Anarkhis vs Anarkhis

Oleh Fachrul Rasyid HF

Kata anarkhis berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua kata  an (tanpadan archia (pemerintahan) artinya  tanpa pemerintahan. Dalam Bahasa Inggris, anarchy, berarti kekacauan (karena) tidak tegaknya hukum atau tidak efektifnya pemerintahan. Kondisi inilah kini yang merawarnai kehidupan berbangsa dan bernegara lebih sepuluh tahun terakhir.

Maka, tidaklah aneh kalau anarkhis versus anarkhis. Lihat saja persistiwa seperti penyerobotan, penghadangan, pembelokiran, perkelahian antar desa, siwa/ mahasiswa, dan antarmassa, penyerbuan/ pengrusakan, penganiayaan,  hingga pembakaran dan pembunuhan yang menghiasi mediamassasuratkabar, internet dan stasiun televisi kita hari-hari ini.

Di Sumatera Barat, setidaknya empat bulan terakhir, ada tiga peristwa anarkhis versus anarkhis yang cukup menghebohkan. Pertama malam 18 Agustus 2011,massamenyerang Mapolsek Tapan, ibukecamatan Basa Ampek Balai, Kabupaten Pesisir Selatan. Akibatnya, kaca jendela, kursi meja dan sepeda motor di Mapolsek itu berantakan.

Kerusuhan itu bermula dari razia sepeda motor berknalpot bising yang dianggap mengganggu kenyamanan beribadah dalam bulan Ramadhan. Toh, aman karena pemiliknya bisa mengambil kendaraannya bila mengganti dengan knalpot normal. Yang ber-SIM supaya mengurusi SIM, yang mati pajak supaya melunasi pajaknya.  Celakanya, dalam waktu bersamaan ada pula polisi yang menggerebek warga berjudi. Karena pelakunya kabur, sepeda motornya malah diangkat. Dari situ beredarlah kabar, polisi juga menangkapi sepeda motor yang terparkir. Dan, itu dianggap keterlaluan. Malamnya Mapolsek pun diserang.Limatersangka ditahan polisi dan dua polisi yang meninggalkan tugas malam itu juga diperiksa.

Kedua 8 November 2011 di Jorong Maligi, Kenagarian Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pesisir, Pasaman Barat.Massaibu-ibu menyerbu perkantoran dan perumahan karyawan PT Permata Hijau Pasaman II (PT PHP II). Penyebabnya, perusahaan itu tak membuka lahan sawit kebun plasma sekitar 600 hektar untuk 1.050 KK yang dijanjikan sejak 20 tahun lalu. Polisi yang mengamankan perusahaan itu dianggap tak berpihak pada rakyat, benterok dengan warga. Sedikitnya 20 ibu-ibu terluka, patah tulang dan memar. Sebagian mengungsi. Polemik pun merebak seputar tindakan kepolisian itu.

Persitiwa ketiga, Kamis malam, 24 Nobember 2011 lalu Markas Satlantas Polres Sawahlunto diserbumassa. Penyebabnya, mirip kasus Tapan, penangkapan pelajar berbonceng tiga oleh polantas paginya. Karena dianggap melarikan diri dan menyenggol polisi, akhirnya berujung  pemukulan dan penganiayaan siswa tersebut di depan umum. Dianggap keterlaluanmassapun berkumpul. Malamnya terjadilah kerusuhan. Akibatnya, markas Satlantas dan segala isinya, beberapa mobil ludes jadi abu. Kerugian sementara diperkirakan Rp 4 milyar. Pelaku pun dikejar dan polisi pemantik rusuh juga diperiksa.

Kenapa disebut anarkhis versus anarkhis? Masyarakat mungkin belum banyak yang paham kata anarkhi itu. Apalagi UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Tugas Pokok Kepolisian RI dan UU No. 22  Tahun 2009 Tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan. Yang (wajib) tahu tentulah polisi itu.  Yang jadi ukuran bagi masyarakat hanyalah kewajaran, kepatutan dan kepantasan.  Ketika suatu tindakan dianggap tak wajar, apalagi dinilai keterlaluan, masyarakat yang merasa tak punya langit tempat mengadu, segera bersatu membangun kekuatan dan menunjukkan kekuatannya.

Jika dirujuk UU No. 22 Tahun 2009  tindakan anggota polisi di Tapan mau di Sawahlunto itu jelas tak wajar. Sebab, menurut UU tersebut apapun bentuk pelanggaran lalulintas ( kecuali kecelakaan),  baik yang berkaitan dengan kelengkapan kendaran maupun pelanggaran aturan lalulintas, sanksinya hanyalah penilangan yang berujung denda. Polisi tak boleh main cegat, main denda, apatah lagi sampai main pukul di pinggir jalanan.

Ketidakwajaran itu kian kentara bila memrujuk UU No. 2 Tahun 2002 yang menekan bahwa tugas utama kepolisian adalah memelihara kamtibmas, menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Begitu juga Tri Brata Polri  yang mengajarkan bahwa polisi dalam menjalankan tugasnya wajib mengedepankan penghayatan terhadap ketaqwaan, kebenaran, keadilan dan kemanusiaan, serta keikhlasan. Karena itu pantas Kapolda Sumatera Barat menindak anggotanya yang anarkhis dan  masyarakat membalasnya dengan tindakan anarkhis.

Sebetulnya, anarkhisme dekat dengan penyalahgunaan kekuasaan, kewenangan dan pelanggaran hukum. Dan itu tak hanya terjadi antara masyarakat dan polisi tapi juga antara masyarakat sesamanya, masyarakat dan pejabat pemerintahan atau sebaliknya,  atasan dan bawahan, buruh dan perusahaan bahkan anggota legislatif dan eksekutif dan sebagainya.

Bentuknyapun beragam. Bisa berupa aksi pisik, ucapan lisan/tulisan semisal  pencercaan, penghinaan, pencemaran, pelecehan, penoadaan terhadap perasaan, budaya, kepercayaan dan keyakinan orang lain. Bisa berbetuk kebijakan, keputusan hukum, penyelengaraan pemerintahan, penyelanggaran administrasi / keuangan negara yang melanggar hukum yang secara psikologis, moril dan materil merugikan orang atau kelompok lain.Ketika para korban kehilangan kepercayaan kepada penegak hukum seperti sekarang, mereka bertindak sendiri sehingga anarkhis pun dibalas anarkhis. Inilah sesungguhnya penyebab kenapa kerusuhan dan kericuhan terjadi di mana-mana.

Jalan keluar dari persoalan ini tak terlalu panjang. Yaitu, setiap orang, apapun status dan tugasnya, haruslah taat asas, taat aturan perundang-undangan, prosedur dan tatakrama. Jika tidak, di negeri ini takkan pernah jelas siapa dan bagaimana mengerjakan apa. Dan kerusuhan bukannya akan reda melainkan akan semakin merajalela. (*)

Komentar Singgalang 29 November 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: