Polemik Konversi IAIN ke UIN

Oleh Fachrul Rasyid HF

Rektor IAIN Imam Bonjol (IB), Prof. Dr. Makmur Syarif,  boleh saja menyatakan rencana perubahan IAIN jadi UIN sudah harga mati karena didukung senat guru besar. Tapi  penolakan yang disuarakan Ormas-ormas Islam se Sumtera Barat dalam pertemuan di Islamic Centre Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Air Tawar Padang, Ahad 1 Februari lalu, seperti ditulis Adi Bermasa, alumni IAIN,  dalam tulisan berjudul Tidak Setuju dengan UIN (Opini Singgalang 3 Februari 2012) patut didengarkan.

Sebab, keberadaan IAIN di Sumatera Barat bukan titik bak hujan dan hinggap bak lalat. Menurut Prof  Nur Anas Djamil, guru besar UNP, mantan DPW Muhamadiyah Sumatera Barat  salah seorang perintis/ pendiri  IAIN sekitar 1960-an, IAIN IB didirikan atas keinginan masyarakat dan ulama Minangkabau untuk kelanjutan pendidikan madrasah yang tersebar di Sumtaera Barat guna mendalami ilmu agama dan mencetak kader  ulama. Jadi, IAIN dikhususkan untuk bidang agama karena bidang studi lain sudah dilaksnakan Unand dan IKIP yang juga didirikan oleh masyarakat.

Karena itulah Fakultas-fakultas di IAIN kemudian didirikan di Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar, Padangpanjang mengikuti potensi madrasah yang ada didaerah tersebut. Masyarakat dan pemda setempat pun menyediakan tanah bagi pembangunan kampusnya. Jika kini IAIN mau diubah jadi UIN yang terbuka bagi bidang studi umum dan terbuka bagi calon mahasiswa non muslim, berarti misi dan visi IAIN akan lenyap. Dengan UIN perguruan tinggi Islam itu hanya akan jadi universitas berlabel Islam. Nur Anas menghimbau, biarlah IAIN lain berubah jadi UIN tapi IAIN IB jangan. Biarkan  IAIN di sini tetap IAIN.

Tulisan Adi Bermasa direspon Riwayat, mahasiswa S3 Pendidikasn Islam IAIN Imam Bonjol dengan tulisan bertajuk Koversi IAIN Menjadi UIN (Opini Singgalang 6 Febrauri 2012). Menurut Riwayat, konversi IAIN ke UIN tak akan meninggalkan visi dan misi IAIN. Mengutip Abudin Nata ( Gru Besar UIN Jkt- pen), Riwayat menyebut limaalasan kenapa IAIN perlu jadi UIN. Pertama perubahan Madrasah Aliyah dari dulu sekolah agama kini sekolah umum bernuansa agama. Kedua, adanya dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Ketiga, memberi peluang lebih luas kepada lulusan UIN memasuki lapangan kerja. Keempat, untuk memberikan peluang kepada lulusannya melakukan mobilitas memasuki ruang gerak lebih luas. Kelima, untuk memberikan pelayanan penyelenggaraan pendidikan yang profesional dan berkualitas. Tulisan Riwayat selanjutnya lebih pada argumentasi darilimaalasan tersebut.

Saya melihat apa yang dikemukan Nur Anas dan respon ormas-ormas Islam itu (sayang, tak sepnuhnya dikutip Adi Bermasa) membuktikan bahwa kehadiran dan keberadaan  IAIN IB secara historical dan emosional terikat dengan umat Islam Sumatera Barat.  Artinya, IAIN lahir dari rahim umat Islam Sumatera Barat, bukan dari rahim Departemen Agama. Nur Anas dikuatkan sejarah perguruan tinggi Islam di Indonesia. Bahwa perguruan tinggi Islam cikal bakal IAIN sudah dirintis para ulama dan tokoh pendidikan Sumatera Barat sejak zaman penjajahan. Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) diPadang  sudah mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI)limatahun sebelum  kemerdekaan. Namun hanya berusia dua tahun (1940-1942) karena ditutup pemerintahan Jepang.

Toh, semangat umat Islam untuk mendirikan pendidikan tinggi Islam bagi kaum muslim mayoritas pendudukIndonesia, tak kendor. Atas izin Jepang kemudian tokoh –tokoh muslim mendirikan sebuah yayasan diketuai Muhammad Hatta dan sekretaris  Muhammad Natsir. Pada 8 Juli 1945  yayasan ini mendirikan STI di Jakarta dipimpin Abdul Kahar Mudzakkir.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga fungsional Departemen Agama, Fakultas Agama UII dipisahkan dan dikukuhkan jadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) tiga jurusan, yaitu Jurusan Tarbiyah, Jurusan Qadla (Syari’ah) dan Jurusan Dakwah, dipimpin KH. Muhammad Adnan. Tujuannya adalah memberikan pengajaran studi Islam tingkat tinggi dan jadi pusat pengembangan serta pendalaman ilmu pengetahuan agama Islam. Dari sinilah kemudian STI yang ada ditingkatkan jadi IAIN. Karena itu terasa sangat arogan dan lancang kala Rektor IAIN tanpa mencoba mendengar aspirasi umat Islam menyatakan perubahan IAIN ke UIN sebagai sudah harga mati.

Belajar dari UIN yang ada.

Alasan konversi IAIN ke UIN seperti kemukakan Riwayat, tentulah baru berupa harapan. Sedang reliatanya masih berbicara lain. IAIN Syarif Hidayatullah misalnya yang pertama dikonversi jadi UIN sejak 1 Juni 2002, kemudian diikutilimaIAIN lain,Malang,Bandung, Makasar,Surabayadan Pekanbaru, sampai hari ini masih mencari bentuk. Dari tahun ke tahun kurikulumnya terus direvisi dan diubah. Bisa dibayangkan jika IAIN IB berubah jadi UIN, tenaga pengajar bidang studi misalnya ilmu ekonomi, pertanian, peternakan, kedokteran, matematik, dan sebagainya, tentulah akan didatangkan dari luar IAIN.  Selain jumlahnya terbatas, biayanya akan sangat mahal dan itu akan berimplikasi pada kelancaran perkuliahan dan beban biaya mahasiswa. Mengandalkan dosen IAIN IB sendiri, tentulah tak mungkin. Inilah kini yang dialami seluruh UIN yang ada.

Tapi bukan hanya itu.  Yang lebih dicemaskan umat Islam Sumatera Barat justru adanya skenario besar di balik rencana konversi IAIN IB jadi UIN yang kelihatannya belum dilihat dan tak disadari oleh Riwayat dan koleganya di Kampus IAIN IB. Ini, meminjam istilah Rektor Makmur Syarif, bukan sebuah kecurigaan tapi fakta nyata. Perubahan Madrasah Aliyah dari dulu sekolah agama kini sekolah umum bernuansa agama dan adanya dikotomi ilmu agama dan ilmu umum sebagai alasan perubahan IAIN jadi UIN seperti disebutkan Riwayat, adalah aplikasi bagian skenario besar itu.

Coba lacak lagi  sejarah berdirinya madrasah aliyah 1967 lampau. Semula bernama Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN) 65% mengajar bidang-bidang ilmu agama. Lalu berubah jadi MAIN belakangan berubah jadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) tanpa lagi menyertakan Islam. Begitu juga dengan Tsanawiyah Negeri. Padahal MAN, hanyalah bahasa Arab dari Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN). Kini setelah sukses memuluskan MAAIN jadi MAN, otomatis akan memaksa IAIN menyesuaikan diri menerima calon mahasiswa pola MAN. Padahal mestinya MAAIN diperkuat sehingga alumninya bisa masuk ke perguruan tinggi mananpun sebagaimana generasi tahun 1970 hingga 1990-an silam.

Dengan perubahan madrasah aliyah dan kemudian diikuti perubahan IAIN sama artinya mengubah lembaga pendidikan Islam jadi perguruan tinggi umum. Di situ Islam bukan lagi jadi subjek/basis studi melain jadi objek studi sehingga konsep wahyu memandu ilmu berubah jadi ilmu memandu wahyu. Pengajaran studi Islam hanya sebagai pengetahuan, bukan sebagai pendidikan nilai-nilai dan amalan. Itu sebabnya kenapa meski beragama dan berpengatahuan Islam, orang tak beramal dan berprilaku/berbudaya islami. Dengan cara itu sukseslah gerakan dari upaya mengganti agama umat Islam jadi mengubah pemikiran orang Islam terhadap Islam itu sendiri. Inilah skenario besar yang sedang dimainkan melalui lembaga pendidikan Islam dari tingkat menengah hinggaperguruan tinggi.

Jangan heran bila di UIN Jakarta diajarkan mata kuliah Kajian Orientalisme terhadap Al-Quran dan Hadits pada Program Studi Tafsir Hadits semester VIII Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Tujuannya, agar mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan kajian orientalis terhadap Al-Quran dan hadits. Refrensi kurikulum ini adalah buku para ortentalis, diantaranya Rethingking Islam karya Mohammed Arkoun,  Studies in Early Muslim Jurisprudence’  karya Norman Calder, The Event of the Quran: Islam in Its Scripture buku Kenneth Cragg, Qur’an Liberalism and Pluralism: an Islamic Perspective of Interreligious Solidarity againts Oppression karya Farid Essac.

Dari sinilah kemudian muncul di UIN dan IAIN pemikiran desakralisasi Alqur’an yang menolak kebenaran Alquran sebagai wahyu, Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul, mengajarkan relativisme kebenaran (tak ada kebenaran mutlak) dan liberalisasi Al-Qur’an, penafisran Alquran mengikuti logika pikiran seperti yang dilakukan terhadap Bible.

Maka, sebelum terlanjur terjerumus pada keinginan yang belum teruji agaknya Riwayat dan guru besar di IAIN pantas membaca ulang pernyataan Menag, kala itu,  HM Maftuh Basyuni saat Rapat Dengar Pendapat dengan DPD RI di Gedung DPD/MPR RI Jakarta 6 Juli 2006. Katanya, perkembangan enam UIN yang ada ternyata kurang baik. UIN terbukti semakin menyingkirkan fakultas agama yang ada  dan lebih menonjolkan fakukltas umum. Padahal fakultas umum sudah ditangani universitas besar seperti UI, UGM, IPB, ITB, ITS, Unair, Unibraw, Undip, dan lain-lain.

Menurut Menag, kenyataan ini akan berdampak buruk bagi UIN maupun IAIN. Karena itu ia berjanji tidak akan membuka lagi UIN baru dan akan meninjau ulang semua kurikulum UIN. Ia lebih suka mempertahan IAIN yang ada karena didirkan untuk tujuan agar menghasilkan mahasiswa yang unggul dalam pengetahuan agama sehingga menjadi tokoh-tokoh agama. (*)

Opini Singgalang 13 Februari 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: