Mengenang Angku Ed

Fotografer kelas dunia dari Koto Gadang    

Oleh  Fachrul Rasyid HF.

Seorang lagi wartawan senior asal Sumatera Barat berpulang kerahmatullah. Dia adalah Ed Zoelverdi, meninggal di rumahnya Jalan Mirah Delima II No 5, Sumurbatu, Jakarta Pusat sekitar pukul 02.00 dinihari Rabu 4 Januari 2011.  Hampir sebulan sebelumnya ia dirawat di RS Harapan Kita karena menderita radang paru-paru. Almarhum dimakamkan usai shalat zhuhur hari itu juga  di TPU Kemiri, Rawamangun,Jakarta. Sejumlah pemuka masyarakat Minang di Jakarta, kalangan wartawan, dan seniman film mengantar jenazahnya ke peristirahatan terakhir.

Ed Zoelverdi yang akrab disapa Bang Ed, lahir di Kutaraja, kini Banda Aceh, 12 Maret 1943 adalah putera asli Koto Gadang, Kabupaten Agam. Di kalangan sejawatnya ia dikenal dengan panggilan Mat Kodak, nama buku karangannya Mat Kodak, Melihat Untuk Berjuta Mata (1985). Ed Zoelverdi memang fotogarfer handal. Tahun 1984 bersama 40 fotografer dari Eropa, Amerika dan Asia yang disebut Tim Fotografer Dunia, mengerjakan foto untuk buku Salute to Singapure, esei fotografi untuk memperingatai 25 tahun konstitusi negara pulau tersebut.

Ed Zoelverdi yang sepanjang hayatnya selalu mengenakan safari tangan panjang berwarna gelap dengan kantong ballpen khusus di lengan kirinya kemana-kemana selalu menenteng tas berisi kamera, memulai karirnya di dunia jurnalistik selepas bekerja sebagai pegawai sekretariat perusahaan pelayaran Djakarta Lloyd Jakarta (1621963)  kemudian jadi pembantu lepas untuk gambar pena di harian Duta Revolusi dan Mungguan Abad Muslimin Jakarta (1965 -1966). Setahun kemudian jadi karikaturis di Harian KAMI sembari menulis, memotret dan mengasuh kolom khusus “Jangan Dilewatkan” berbarengan mempersipakan Majalah Ekspres (1967 -171).

Nama Ed Zoelverdi kian dikenal kala bergabung dengan majalah Tempo (1971-1994). Di Majalah Tempo, Ed dipercaya sebagai editor foto, di samping menulis untuk rubrik,kota/ daerah, dan Indonesiana; berita unik dan lucu. Setelah Tempo dibredel (14 Juni 1994) Ed, bergabung dengan Majalah Berita Mingguan GATRA untuk posisi sebagai redaktur foto dan menulis beberapa rubrik, termasuk Gatrasiana; berita unik dan lucu versi GATRA. Maklum, Ed yang kelihatan selalu serius dan kalem adalah sosok yang kaya humor dan bicara kocak.

Setelah pensiun di GATRA, kemudian dikontrak lagi, Ed mengajar sebagai dosen luar biasa mata kuliah Dasar-dasar Fotografi, Jurnalisme Foto, dan Menulis Artikel Opini di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UniversitasIndonesia.

Meski Ed Zoelverdi lahir dan besar di perantauan dan diakui sebagai guru dan inspirator fotografer, kalau bertemu orang awak selalu berbicara dalam dialek Agam. Menyapa orang awak sebayanya selalu menggunakan kata angku, mantun, ano, layaknya orang Bukittinggi. Sejak 1983 ia sering pulang kePadang mengajari wartawan Sumatera Barat bagaimana memotret yang benar dan bagus.

Salah satu trik memotret yang diajarkan teman akrab almarhum Kamardi Rais Dt. P. Simulie, mantan Ketua PWI Sumatera Barat, ini adalah menggunakan kamera tanpa lampu sehingga mampu merekam suasana objek foto. Sampai 1995 saat kamera digintal mulai mewarnai dunia fotografer Ed masih saja menggunakan kamera manual. Karena itu kepergian Ed membuat wartawan Sumatera Barat kehilangan guru kebanggaannya.

Saya kenal dan akrab dengan Ed Zoelverdi sejak 1983, dua tahun setelah saya bergabung dengan Majalah Tempo sampai kemudian sama-sama pensiun di Majalah GATRA. Setiap pulang kePadangsaya selalu mendampaimngi perjalan Ed misalnya bertemu dengan teman akrabnya Ir. Yanuar Muin, mantan Kepala PLN Pakitring Sumbar-Riau, Walikota Sjahrul Udjud dan Aristo Munandar.

Salah satu yang menjadi catatan saya tentang Bang Ed adalah kecintaannya pada Minangkabau. Instruk Lembaga Pendidikan Jurnalistik Dr. Sutomo ini  misalnya disamping pernah menerbitkan Kamuiah (Kamus Bahasa Minang)  ia juga menerbitkan buku Esei Foto Minangkabau tahun 1991 bersama beberapa teman (termasuk saya). Kedua buku ini diterbitkan Yayasan Gebu Minang. Yang paling mengesankan, baik saat sama-sama di Majalah Tempo maupun kala di Majalah GATRA, adalah perjuangannya mengangkat kata-kata bahasa Minang ke dalam kedua majalah bergengsi itu. Antara lain misalnya, ciloteh, gaek, bersilemak, kerumuak-kerumuak, ranah, dan sebagainya. Baginya, bahasa Minang bisa lebih terangkat kalau para penulis membiasakan penggunaan kata itu sampai akhirnya diterima khalayak.

Kini Bang Ed sudah tiada. Ilmu dan jasanya bagi Minagkabau dan wartawan diIndonesiadan khususnya Sumatera Barat takkan terlupakan. Sejumlah karya foto dan tulisannya serta kekayaannya berupa buku-buku yang dulu memenuhi rumahnya akan dihadiahkan bagi Sumatera Barat. Sebuah perpustakaan bernama Ed Zoleverdi akan didirikan di Padangpanjang. Meski ia berasal dari Koto Gadang Kabupaten Agam, kabarnya Walikota Padangpanjang Dr. Suir Syam sudah menyediakan sebidang tanah untuk perpustakaan itu. Mudah-mudahan generasi muda Minangkabau bisa menimba ilmu dan pengetahuan Ed Zoelverdi lewat perpustakaan itu nanti. (*)

inmemorium Singgalang 4 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: