Dengan Coklat mengangkat Rakyat

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim Jumat 20 Januari 2012 lalu menerima kunjungan Dr. Teguh Wahyudi Msc, Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Depertemen Pertanian di Jember Jawa Timur di ruang kerjanya. Yang dibicarakan tak lain upaya perluasan dan peningkatan produksi kakao Sumatera Barat yang telah ditetapkan sejak 2006 lampau sebagai daerah pengembangan kakao nasional untuk wilayah baratIndonesia.

Teguh Wahyudi sebelumnya sudah berkeliling Sumatera Barat. Ia menilai perkembangan kakao di daerah ini cukup baik. Selain iklim, kondisi tanah daerah ini cukup subur. Bahkan dinilai lebih baik dari kondisi perkebunan kakao Sulawesi Selatan, daerah pengembangan kakao nasional untuk wilayah timurIndonesia.

Teguh berharap Puslip Koka bisa meningkatkan kerjasama dengan Pemprov Sumatera Barat. Dari semula hanya di bidang pengadaan bibit, kini akan dikembangkan pada upaya peningkatan produksi dan kualitas biji kakao serta industri dan pemasaran kakao. Produksi biji kakao kering Sumatera Barat kini masih sekitar 800 kilogram/ hektare/tahun akan ditingkatkan 1.200 hingga 1.600 kilogram/hektare/tahun.

Produksi biji kering kakao Sumatera Barat sejak 2005 lampau memang mengalami peningkatan yang cukup berarti. Pada tahun 2005 masih 14,068 ton dengan luas kebun 21.139 hektare.  Lima tahun kemudian, tahun 2010 meningkat jadi 49.836 ton dengan luas kebun 84.700 Ha hektare. Ekspor kakao Sumatera Barat pun mengalami kenaikan. Tahun 2005 masih 3.201 ton dengan nilai ekspor  sebesar 3.384.583,14 US$ , tahun 2006 naik 5.653 ton/ US$ 5.653, 400,  tahun 2007 sebanyak 8.111 ton/ US$ 10.717.000,  tahun 2008 sebanyak 12.283 ton/US$ 12.283.000, tahun 2009 menjadi 38.000 ton  US$ 80 juta dengan nilai sekitar US$. 80.000.000

Karena dinilai komit mengembangkan kakao, Pemprov Sumatera Barat diwakili Ir. Fajaruddin Kepala Dinas Perkebunan, pada 23 November 2009 menerima Penghargaan dari Menteri Pertanian RI. Pada 15 Desember 2009 giliran Wakil Presiden memberikan penghargaan kepada kelompok tani kakao yang dinilai paling berhasil, yaitu Kelompok Tani Bunga Rampai dari Kabupaten Padang Pariaman, saat itu di bawah Bupati Muslim Kasim.

Bisa dimengerti jika Wakil Gubernur Muslim Kasim antusias sekali menerima ajakan Teguh Wahyudi. Katanya, bila produksi dan kualitas kakao Sumatera Barat bisa ditingkatkan lagi, tentu kehidupan rakyat bisa lebih sejahtera. Lalu, kita akan kembangkan industri makanan kakao sehingga daerah ini bukan hanya bisa menghasilkan biji tapi juga hasil industri berbahanbakukakao,” katanya.

Tanaman kakao memang jadi salah satu komoditi andalan dalam Gerakan Penyejahteraan Petani (GPP) yang dicanangkan Gubernur/Wakil Gubernur Irwan Prayitno- Muslim Kasim. Dan, dari perkembangan yang ada produksi biji kering kakao dengan harga sekitar Rp 24 ribu/kg cukup membantu pendapatan petani. Namun untuk mencapai produksi 1.200 hingga 1.600 kilogram/ hektare/ tahun sebagaimana diharapkan Teguh Wahyudi ada sejumlah kendala yang perlu diatasi. Antara lain, pelatihan dan pembinaan petani. Sebab, meski kakao sudah dikembangkan di Sumatera Barat sejak 11 tahun silam, masih banyak petani yang memperlakukan tanaman kakao layaknya tanaman tua dan tradisional. Setelah ditanam dibiarkan tumbuh subur tanpa perawatan. Bahkan kala harga kakao turun kebunnya pun ditinggalkan.

Belum banyak petani yang menyadari bahwa kakao adalah tanaman industri. Bibitnya harus pilihan, dahan dan daunya secara berkala harus dipangkas, perlu pemupukan dan penyemprotanhama. Apabila aspek pemeliharaan itu terabaikan, seperti banyak ditemukan di berbagai pelosok nagari hasilnya akan sangat minim dan bahkan mengecewakan. Akibatnya, banyak petani yang sudah menghabiskan tenaga, waktu dan biaya membuka lahan namun hasil yang diperolehnya mengecewakan. Akhirnya, upaya peningkatan kesejahteraan berbalik arah jadi kesengsaraan.

Pengolahan produksi juga masih perlu pembinaan. Kini masih banyak petani yang menjemur biji kakao secara sembarangan, dibiarkan berhujan berpanas. Aatu menumpuknya dalam karung lembab sehingga dimakan bubuk.Akibatnya, kualitas dan harga jualnya sangat rendah. Tak aneh jika banyak negara pengimpor kakaoIndonesiayang komplen dan bahkan mengembalikannya ke pihak eksportir.

Oleh karena itu, untuk mendukung GPP Gubernur dan Wakil Gubernur Irwan Prayiotno-Muslim Kasim perlu meningkatkan koordinasi diantara pejabat instansi terkait termasuk dengan Pemko dan Pemkab se Sumatera Barat. Bahkan instnasi seperti Badan Pemberdayaan Perempuan, juga PKK, semestinya memberdayakan petani khusus  perempuan untuk peningkatan produksi dan kreasi pengolahan makanan berbahanbakukakao. Maklum sebagian besar kebun kakao di nagari-nagari dikelola kaum wanita. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dan gerakan PKK bisa efektif meningkatkan ekonomi perempuan yang sekaligus berimplikasi pada pengentasan kemiskinan.(*)

Refleksi Haluan Selasa 24 Januari 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: