Ketahanan Pangan dan Diversifikasi Keterampilan

Opini Haluan 19 Juli 2012

Oleh Drs. H. Fachrul Rasyid HF

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno 16 dan 17 Juli 2012 ini menggelar rapat koordinasi (rakor) bersama Bupati dan Walikota di Bukittinggi. Persoalan yang ingin dirakorkan, seperti diberitkan Haluan edisi Sabtu 14 Juli 2012 adalah Ketahanan Pangan Melalui Diversifikasi Makanan. Bisa diduga, pembicaraan sekitar bagaimana rakyat yang selama ini menggunakan beras/nasi sebagai makanan pokok beralih ke jenis makan/menu lain.

Menurut Kepala Ketahanan Pangan Sumbar, Efendi,  makan selain beras itu antara lain, ubi kayu, ubi jalar, labu, sukun dan kentang yang kini terabaikan. Padahal jika  diolah dan dikreasikan bisa menjadi berbagai jenis sajian yang fungsinya sama dengan beras.

Alasan diversifikasi yang didalilkan adalah pengurangan kosumsi beras yang kini terus meningkat dari tahun ke tahun. Efendi menilai penyaluran raskin kontradisi dengan upaya diversifikasi tersebut karena warga yang tadinya tak mengosumsi beras beralih jadi beras. Mungkin diantara yang dimaksud Efendi penduduk Kepulauan Mentawai yang makan sagu, lalu, setelah kebagian raskin beralih ke beras.

Lelucon Ketahanan Pangan

Dilihat dari angka produksi dan kosumsi beras Sumbar, tema rakor itu terasa menggelikan. Sebab tahun 2011, produksi beras Sumbar mencapai 2.295.000 ton.   Naik  5,01 % dari  produksi tahun 2010. Sedangkan kebutuhan masyarakat Sumbar hanya sekitar 600 ribu ton/tahun dengan tingkat kosumsi 130 kg /tahun/jiwa. Artinya, terjadi surplus beras sekitar 1.695.000 ton.

Jika angka-angka itu realistis, alias bukan ubinan, maka kalaupun produksi beras terhenti total selama dua tahun berturut-turut, rakyat Sumbar belum akan mengalami paceklik, alias makan nasi tiwul, atau jagung tumbuk. Bahkan Sumbar tak perlu mendapatkan jatah raskin yang pada tahun 2011 mencapai 46.338 ton atau hanya sekitar 8% dari kebutuhan beras setahun.

Pertanyaannya kemudian kenapa di provinsi yang surplus beras tiga kali kebutuhannya masih perlu raskin sebanyak itu? Jawaban yang paling sederhana, tentu karena tak seluruh warga berpenghasilan beras. Kalau pun punya sawah tapi hasilnya tak memenuhi kebutuhan keluarga. Singkat kata, sebagian besar warga masih fakir sawah dan beras.

Lantas kenapa warga miskin itu masih dibantu makanan beras, kenapa tak diganti dengan yang lain? Dapatkah Bulog penyalur raskin atau Gubernur dan Bupati/Walikota yang meminta jatah raskin dianggap melawan program diversifikasi yang kini dirakorkan?.  Jika jalan fikiran Efendi diluruskan maka seharusnya rakor tersebut melahirkan keputusan menghentikan/ mengganti beras raskin. Dinas Pertanian Tanaman Pangan tentu juga dituntut untuk menggalakkan tanaman pangan non beras. Kalau peserta rakor memang  konsisten dengan tema yang dibicarakan apakah tidak sebaiknya suguhan makanan selama rakor diganti dengan makanan non beras?

Bagaimana Memulai

Menganti makanan memang tak semudah mengganti tema rakor tersebut. Banyak faktor yang perlu dikaji. Selain faktor sosial budaya, juga faktor pembudayaan, dan hal teknis yang perlu dipertimbangkan. Sebab, sebagaimana kita ketahui,  dalam masyarakat, khususnya Minang/Melayu, mengosumsi makanan (pokok) selain beras dianggap sangat miskin. Karena itu mengganti raskin, misalnya, dengan singkin (singkong miskin) bisa dianggap memiskinkan orang miskin atau dianggap tak manusiawi dan bahkan primitif.

Namun bila dilakukan proses pembudayaan secara tepat, bukan tak mungkin orang yang makan beras dianggap miskin. Sebaliknya yang makan nasi ubi atau lainnya, dianggap makmur. Pembalikan itu, sesuai dengan kultur feodalisme dalam masyarakat, bisa terjadi apabila para pemimpin seperti Gubernur, Bupati/Walikota dan para stafnya memang mengosumsi maknan non beras secara terbuka.

Kita bisa belajar dari kain batik. Dulu lelaki berbaju batik di Minang dianggap kewanita-wanitaan. Tapi setelah Presiden Soeharto memakainya, baju batik pun menjadi status simbol. Contoh yang teranyar adalah batu cincin lumut Sungai Dareh. Setelah dipakai Presiden SBY, lumut Sungai Dareh naik daun dan harganya melambung. Bahkan Lumut Sungai Geringging pun, karena mirip warnanya, bisa dihargai Sungai Dareh.

Selain itu, jenis masakan dan bentuk hidangan non beras sebelum disajikan tentu  harus dikaji oleh instansi terkait, seperti  Bagian Gizi dan Tata Boga pada Dinas Kesehatan.  Sebab dalam kultur masyarakat Minang ada pribahasa yang patut jadi rujukan. Yaitu, condong salero ka nan lamak, condong mato ka nan rancak.

Kemudian perlu pula diikuti kajian kandungan gizi dan efek sampingan bagi konsumen. Jika dinas terkait benar-benar punya ikhtiar untuk diversifikasi makanan pokok tersebut, dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, kesehatan dan ketersediaannya, dipastikan banyak warga yang akan meninggalkan beras. Buktinya, kini berbagai obat herbal yang tak jelas dosis dan kebenaran khasiatnya diburu warga hanya karena kemasan dan gencarnya promosi.

Kita melihat urusan ketahanan pangan, apalagi diversifikasi jenis makanan pokok, tentu tak semudah mengangkat tema ke depan forum rakor. Apalagi selama ini belum banyak terdengar, kecuali sekedar untuk pameran-pameran, dinas instansi yang memiliki kompetensi dan tupoksi yang menunjukkan jenis makanan non beras itu.

Rangkiang dan Ketahanan Pangan

Sebenarnya masyarakat Minang/Melayu punya pola baku tentang ketahanan pangan. Cara yang dilakukan bukanlah dengan diversifikasi makanan, melainkan diversifikasi usaha. Penelitian yang pernah saya lakukan membuktikan, masyarakat petani padi ladang berpindah-pindah, yang cuma bertanam padi sekali setahun, seperti juga nenek moyang kita yang sekali setahun turun ke sawah,  jarang sekali mengalami paceklik kecuali akibat musibah kemarau atau banjir.

Meski padi yang dihasilkan, jika dikalkulasi dengan kosumsi keluarga, tidak memadai, namun mereka jarang sekali kekurangan beras. Bahkan setiap tamu yang datang selalu disuguhi makanan nasi. Hal itu bisa terjadi karena warga tak menjadikan padi sebagai sumber uang. Setiap kali panen, padi disimpan di rangkiang, kapuok, atau karung dan ditaruh di atas loteng supaya tetap kering.

Kemudian, kaum pria dan wanita atau suami istri mencari aktivitas lain untuk mendapatkan uang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai beli beras, biaya anak sekolah sampai membangun rumah. Di Kabupaten 50 Kota misalnya, para suami pergi merantau dekat, bertukang atau menjahit pakaian. Di Kabupaten Padang Pariaman, para suami merantau ke berbagai kota menjahit, berjualan dan sebagainya sampai musim kesawah berikutnya. Sebagian besar orang awak yang merantau ke Malaysia menganut pola itu.

Dengan cara itu selain  jumlah anak-anaknya tak banyak, pengalaman dan pengetahuan mereka di rantau ikut menyumbangkan kemajuan bagi kampung halaman. Maka, sepanjang masih bisa mencari uang, padi di rangkiang, bahkan sampai tahun-tahun berikutnya tak disentuh. Saat tak ada lagi pilihan, baru pintu rangkiang dibuka.  Inilah yang diungkapkan pribahasa, “ katiko ado indak dimakan, katiko indak ado baru dimakan”.  

Sebenarnya persoalan yang dihadapi Sumbar saat ini justru diversifikasi usaha itu. Generasi muda dipacu dan berebut masuk perguruan tinggi. Mereka dimanjakan dengan berbagai fasilitas konsumtif. Tapi setamat kuliah, mereka tak memiliki keterampilan yang bisa diandalkan memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya beban orang tua semakin berat. Akhirnya, padi yang menjadi  basis ketahanan pangan dijual layaknya produksi industri. Tentu saja jadwal produksi padi tak mampu mengimbangi kebutuhan sepanjang hari. Dari situlah kemudian mengapa sampai terjadi produksi beras melimpah sementara raskin terus meningkat.

Tampaknya peserta rakor kali ini  perlu melakukan pendekatan dan tindaklanjut yang lebih konkret supaya setelah rakor yang tersisa bukan cuma koor. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: