Cemeti Edaran Dikti

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Suratedaran (SE) Djoko Santoso Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendiknas  No.152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012 tentang wajib karya/ makalah ilmiah yang terpublikasi pada jurnal ilmiah untuk kelulusan  sarjana S1, S2 dan S3. SE, seperti sudah diduga  mengundang heboh. Halaman internet dua pekan terakhir nyaris diwarnai pro kontra pihal tersebut. Banyak yang bernada menolak. Bukan hanya untuk kelulusan S1 tapi juga bagi kelulusan S2 dan S3.

Padahal menurut Djoko Santoso,  SE yang akan diberlakukan di seluruh perguruan tinggi negeri mulai Agustus tahun ini diterbitkan supaya sebagai ahli seorang sarjana harus memiliki kemampuan menulis secara ilmiah dan menguasai tata cara penulisan ilmiah yang baik. Dengan demikian tiap mahasiswa dapat menulis karya ilmiah baik dari rangkuman tugas, penelitian kecil, maupun ringkasan skripsinya.

Prof. Dr. H. Elfindri SE, MA, pada Refleksi Haluan Sabtu 11 Februari 2012 lalu mengungkapkan beberapa kendala yang menjadi keberatan kalangan penolak di dalam (internal) perguruan tinggi. Toh, ia menilai positif  SE itu karena bisa menjadi sugesti bagi calon sarjana di tiap level untuk memperkuat kepedulian dan kemampuan meneliti dan menulis. Saya sependapat dengan Elfindri. Bahkan kalau mau jujur  SE itu, merupakan  respon terhadap kegelisan dan kritikan masyarakat  terhadap akademisi kita selama ini dan mestinya diberlakukan sejak 2o tahun silam.Coba simak kritikan Prof. Dr. Emil Salim terhadap Sumatera Barat sekitar 20 tahun lalu. Katanya, Sumatera Barat yang miskin sumber daya alam sebenarnya bisa jadi daerah industri otak. Alasan Emil tentulah karena daerah ini punya potensi besar: setidaknya kini ada sekitar 45 perguruan tinggi, sekitar 3.700 dosen diantaranya ada sekitar 350 orang profesor dan doktor.

Nah, andaikata tiap profesor dan doktor itu, sesuai kompetensinya, menyumbangkan satu tulisan dalam satu tahun di mediamassa, tentu seluruh  pembaca di daerah ini tiap hari sepanjang tahun jadi mahasiswa pasca sarjana karena menyantap pikiran profesor dan doktor dari berbagai disipilin ilmu.  Dan, industri otak yang disebut Emil tentu bisa jadi kenyataan. Tapi jangankan pemikiran dan tulisan, sosoknya pun tak muncul di masyarakat. Hebatnya, diantaranya, kemudian tampil misalnya jadi rektor.

Ada memang beberapa hal yang perlu dijelaskan dari SE itu. Misalkan semua calon sarjana S1 mampu menulis makalah ilmiah karena memang terbiasa dengan kegiatan ilmiah, lantas di media mana dan berapa jumlahnya yang memenuhi syarat memuat karya ilmiah itu. Ini penting supaya ribuan calon sarjana S1 yang akan menyelesaikan perkuliahan tiap tahun tak terkendala ketersediaan media. Toh ini hanyalah masalah teknis. Persoalan mendasar, termasuk yang melatarbelakangi keberatan pada SE, justru pada rendahnya kemampaun menulis itu sendiri. Kenapa? Belum ada hasil penelitian tentang ini.

Namun pengalaman menggeluti mediamassaselama 30 tahun di Sumatera Barat mungkin bisa jadi sumbangan. Seperti diketahui tiap media koran, majalah dan buletin dan tabloit lazim menyediakan ruang opini bagi karya tulis siapapun yang dianggap layak muat. Ternyata konstribusi kalangan perguruan tinggi  terhadap rubrik ini minim sekali. Bahkan untuk mendapatkan sumber wawancara dari kalangan ilmuwan yang dianggap berkompten dengan suatu peristiwa bukan hal mudah. Banyak kilah yang dikemukakan.  Adayang menolak karena tak tahu peristiwa yang terjadi.Adayang mengaku tak berwenang, dan ada yang mengaku tak berani berbicara. Celakanya, seseorang yang sering menulis atau sering diwawancari wartawan, malah dipersoalkan, “kok  inyo ka inyo sajo”. Padahal Prof Dr Saldi Isra yang terbilang  guru bsar muda usia mengaku terapacu maju karena disugesti nasehat,” kalau mau maju banyaklah menulis di media”.

Dari pengalaman tersebut  ada beberapa indikasi penyebab minimnya karya tulis akademisi. Diantaranya, rendahnya kepedulian dan sensitivitas terhadap perkembangan yang terjadi akibat terbatasnya bacaan dan pergaulan di masyarakat. Banyak yang suka melahap buku tapi karena rendah kepedulian dan senstivitas, tak mampu menganalisa masalah sehingga tak mampu merespon hal-hal aktual. Akibatnya, mereka miskin ide-ide, modal penting bagi seorang penulis.

Rendahnya kepedulian dan sensitivitas juga akan berimpilkasi rendahnya keberanian moral dan intlektual berpendapat di depan publik. Tingginya motivasi material/poyek juga ikut menyumbang rendahnya kesadaran dan dedikasi inlektual pada masyarakat. Karena itu agaknya jumlah perguruan tinggi dan sarjana belum dapat mengindikasikan kemajuan suatu daerah.

Penolakan SE Dikti di kalangan calon sarjana S1 selain terkait hal-hal di atas juga tak terlepas dari mata pelajaran di SLTA, sistem ujian dan suasana yang berkembang di kampus perguruan tinggi. Sebut misalnya, mata pelajaran mengarang dan membuat kesimpulan buku di SLTA sudah jarang terdengar. Padahal ini sangat membantu melatih kemampuan/kebiasaan menulis. Lalu, sistem pendidikan kita yang menakar prestasi berdasarkan angka-angka bukan pemahaman dan daya nalar, ditambah lagi sistem ujian dengan soal multy choise bukan esey ikut menjauhkan kebiasaan mengolah nalar dan menulis itu.

Suasana mahasiswa di kampus yang lebih diwarnai diskusi/pembicaraan politik ketimbang kajian keilmuan terhadap perkembangan ikut menyumbang ketidakbiasaan menulis itu. Tak aneh jika yang sering muncul bukan kajian/ analisa dan alternatif dari masalah yang berkembang melainkan aksi dan orasi lisan terhadap kasus-kasus yang terjadi.

Karena itu SE Dikti, meski terasa amat terlambat diharapkan akan diterapkan secara ketat sehingga gelar yang disandang para sarjana setakar dengan kemampuan dan daya nalar yang dimilikinya.  Sehinga selain bisa berdampak positif bagi perguruan tinggi  itu sendiri juga akan bermanfaat bagi pejabat pemerintahan,  penerbit media dan tentu juga masyarakat. (*)

Refleksi Haluan Senin 13 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: