Biar Kambang Berkembang

Oleh Fachrul Rasyid HF

Ternyata pembangunan kembali jalan nasional yang ambruk sepanjang 350 meter di kawasan Kampung Kasiek Putiah, Kenagarian Kambang, Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan akibat diterjang banjir 2 November 2011 lalu tak menunggu lama. Mualai awal tahun ini jalan itu dialihkan dan diganti dengan cara meningkatkan kualitas dan status jalan kabupaten jadi jalan nasional sepanjang 3 km yang sebelumnya jadi jalan alternatif.  Tiga jembatan kecil yang ada juga diganti. Biayanya, sekitar Rp 87 milyar, diantaranya Rp 3 milyar dialokasikan APBD Sumbar 2012

Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit tentu  mendukung relokasi jalan nasional. Sebab, tak mudah bagi Pesisir Selatan mendapat dana sebanyak itu. Lagi pula kemacetan angkutan barang dan orang dari Padang- Bengkulu segera normal sehingga kehidupan rakyat kembali pulih. Sebuah pabrik sawit yang ditutup akibat kesulitan pasokan bahan bakar bisa beroperasi dan menampung  lagi panen sawit rakyat.

Hebatnya, upaya membangun jalan yang aman dari banjir dan abrasi pantai itu justru dipersoalkan anggota DPRD Sumbar. Ketua Komisi III DPRD Sumbar  H. Nurnas, seperti diberitakan Singgalang 16 Januari 2012 lalu,  mempertanyakan, kok, biaya pembangunan jalan ini sebesar itu. Katanya, kenapa ada rencana pembangunan tiga ruas jembatan padahal tak ada sungai disana.

Anggota Komisi III, Saidal Masfiyudin dan Israr Jalinus, mengaku baru mengunjungi kawasan itu malah merasa terkejut dan menganggap biaya dan rencana pembangunan jalan dan jembatan tersebut tak masuk akal. Syafril Ilyas, anggota DPRD asal Pesisir Selatan senada. Syafril menilai tak perlu membangun jalan baru karena jalan lama yang perlu perbaikan hanya 350 meter. Tak perlu  jembatan karena tak ada sungai disana. Lagi pula masyarakat tak mau dipindahkan dari bibir pantai. Karenanya, mereka akan mengundang dengar pendapat pejabat Dinas Prasana Jalan Tataruang dan Pemukiman.

Tentu saja pernyatan anggota DPRD itu cukup menggelitik. Sebab, kalau dianalisa secara objektif dan konprehensif pernyataan itu atau keraguan seperti itu tak perlu terjadi. Kebetulan, saya ikut bersama rombongan Wakil Gubernur Muslim Kasim, juga Bupati Nasrul Abit, ke lokasi bencana itu sehari setelah kejadian. Saat itu sisa air bah masih mengalir dan penduduk masih mencari korban. Artinya, kunjungan ke lokasi itu bukan di musim kemarau dua bulan kemudian.

Mencermati asal muasal air bah dan arus air,  lalu memperhatikan jalan ambruk, pemukiman yang rubuh serta pantai yang terban saat itu jelas tak mungkin dibangun kembali jalan di atas alur jalan lama. Alasannya, pertama, tanah jalan itu merupakan endapan pasir yang rapuh dan rawan abrasi karena dekat pantai. Penduduk yang terkena musibah juga tak mungkin memanfaatkan lahannya karena sudah porakporanda.

Kedua, ada tiga alur sungai dan muara sungai baru yang terbentuk akibat banjir. Alur sungai itu akan berair di musim hujan dan kering di musim kemarau sampai bisa dilintasi kendaraan minibus.  Tapi sungai baru itu berpotensi banjir di musim hujan mengingat tiga sungai, Batang Lenggayang, Batang Ampiang Parak dan Batang Kambang yang berhulu di perbukitan  di utara Kambang sering liar. Maklum, hutan di hulu sungai telah digunduli untuk lahan gambir, karet dan sawit.

Jika jalan dibangun kembali di situ otomatis diperlukan tiga jembatan. Kemudian alur sungai, badan jalan dan pantai di tiga muara sungai baru harus didam dan dibeton. Jika tidak, badan sungai, pangkal jembatan dan bibir pantai di sekitar muara akan terus tergerus. Selain biayanya lebih besar pekerjaannya lebih lama, rawan ambruk pula.

Pilihan terbaik memang meningkatkan jalan kabupaten jadi jalan nasional  seperti yang sudah dimulai. Dan, itu jelas akan berdampak positif bagi   pemukiman penduduk yang selama ini berada di bagian pedalaman Kambang. Selain aman dari amukan ombak dan banjir, jalan ini juga akan berfungsi jalur evakuasi dari pantai  ke perbukitan jika tsunami mengancam. Artinya, jalan baru itu akan lebih murah dan lebih besar dampaknya bagi keselamatan dan kesejahteraan rakyat.

Penduduk memang tak perlu direlokasi. Bagi yang punyalahan bisa pindah ke kawasan jalan yang baru atau bertahan di pinggir pantai seperti semula, sebagai nelayan atau memanfaatkan objek wisata pantai.

Seandainya anggota DPRD tersebut memang menghayati kondisi dan prilaku alam serta kehidupan masyarakat di sepanjang Pesisir Selatan, seharusnya seluruh jalan nasional di Pesisir Selatan, 341 km, secara bertahap diusulkan untuk direlokasi arah perbukitan sebelah kiri jalanPadang- Bengkulu. Setidaknya, dari Pasar Baru hingga ke Air Haji.  Soalnya jalan ini rata-rata dekat pantai, muara sungai yang rawan  bencana.

Jika jalan itu direlokasi, maka selain terjauh dari ancaman laut dan banjir , dengan sendirinya nagari di sepanjang daerah ini  bisa dikembangkan ke arah perbukitan. Lebih dari itu, pengawasan penebangan liar di kawasan TNKS  bisa efektif dan jalur evakuasi yang dimimpikan Bupati Nasrul Abit untuk 70% kabupaten ini akan tertolong. (*)

Komentar Singgalang 26 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: