Munafik Beresiko Hukuman Pidana

Komentar Singgalang Sabtu 16 Juni 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Seperti diketahui kata munafik (munafiq) adalah salah satu istilah dalam Islam untuk menyebut prilaku buruk/ negatif  orang-orang yang suka berbohong, terutama dalam hal keimanan kepada Allah dan Rasulnya Muhammad SAW. Mereka, dengan ucapan, sumpah dan janjinya seolah-oleh meyakini kebenaran Allah dan Rasul, namun dalam prakteknya mereka justru membantahnya.

Tapi sikap atau prilaku  munafik tak cuma menyangkut aqidah dan keimanan atau hal-hal yang berhubungan dengan Allah melainkan juga dalam hubungan manusia sesamanya. Inilah yang kita kenal dengan ungkapan orang yang bermuka dua. Telunjuk lurus kelingking berkait. Lain di mulut lain di hati. Musuh dalam selimut. Menggunting dalam lipatan. Menohok kawan seiring dan sebagainya.

Karena itu Islam melalui Nabi Muhammad memberikan perhatian khusus dan serius agar umat berhati-hati dan selalu mewaspadai orang-orang munafik itu. Baik dalam kontek aqidah maupun dalam kontek muamalah/pergaulan hidup di masyarakat. Nabi mengingatkan indikator orang munafik yang bisa dibaca melalui hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA. Kata beliau: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Yaitu, orang yang apabila berbicara, ia dusta/ bohong. Apabila berjanji ia mungkir. Apabila diberi kepercayaan (amanah), ia berkhianat.”

Sejumlah hadist maupun Allah SWT melalui beberapa ayat Alqur’an mengingatkan bahaya orang munafik itu dan sanksi bagai mereka di dunia maupun di akhirat kelak. Dan itu sudah sering disampaikan para ulama dan da’i di mimbar-mimbar tabligh.  Sebuah contoh. Kala Nabi Muhammad hendak menyalatkan tokoh munafik Abdullah bin Ubai, Umar bin Khattab memegang tangan Nabi Muhammad Saw dan berkata, “bukankah Allah telah melarang Rasulullah menyalatkan orang-orang munafik?”

Nabi bersabda, “aku telah diberikan pilihan karena Allah berfirman: Apakah kau memohon ampun bagi mereka atau tidak, dan sekalipun kau memohon tujuh puluh kali untuk ampunan mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka. (QS. At-Taubah [9]: 80)”. Begitu Nabi  mau mengerjakan salat jenazah turunlah wahyu Allah : “Dan janganlah kau sekali-kali menyalatkan seorang pun di antara mereka (orang-orang munafik) yang mati (QS. At-Taubah [9]: 84).

Kini kendati kata munafik adalah semakin jarang diucapkan tapi prakteknya kian lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia mengancamkan berbagai hukuman bagi pelaku kejahatan yang bersumber dari prilaku munafik itu. Setidaknya bagi kebohongan, ingkar janji dan pengkhianatan yang berimplikasi menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Ada sekitar 10 bab dari 22 bab KUHP yang mengatur sanksi hukuman pidana bagi pelaku kejahatan munafik. Yaitu bab sumpah palsu dan keterangan palsu, pemalsuan mata uang, pemalsuan meterai dan merek, pemalsuan surat, kejahatan terhadap asal usul dan perkawinan,  membuka rahasia, penggelapan, penipuan, merugikan orang yang berpiutang atau yang berhak, dan bab kejahatan jabatan. Pasal UU dalam bab-bab KUHP tersebut mengancamkan hukuman penjara mulai  empat bulan sampai 15 tahun.

Sebut saja bab 25 tentang penipuan (17 pasal dari 378 s/d 395 ) mengatur sanksi hukuman bagi  pelaku kejahatannya yang diawali kebohongan seperti tipu muslihat, tindakan kepalsuan, ingkar janji dan pengkhianatan. Pasal 378 mengatur sanksi bagi   siapa saja dengan maksud menguntungkan diri atau orang lain secara melawan hukum memakai nama palsu atau peri keadaan palsu,  baik dengan tipu muslihat maupun dengan rangkaian kebohongan, membujuk orang supaya memberi barang atau upaya membuat utang, atau menghapus piutang, dipidana selamanya empat tahun penjara.

Pasal 383 mengancamkan pidana setahun empat bulan penjual yang menipu pembeli dengan menyerahkan barang beda (tak sesuai keadaan, sifat, jumlah dan ukuran) dengan barang yang ditunjukkan. Pasal 385 menyatakan, dipenjara empat tahun orang yang menjual atau menukar atau mengagunkan hak milik orang lain secara melawan hukum.

Kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme yang berimplikasi pada kerugian negara dan masyarakat, yang diatur khusus UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jelas bersumber dari kemunafikan. Begitu juga dengan penyalahgunaan kekuasaan pelanggaran sumpah jabatan dan pelanggaran UU netralitas PNS.

Maka, membaca rumusan ajaran Islam melalui hadits dan Alqur’an mengenai prilaku munafik, lalu, membaca pasal KUHP, UU Antikorupsi, sumpah jabatan dan sebagainya itu, tampaknya masalah prilaku munafik bukanlah urusan yang sederhana. Apalagi, kemunafikan telah berimplikasi luas terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Karena itu, selayaknyalah upaya penyadaran masyarakat bangsa tentang bahaya munafik dan sanksi-sanksi hukumnya di dunia maupun di akhirat kelak mendapat prioritas semua pihak. Para ulama, da’i serta penegak hukum seperti polisi dan jaksa termasuk para akademisi perlu satu kata dalam membangun karakter dan integritas moral antikemunafikan itu. Hanya dengan menjauhkan sikap munafik itu kejahatan penipuan sampai pengkhianatan seperti korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan bisa diatasi di negeri ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: