IAIN Dijamah JIL Saat MTQ

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Persis di saat MTQ ke 34 Tingkat Sumatera Barat dibuka Meteri Agama Suryadharma Ali di Pulaupunjung, Dharmasraya, Selasa 22 November 2011 lalu, di  Aula Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol (IB) Padang berlangsung bedah buku berjudul Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia berupa tulisan Dawam Raharjo, Luthfi Assyaukanie, Ulil Abasr Abdallah dan lain-lain yang dikenal sebagai penganjur Jariangan Islam Liberal (JIL). Hebat, memang.

Penyelenggara Komunitas Epistemik (kelompok kecil pemikir) Muslim Indonesia (KEMI) diantaranya  aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, kelompok yang pernah bentrok dengan Forum Pembela Islam  di lapangan Monas, Jakarta, Ahad, 2 Juni 2008.

Pembicara tunggal dalam acara ini, seperti diberitakan Haluan Rabu, 23 November 2011, adalah Abdul Moqsith Ghazali yang dikenal sebagai tokoh JIL, anggota tim penyusun, Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang antara lain membolehkan pernikahan antar agama. Ia menilai  susunan KHI lama banyak mengandung  ketidakadilan. Karena itu ia menyusun KHI baru dengan mengacu pada dalil bahwa  jika tidak ada dalil yang melarang untuk mengubah sesuatu hal, berarti itu merupakan dalil untuk mengubahnya ( membuat dalil baru). ( Republika, Selasa, 5 Oktober 2004)

Sebagaimana diberitakan pemikiran-pemikiran yang dikemukakan Moqsith tampaknya berangkat dari prinsip-prinsip ajaran JIL,  yang melihat dan memahami ajar Islam atas dasar keilmuan dan rasionalitas. Moqsith, sebagaimana dikutip, antara lain menyebutkan bahwa kelemahan umat Islam saat ini selalu mengaitkan apapun dengan masa lalu. Misalnya, perjuangan agama sebagai dasar bernegara. Katanya, menjamurnya gerakan konservatif dalam beragama akan menyebabkan umat mengalami kemunduran karena sifat jumud dalam beragama.

Seperti sudah diduga, pemikiran JIL itu kontan disambut reaksi mahasiswa peserta diskusi. Adikurniawan misalnya menyodok bahwa liberalisasi agama akan menghilangkan sakralitas agama. Islam hanya akan jadi sumber kajian intlektual belaka tanpa diikuti komitmen untuk mengikutinya. Padahal Islam meruapakan ajaran yang sudah komplek bagi kehidupan individu, masyarakat dan negara. Pantas jika Alkhendra, Dekan Fakultas Dakwah, mengingatkan. Katanya, setiap orang boleh saja berpendapat. Tapi jangan sampai menambah kebingungan umat. “Masyarakat kita kini butuh kesejahteraan, terlepas dari kemiskinan, bukan teori-teori yang yang masih mengawang,” ujarnya.

Irfianda Abidin Ketua Komite Penegak Syari’at Islam (KPSI) menyangkan kedatangan  pentalon JIL di IAIN. Katanya, acara tersebut membahas hal yang sangat sensitif. Mestinya KEMI mengundang pemuka Islam dan KPSI, sehingga ada pengimbangan. “Saya berharap para petinggi IAIN IB menjaga perguruan tinggi ini agar tidak dicemari gagasan liberalisme,” katanya.

Menjaga IAIN. Inilah yang sulit dilakukan di IAIN.  Entah merasa berdiri di buminya sendiri, berbagai diskusi dan seminar kalangan JIL terus  berlanjut disana. Akhirnya IAIN bukan hanya dijamah melainkan sudah dirasuki JIL. Buktinya, seorang dosen IAIN dengan pada diskusi 5 Juni 2006 dengan gamblang membawakan makalah berjudul Agama dan Budaya Kekerasan. Ia merujuk sejumlah pandangan barat yang melihat Islam sebagai bahaya, lalu, tanpa beban  menyodok ke arah ajaran Islam.

Adatiga  hal yang selalu dititiupkan oleh penganjur JIL di Ranah Minang. Pertama bahwa di Minangkabau terjadi perampasan kemerdekaan perempaun oleh ninik mamak. Yang diajdikan bukti adalah keikutsertaan ninik mamak menekensurat–suratnikah keponakannya. Padahal ini berkaitan dengan pengakuan terghadap sako jo pusako.

Kedua, orang minang mengajrkan kekerasan permanen. Ia menyebut bukti pepatah “sayang jo anak dilacuti, sayang jo kampuang di tinggakan”. Padahal, bahasa Minang selalu bermakna ganda. Lecut dis itu bermakna ingatkan.

Ketiga, Islam mengajarkan kekerasan. Yang ditunjuk sebagai bukti adalah hadits yang mengatakan apabila anak-anakmu sudah berusia tujuh tahun belum sholat maka lecuti dia agar sholat. Padahal kata itu bermakna agar dibimbing dan diingatkan, bukan dipukuli layaknya mengajari binatang.

Bahkan Gubernur Gamawan juga pernah disodok Siti Musdah Mulia, tokoh JIL di Metro TV persis sebulan setelah diskusi IAIN itu. Gamawan dipersoalakan karena saat Bupati Solok memberlakukan Perda Wajib Baca tulis Alquran dan pakaian seragam muslim karena berbau syariat Islam. Tapi ketika Gamawana balik menyoal kenapa Musda yang menantang syariat Islam tak melepas saja jilbab dan berbaju pendek biar kelihatan pusarnya, Mursida terdiam.

Mantan Rektor IAIN, Maidir Harun juga menunjukkan sikap liberalnya saat dialog tungku tigo sajarangan di gubernuran 26 Juli 2006. Dengan berani ia menyebutkan bahwa pemberian nama-nama islami pada anak-anak muslim (sebagaimana dianjurkan Nabi Muhammad SAW-pen) merupakan arabnisasi dan anti globalisasi. Tak aneh jika pemilihan Rektor IAIN Senin, 19 Desember dan berulang 29 Desember 2005, dianggap dirasuki kepentingan liberaliasi Islam. Akibatnya, kemenangan Prof. Dr. Nasrun Haroen  yang Muhammadiyah atas lawannya  Dr. Maidir Harun kemudian dianulir  Menteri Agama. Dan, seru deru tuntutan agar IAIN menjadi UIN juga tak terlepas dari upaya menjungkirkan balikkan dari Islam sebagai basis dan subjek studi  menjadi Islam sebagai objek studi belaka

Karena itu banyak yang menduga begitu terjadi pergantian kepemimpinan di IAIN aktivitas kelompok JIL di IAIN akan semakin mendapat tempat. Dugaan itu seperti ada benarnya. Karena itu kini tinggal pada mahasiswa dan dosen serta pejabat yang ada. Akankah penyebaran pemikiran JIL  akan terus mendapat tempat di IAIN IB?

Jawabannya tergantung integritas  dan kesetiaan civitas akademika IAIN pada visi dan misi IAIN itu. Yaitu (visi) pengembangan ilmu, pemantapan akidah, pembinaan moral, pengembangan wawasan islami yang menghasilkan lulusan yang berwibawa dalam ilmu, moral, dan iman serta mampu merespon kebutuhan masyarakat bangsa dan negara. Dan misinya : meningkatkan kualitas pengajaran, penelitian dan pengabdian sehingga tercapai kualitas prima sebagaimana yang diinginkan masyarakat. Yaitu membangun wawasan saintifik, filosofis, moral dan teologi islami sebagai landasan aktualisasi keyakinan ilmiah dan imani antara agama, masyarakat dan negara. Memantapkan budaya ilmiyah, iman dan taqwa dan budaya kesalehan kedalam/keluar lingkungannya. (*)

Refleksi Haluan Jumat 25 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: