaksanaan pembangunan. Celakanya, akibat intervensi negara-negara sekuler, kita bisa dibenturkan pada rumus-rumus HAM. Akibatnya berbuat baik untuk kebaikan masyarakat pun bisa berhadapan dengan hukum. Padahal kondisi sosial, pendidikan, ekonomi dan  politik bangsa ini belum setara negara maju dan sekuler itu. Potensi pembangunan kita masih mengandalkan partisipasi sosial bukan kekuatan ekonomi pemerintah seperti halnya di Amerika itu.

Oleh karena itu setiap gejala dan gejolak yang terjadi patut dicermati secara komfrehensif dan kearifan-kearifan sehingga misteri yang muncul selama ini bisa cepat terungkap sehingga pembangunan yang dimaksudkan untuk rakyat tak terhalang oleh sikap rakyat itu sendiri.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: