Intonasi Tonase

Oleh Fachrul Rasyid HF

Semua orang pasti senang kalau jalan raya pada mulus. Maklum, hanya di jalan mulus  terasa nikmat berkendaraan, waktu tempuh lebih cepat, biaya lebih murah, kehidupan sosial, ekonomi dan politik ikut membaik. Harga diri warga dan kepala daerah pun ikut terangkat. Tapi kalau jalan jelek,  lalulintas tak lancar, tak terasa nikmat berkendaraan, waktu tempuh makin panjang, biaya jadi mahal, rentan kecelakaan dan kesukan kendaraan. Harga barang ikut naik. Sementara warga serta kepala daerah setempat ikut diejek. Artinya, memelihara jalan tentu lebih baik ketimbang merusaknya.

Tapi kenapa intonasi tanggapan terhadap Surat Edaran Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno No. 551.23/291/ Perekonomian -2011, Tentang Pengawasan dan Penertiban Muatan (tonase) Kendaraan di Perbatasan Provinsi Sumatera Barat tanggal 13 April 2011, banyak yang bernada sumbang? Bahkan diantaranya ada yang menyoal berdasarkan teori-teori pengambilan keputusan. Seolah  suratedaran itu, secara teknis, ekonomis, politis maupun pisikologis dicap tak tepat.

Padahal, Surat Edaran Gubernur merupakan salah satu upaya pemeliharaan jalan dan memperpanjang usia kenikmatan berkendaran. Sebab, konstruksi  jalan diIndonesia, sesuai dengan kemampuan keuangan, direncanakan hanya untuk masa pakai sepuluh tahun. Dalam rentang waktulimatahun dilakukan perbaikan pemeliharaan. Jika jalan lebih cepat rusak ketimbang jadwal perbaikan dan rekonstruksi tentulah masyarakat akan lebih lama terjerat jalan rusak ketimbang menikmati jalan mulus.

Sebetulnya, dilihat dari aspek hukum, Surat Edaran Gubernur Irwan Prayino itu bukan hal baru. Sekitar 18 tahun silam sudah ada PP No. 43 Tahun 1993 sebagai tindak lanjut dari UU No.12 Yahun 1992 Tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan yang mengatur pembatasan muatan kendaran angkutan. Teknis pelaksanaannya kemudian diatur Kepmenhub No. 69 Tahun 1993 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Barang di Jalan. Belakangan semua ketentuan di atas dikukuhkan menjadi pasal-pasal UU No. 20 Tahun 2009 Tentang Lalulintas Angkutan Jalan. 

Pasal 19 ayat (2) UU No. 20 Tahun 2009 menjelaskan (a). jalan kelas I, jalan arteri dan kolektor dapat dilalui kendaraan bermotor lebar tak lebih 2,5 meter, pajang 18 meter, tinggi 4.2 meter, dan muatan sumbu terberat  (MST) 10 ton; (b) jalan kelas II, jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan dapat dilalui kendaraan bermotor lebar tak lebih 2,5 meter, panjang 12 meter, tinggi 4.2 meter, dan MST 8 ton; (c) jalan kelas III, jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan dapat dilalui kendaraan bermotor lebar 2,1 meter, panjang tak lebih 9 meter, tinggi 3,5 meter, dan MST kurang 8 ton (d) jalan kelas khusus, jalan arteri yang dilalui kendaraan bermotor lebar 2,5 meter, panjang 18 eter, tinggi 4,2 meter, dan MST 10 ton.

Dari uraian di atas Surat Edaran Gubernur pada prinsipnya hanya sebagai tindak lanjut dari PP No.43 Tahun 1993 dan UU No. 20 Tahun 2009. Pembatasan muatan yang diberlakukan pun sejalan dengan UU tersebut. Disebutkan bahwa maksimal muatan dan jumlah berat izin (JBI= berat kendaraan ditambah muatan) untuk truk engkel bermuatan 4,650 ton dengan JBI 8,250 ton, kendaraan engkel muatan 7,150 ton dengan JBI 13.300 ton, kendaraan tronton 12 ton dengan JBI 20.950 ton.  Artinya, maksimal muatan truk hanya sekitar 8 ton. Dan itu setara dengan daya dukung jalan kelas III A yang ada di Sumatera, termasuk Sumatera Barat. Karena itu pada 16 Februari 2011 lampau seluruh Kepala Dinas Perhubungan provinsi se-Sumatera sepakat memberlakukan MST 8 ton.

Untuk diketahui ketentuan MST berlaku di seluruh dunia, sesuai dengan teknologi konstruksi dan kondisi jalan di tiap negara. Negara-negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa yang berteknologi maju justru memperbelakukan MST 13 ton. Jerman malah  memberlakukan MST 11 ton dan Italia 12 ton.Denmarksama denganIndonesia, memberlakukan MST 10 ton. Satu-satunya negara yang muatan angkutannya tanpa batas adalah Emirat Arab.

Namun demikian, pemberlakukan UU No. 20 Tahun 2009 kemudian diikuti Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur, Surat Edaran Gubernur dan sebagainya di tiap daerah, tidak akan efektif mengendalikan muatan kendaraan angkutan selama pengawasan hanya dilakukan di jalan raya. Jika mau lebih efektif seharusnya melibatkan pengusaha angkutan, perusahaan keroseri dan dealer kendaraan angkutan. Sehingga, mereka juga berusaha menyesuaikan diri dengan UU dan ketentuan yang berlaku serta kondisi dan kelas jalan daerah pemasarannya.

Dengan demikian pengusaha angkutan, misalnya dari Pulau Jawa, tak lagi mengoperasikan kendaraan yang melebihi ketentuan di Pulau Sumatera. Pengusaha keroseri jangan lagi mau menambah panjang chasis dan memperpanjang bak truk, kemudian dealer kendaran pun tak lagi menyediakan truk yang tak sejalan dengan  ketentuan yang berlaku dan kelas jalan yang ada.

Selama pengendalian muatan kendaraan angkutan hanya dilakukan di jalan raya, Surat Edaran Gubernur termasuk UU No. 22 Tahun 2009 itu diragukan akan berlaku efektif. Seperti selama ini, praktek kucing-kucingan antara petugas, pengusaha dan pengemudi truk sulit dielakkan. Bahkan, bukan mustahil UU dan Surat Edaran Gubernur dijadikan “senjata” penggertak di lapangan. Akibatnya, masyarakat takkan pernah lama menikmati hasil pembangunan jalan yang berbiaya mahal itu. Selanjutnya, kalau jalan selalu buruk kewibawaan pemerintah di mata rakyat pun tak akan pernah membaik.

Selain itu, pengawasan, pembinaan sikap dan integritas serta insentif petugas yang berada di lapangan juga perlu ditingkatkan. Jika tidak, negeri ini tetap saja seperti kebun tak berpagar dan sapi lepas tak bertali.(*)

Komentar Singgalang Senin 24 Oktober 2011

Satu Balasan ke Intonasi Tonase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: