Tol Masa Depan Ekonomi Sumbar

Oleh Fachrul Rasyid HF

Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar Irwan Prayitno – Muslim Kasim (MK) bersukacita. Rencana pembangunan jalan tol Padang- Pekanbaru, seperti diberitakan media Jumat ( 27/01/12) segera akan direalisasikan. Menurut Gubernur Irwan ia sudah dihubungi  Meneg BUMN Dahlan Iskan membicarakan pendirian PT. Jasa Marga Sumbar, perusahaan milik bersama Pemerintah dan Pemprov Sumbar pengelola jalan tol itu nanti.

Kegembiaran Gubernur /Wakil Gubernur Sumbar Irwan MK bisa dimaklumi karena jalan tol itu merupakan salah satu gerbang ekonomi masa depan Sumbar. Sebab, sebagaimana selama ini jalur Padang-Pekanbaru merupakan jalur terpadat angkutan barang dan penumpang. Hasil penelitian Dinas Prasja dan Tarkim tahun 2002 silam bisa jadi bukti. Di hari-hari biasa sekitar 6.800 unit kendaraan dan di hari libur sekitar 1.350 unit kendaraan melintasi di jalan Bukittinggi lewat Kelok Sembilan ke Pekanbaru.  Sekitar 28,5 juta ton barang  dan lebih dari 50% adalah hasil pertanian peternakan, dan sekitar 15,8 juta orang setahun melintas di sana.

Pembangunan  jalan dan jembatan layang Kelok Sembilan dimulai sejak 2005 silam , jauh sebelum muncul rencana jalan tol tersebut, justru dimaksudkan untuk mengantisipasi peningkatan arus barang dan penumpang dari Sumbar ke arah timur itu. Kini diperkirakan lebih 2.000 kendaraan tiap hari melintasi jalan Bukittinggi-Pekanbaru. Sekitar 2 juta orang dan sekitar 30 juta ton barang diangkut tiap tahun melintasi jalur ini.

Melihat perkembangannya, peningkatan jalan yang ada, termasuk pembangunan jembatan layang Kelok Sembilan, tentulah takkan memadai lagi sepuluh tahun ke depan. Apalagi Sumbar terus mengalami kemjuan di bidang pertanian tanaman pangan, perikanan, peternakan, industri makanan, kerajinan,  pendidikan, pelayanan rumah sakit dan pariwisata. Pasar terdekat bagi semua itu, sebagaimaa selama ini, adalah Provinsi Riau yang pertumbuhan ekonomi Riau dan peningkatan jumlah penduduknya cukup pesat.

Ketika pada saatnya Gerakan Penyejahteraan Petani (GPP) yang dicanangkan Gubernur/Wakil Gubernur Irwan -MK memenuhi harapan tentulah hasil pertanian, peternakan, perikanan laut/darat buah GPP itu tentulah akan melimpah.  Jalan tol itu akan sangat berarti bagi peningkatan dan pecepatan pemasaran produk Sumbar ke daerah sepanjang pantai Selat Melaka sebagai  kawasan perdagangan internasional. Maka, di saat itu, jalan tol ini  jelas bak pucuk dicinta ulam tiba.

Sebetulnya, jalan tol ini merupakan bagian dari jalan tol Lintas Sumatera yang membentang dari Bakahuni di Lampung menelusuri pantai timur sampai di Banda Aceh yang telah direncakan sejak tahun 2007 silam. Studi kelayakannya dikerjakan sebuah perusahaan konsultan Korea Selatan rampung Agustus 2009 lalu. Jalan tolPadang- Pekanbaru- Dumai sepanjang 600 km hanyalah salah satu jari-jari jalan tol Lintas Sumatera yang akan menghubungan pantai barat dan timur Sumatera. Jari-jari tol yang lain adalah dari Sibolga ke Medan dan dari Tanjung Enim ke Palembang.

Kepastian rencana itu ditegaskan lagi dalam rapat kerja Gubernur se-Sumatera di Batam 21 Desember 2009 lalu. Sehingga, rapat kerja tersebut langsung merekomendasikan bahwa gubernur yang daerahnya akan dilalui jalan tol ini  segera membebaskan lahan yang diperlukan. Menteri Pekerjaan Umum kemudian menerbitkan SK No. 631/KPTS/M/ 2009 tanggal 31 Desember 2009 tentang rencana jalan tol ini lengkap dengan peta serta kota-kota yang akan dilewati. SK tersebut diterima Dinas Parasarana Jalan Tataruang dan Pemukiman (Prasja Tarkim) Sumbar 18 Maret 2010.

Namun menurut  Ir. Suprapto Kepala Dinas Prasja Tarkim Sumbar, dari 1.000 km jalan tol yang diprogramkan pemerintah, yang akan dibangun di Sumbar sementara adalah ruas jalan Padang-Bukittinggi 54 km dan Bukittinggi-Pekanbaru 166 km. Artinya, masih tersisa beberapa ruas antara Padang- Bukittingi- Payakumbuh dan Payakumbuh – Pekanbaru. Dan, asebagai jalur utama arah pantai timur Sumatera  jalan tol itu semakin mengukuhkan bahwa  ekonomi Sumbar akan terus berkiblat ke timur.

Karena berkiblat ke timur itu pula, Pemprov Sumbar melalui Dinas Prasja Tarkim telah membangun jalur kedua ke Riau, yaitu ruas jalan Rao, Kecamatan Rao Mapattunggul, Kabupaten Pasaman. Jalan ini hanya 30 kilometer dari Rao ke perbatasan Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Jika Pemprov Riau merampungkan kelanjutan ruas jalan itu maka kendaraan dari Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat,  bisa langsung ke Rokan, Pasir Pengarayan, Duri sampai ke Kota Dumai  atau Bagan Siapi-api di pinggir Selat Melaka. Jalur ini jauh lebih dekat ketimbang Bukittinggi- Pekanbau-Duri-Dumai.

Pembangunan jalan Rao-Rokan jelas akan berimplikasi tumbuhnya Panti atau Rao di ujung Kabupaten Pasaman berkembang jadikotaperdagangan. Maklum, hasil bumi seperti beras, ikan air tawar, kakao, kopi minyak sawit, ikan laut, dan minyak nilam  dari Pasaman dan saudara kembarnya Pasaman Barat di bibir Samudera Hindia akan dengan mudah bisa dipasarkan di daerah jalur perdagangan Selat Melaka.

Tak cuma itu. Jalur Rao- Rokan juga akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi rakyat dua daerah tetangganya, Kabupaten Mandahiling Natal (Madina) yang berada di Pantai Barat Sumatera dan Kabupaten Tapanuli Selatan di pedalam bagian tenggara Sumatera Utara. Hasil kedua daerah yang terpencil sejauh 500 km dari Medan, ibukota Sumatera Utara, itu  seperti ikan laut, karet, sawit, kopi dan beras juga semakin mudah dipasarkan  ke pantai timur Sumatera.

Jalur ketiga adalah ruas jalan ateri pirmer dari Kiliran Jao, Kabupaten Sijunjung ke batas Riau menuju Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singinggi. Jalan ini menghubungkan Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera. Bagi Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Solok Selatan bahkan Kabupaten Pesisir Selatan, ruas jalan ini akan sangat berati. Sebab, Solok Selatan dan Pesisir Selatan yang terentang sepanjang 230 kilomter di Pantai Selatan Sumbar selama ini nyaris bak daun telinga. Meski berdekatan tapi tak pernah bisa bertemu lantaran tak punya jalan penghubung satu sama lain.

Solok Selatan terentang sepanjang jalan provinsi sejauh 165 kilomter, hanya jadi lintasan angkutan dari Padangatau Solok ke Kabupaten Kerinci, Jambi. Solok Selatan tak bisa keluar ke arah utara atau timur ke Kabupaten Dharmasraya karena belum rampungnya jalan sepanjang 328 kilomter yang direncakan sejak 1992 silam. Arah ke selatan Solok Selatan dipagar hutan lindung Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). TNKS pula yang mengganjal rencana pembangunan jalan dari Muaralabuh- Kambang Kabupaten Pesisir Selatan sepanjang 60 kilometer yang telah direncakan sejak 1994 silam.

Padahal kalau ruas jalan itu rampung, produksi ikan laut dan beras yang melimpah di Pesisir Selatan bisa dipasarkan sampai ke Jambi dan Riau lewat Solok Selatan. Sebaliknya, produksi perkebunan dan pertambangan dari Dharmasraya bisa diangkut lewat Solok Selatan ke Pelabuhan Teluk Bayur, 200 kilomter lebih dekat ketimbang ke Padang lewat jalan Lintas Tengah Sumatera.

Solok Selatan sendiri punya 80 ribu hektare sawit dan 30 ribu hektare teh disamping hasil tanaman perkebunan tradisional: karet, kopi, kayu manis, pala, nilam, beras dan kemiri. Bahan tambang seperti biji besi, batubara dan timah putih, sebagian sudah dieksploitasi. Malah kini PLN sedang mempersiapkan pembangkit listrik panas bumi berkuatan 230 megawatt di kaki utara Gunung Kerinci, cukup menutupi kekurangan tenaga listrik di Sumbar. Begitupun, sembari menunggu realisasi Jalan Kambang- Muara Labuh, Dinas Prasja dan Tarkim Sumbar secara bertahap memanfaatkan dana APBD membuka ruas jalan Padang Aro, ibukabupaten Solok Selatan – Lubuk Malako, Abay-Pulau Punjung ibukabupaten Dharmasraya. Bila jalan Alahan Panjang – Kiliran Jao rampung, Solok Selatan bisa lebih dekat ke Riau dan Pantai Timur

Jalur keempat adalah Solok-Dharmasraya- Provinsi Jambi. Meski sebagian besar merupakan jalan Lintas Tengah Sumatera ruas jalan ini adalah urat nadi ekonomi Kabupaten Solok, Solok Selatan, Sinjunjung dan Dharmasraya ke Riau via kiliran Jao atau ke Provinsi Jambi. Maka, untuk mempercepat pertumbuhan Dharmasraya dan daerah sekitarnya Dinas Prasja Tarkim membangun dan meningkatkan kualitas jaringan jalan ateri primer dan jalan kolektor di kawasan itu.

Mulai jalan lingkar Pulau Punjung untuk pengembangan iukabupaten, lalu, membuka jalan Alahan Panjang- Kiliran Jao menyambung dengan pembukaan jalan Alahan Panjang- Pasar Baru, Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan. Dharmasraya juga akan terbuka ke Solok Selatan bila jalan Padang Aro,– Lubuk Malako, Abay-Pulau Punjung rampung bersamaan jalan Kiliran Jao- Padang Laweh- Sungai Rumbai.

Tuntuan perlunya ruas jalan-jalan tersebut kini kian terasa. Maklum, Kabupaten Dharmasraya, 2.961,13 kilomtere persegi, 4 kecamatan, berpenduduk 170. 440 jiwa, sejak dimekarkan dari Kabupaten Sawahlunto Sijunjung Januari 2004 mengalami kemajuan yang cukup pesat. Dhramasraya memiliki kebun sawit seluas 76.163 hektare , karet 34.514 hektare, disusul kelapa, kopi, kakao, kayu manis dan sebagainya. Daerah ini juga punya deposit emas, granit, biji besi, batu bara, andesit dan kuarsit, sebagian sudah ditambang.

Setelah Irigasi Batanghari diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono 13 Desember 2008 lalu, Dharmasraya berperan sebagai lumbung beras Sumbar. Sekitar 30 ribu hektare sawah yang diari irigasi ini mampu menghasilkan 40 ribu ton gabah setahun. Tak mengejutkan jika pertumbuhan ekonomi Dharmasraya rata-rata di atas 6% setahun dan APBD-nya pun meningkat drastis dari Rp. 111, 6 milyar tahun 2005 jadi Rp 501 milyar tahun 2009.

Jika keempat jalur jalan itu bisa dioptimalkan sehingga seluruh daerah di Sumbar bisa berakses langsung ke pantai timur Sumatera bukan hanya pedagang tapi petanipun bisa menjual hasil pertaniannya ke pasar di Riau atau Jambi.  Selain itu, hubungan sosial budaya masyarakat satu budaya di ketiga provinsi ini juga bisa ditingkatkan. Diharapkan arus pengunjung ke Ranang Minang, untuk tujuan wisata, pendidikan dan pelayanan kesehatan, tiga andalan utama daerah ini otomatis akan ikut meningkat. Dan, di saat itu agaknya rakyat Sumbar bisa hidup lebih sejahtera (*)

Opini Singgalang 3 Febaruari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: