Pesisir Selatan, Pemekaran atau Penyegaran

Oleh  Fachrul Rasyid HF

Pembentukan Kabupaten Ranah Indojati, pemekaran dari Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) tampaknya semakin dekat. Sekitar tiga pekan lalu beberapa pemuka masyarakat mendatangi Sekda Kabupaten Pesisir Selatan Ir. Erizon mencari tahu kelanjutan rencana  pemekaran tersebut. Sebelumnya Pemda Pessel sudah memekarkan  76 menjadi 182 nagari.

Dua pekan lalu, gilira Erman Bachtiar, Wakil Ketua DPRD Pessel, dan beberapa anggota dewan mengantarkan berkas usulan pemekaran tiga kecamatan baru ke Gubernur Sumatera Barat di Padang.  Tiga kecamatan yang dimekarkan itu adalah  Pancung Soal (37,002 jiwa) , Basa IV Balai Tapan (25,742 jiwa) dan Lunang Silaut (30,450 jiwa), untuk dijadikan enam kecamatan.

Tiga kecamatan pemekaran adalah  Air Pura dari Pancung Soal, Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan dari Basa Ampek Balai Tapan, dan Kecamatan Silaut dari Lunang Silaut. Wilayah enam kecamatan itulah  yang akan jadi kabupaten baru dengan nama Ranah Indojati. Kabupaten Pesisir Selatan sendiri tersisa sembilan kecamatan, penduduk 350 ribu jiwa, luas wilayah 3.400 kilometer persegi. Terbentang lurus dari Air Haji ke Siguntur di batas Kota Padang. Karena itu, pekan ini Bupati Nasrul Abit menghadap Mendagri menyampaikan usulan pemekaran tersebut.

Cukup syarat

Dilihat dari luas wilayah, sekitar 2.347 kilometer persegi, dilintasi jalan nasional sepanjang 75 km, Kabupaten Ranah Indojati tampaknya cukup memadai. Potensi ekonominya pun mendukung. Di daerah ini terdapat sekitar 12.425 hektare sawah dengan produksi hampir 59 ribu ton/tahun. Ada kebun sawit rakyat sekitar 14.700 hektare, sawit swasta 13 ribu hektare, kebun kakao 323 hektare, kebun karet rakyat 3.200 hektare, lahan jagung 3.250 hektare, sapi potong sekitar 77 ribu ekor lebih serta ternak kambing, kerbau dan ayam potong.

Karena lahannya luas,  pengadaan lokasi kantor Bupati dan SKPD yang diperlukan, termasuk untuk DPRD dan perkantoran anggota Muspida, tentu bukan hal sulit. Yang akan jadi persoalan, seperti lazimnya, mungkin pembebasan lahan. Maklum, urusan ganti rugi biasanya cukup ruwet dan melibatkan banyak tangan dan kendala. Dan, itu tentu jadi batu ujian apakah pembentukan kabupaten baru ini memang murni kehendak masyarakat atau hanya kemauan segelintir elit politik lokal.

Dilihat dari ketentuan PP No. 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah, secara administratif, teknis dan fisik kewilayahan tampaknya  pemekaran kabupaten ini boleh dibilang memenuhi syarat.

Sebanyak 11 faktor dan 35 indikator yang ditentukan PP itu, sebagian besar mungkin terpenuhi. Antara lain, faktor kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan, keamanan, kemampuan keuangan, tingkat kesejahteraan masyarakat, dan rentang kendali penyelenggaraan pemerintahan daerah. Yang mungkin akan menjadi masalah, misalnya, indikator ketersediaan sumber daya manusia dan jumlah PNS yang berkompetensi.

Pemekaran atau Penyegaran

Pertanyaannya kemudian adalah, jika calon kabupaten baru itu dianggap cukup makmur, benarkah yang diperlukan daerah itu pemekaran atau hanya penyegaran? Pertanyaan itu perlu dijawab dengan kajian dan pertimbangan yang matang mengingat keluhan utama selama ini adalah jauhnya rentang kendali penyelenggaran pemerintahan, terpaut 100 hingga 175 kilomter, dari ibukabupaten di Painan.

Padahal jarak itu, apalagi dengan kondisi jalan raya yang semakin lebar dan mulus bukan persoalan. Yang menjadi keluhan sebenarnya, meski terasa tapi tak terkatakan, adalah sikap penyelenggara pemerintahan yang memperlakukan daerah ini sebagai daerah “ujung”, daerah i’kab atau “buangan”. Pejabat, pegawai, petugas atau aparat yang ditempatkan ke daerah ini nyaris selalu yang dianggap bermasalah.

Tak aneh jika pelayanan publik dan penyelenggaran pemerintahan, seperti pernah saya alami, bak sebatang tebu. Hanya pangkalnya yang manis. Makin ke ujung makin hambar dan bermiang pula. Kondisi itu diperburuk minimnya  kontrol dan pengawasan dari atasan masing-masing instansi. Sehingga, pelayanan publik, penyelenggaraan pemerintahan dan penegakkan hukum, serta fasilitas yang tersedia, beda jauh dari daerah sekitar ibu kabupaten.

Kalau itu persoalannya,  tentu bukan pemekaran jawabannya. Solusinya justru  pemerataan pembangunan, peningkatan pelayanan, fasilitas, dan  perbaikan kualitas penyelenggaraan pemerintahan. Dan itu bisa diatasi dengan peningkatan SDM pejabat dan aparat, meningkatan serapan aspirasi rakyat, meningkatkan pengawasan, perbanyak sosialisasi dan komunikasi antara pejabat/aparat dan rakyat.

Pilihan itu perlu direnungkan lagi supaya apa yang dikeluhankan masyarakat selama ini mendapatkan solusi yang tepat. Jangan sampai akibat kelalaian pejabat kabupaten selama ini harus dibayar mahal dengan pemekaran. Kalaupun dimekarkan, namun jika sikap dan prilaku pejabat dan aparat penyelenggara pemerintah tak berubah, tentu tak beralih lenggang dari ketiak.

SDM dan Pembangunan Kultur

Andaikata pemekaranlah pilihan, maka mulai sekarang sudah dilakukan sosialisasi dan pembangunan tatanan sosial, dan tata pemerintahan yang baik dan benar. Pembentukan tata ruang yang tepat, membangun kesadaran hukum, kesadaran tentang K3, seperti penertiban ternak, lalulintas dan administrasi kendaraan, pembenahan rumah sakit, pasar, pertanian/perkebunan dan sebagainya.

Artinya, jika memang Kabupaten Ranah Indojati akan dibentuk, kapanpun lahirnya, sesuai kewajiban pemerintah daerah induk, mulai sekarang lakukan pembinaan sehingga ketika pemerintahan baru terbentuk masyarakat serta pejabat dan aparat secara psikolgis sudah siap. Kalau tidak, sebaik apapun fasilitas dan prilaku penyelenggara pemerintahan, tetap dianggap tak memuaskan. Ketidakpuasan masyarakat,  apalagi tanpa parameter, seperti banyak dialami daerah pemekaran, rentan gejolak dan kerusuhan.  (*)

Padang23 Juli 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: