Aneh, Bencana Dulu Rencana Kemudian

Opini Haluan 2 Agustus 2012
Oleh Fachrul Rasyid HF

Pememerintahan daerah (Pemerintah daerah dan DPRD) Sumatera Barat tahu benar bahwa daerah ini miskin sumberdaya alam, tapi kaya bencana alam. Karena memang tak punya sumber daya alam seperti tambang emas, tambang minyak dan gas, batubara (sudah habis), dan sebagainya. Sementara bencana alam nyaris terjadi sepanjang tahun. Mulai dari gempa bumi yang berpusat di laut, di perut bumi, sampai di gunung. Selain itu,  Sumatera Barat diap tahun dilanggani tanah longsor dan banjir bandang alias galodo.

Saya akan berbicara soal banjir dan galodo itu. Coba buka catatan sejak 35 tahun terakhir. Mulai dari galodo di Pasir Laweh, di kaki timur Gunung Merapi, Tanah Datar, 1979 yang menelan 50 korban nyawa. Longsor Bukit Tui, Padangpanjang, Ramadhan 1987  yang menewaskan 156 jiwa. Longsor disertai galodo Bukit Selayang, Paritpanjang, Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam April 1991 yang menelan puluhan hektare sawah dan rumah.

Kemudian ada banjir besar di Silaut, Kecamatan Lunang Silaut, Pesisir Selatan, menjelang Idul Fitri,  Mei 1994 yang merusak 2.500 hektare tanaman kedele, palawija, dan  pemukiman penduduk. Kerugian mencapai Rp 1,9 milyar.  Tahun 2000 galodo di Calau, Talawi,  Pesisir Selatan 27 korban tewas 10 dinyatakan hilang. Pada tahun yang sama Malalo Kabupaten Tanah Datar dilanda galodo,  31 tewas 8 diantaranya hilang.

Masih di tahun 2000, galodo menerjang Desa Gantiang Kabupaten Pasaman 37 korban tewas. Tahun 2004 galodo di Panti Pasaman 56 korban tewas. Tahun 2005 Bukik Lantiak, Padang, rubuh menewaskan 67 jiwa. Awal September 2005  Bukit Pincuran Gadang, Kelurahan Gates Lubuk Begalung, Telukbayur, terban. Sebanyak 25 nyawa melayang dan belasan rumah tertimbun. Galodo Koto Baru Nagari Aia Dingin, Kabupaten Solok, tahun 2006, menewaskan 18 warga. Tahun 2007 galodo menerjang Kolam Janiah Kecamatan V Koto Timur, Padang Pariaman, 13 korban tewas

Saat diguyur hujan lebat 24 hingga 25 Desember 2007, seperempat Kota Padang, dihuni 452 jiwa, terendam. Saluran utama Irigasi  Gunung Nago di hulu Batang Kuranji rubuh. Sekitar 2.087 hektare sawah produktif, ratusan hektare kolam ikan air tawar di Kecamatan Pauh, Kuranji dan Nanggalo dan Lubuk Bagalung kering. Irigasi Koto Tuo, Kecamatan Koto Tangah, ikut hancur. Sekitar 1.088 hektare sawah dan ratusan hektare kolam ikan serta sumur dan sumber air MCK kekeringan. Kerugian ditaksir Rp 10 milyar.

Sekitar pukul 03.00 Rabu 3 November 2011, air bah dari Bukit Kaciak mendera Kasiak Putih, Kenagarian Kambang, Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan. Enam nyawa melayang. Sekitar 300 meter jalan raya Lintas Barat Sumatera rubuh ke laut. Bersamaan itu  7 kecamatan di Pesisir Selatan tergenang banjir. Sekitar  52.315 jiwa penduduk diungsikan, 750 meter jalan negara terban,  3 km jalan kabupaten dan enam jembatan rusak, 23 unit irigasi binasa, 27 unit sekolah terendam, 9 unit  rusak berat, 10.219 unit rumah warga dan 43 rumah ibadah terendam, diantaranya 24 rusak berat. Kerugian sekitar 99,6 milyar.

Yang paling anyar adalah banjir dan galodo di sekitar Bukit Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, magrib Selasa 24 Juli 2012 lalu. Galdo itu berdampak pada 24 kelurahan di enam kecamatan. Sebanyak 3.636 warga diungsikan,  95 bangunan rusak berat, 172 rusak sedang dan 249 rusak ringan. Kerugian ditaksir sekitar Rp 15,49 milyar.
Alam Tak Jadi Guru

Semua juga tahu orang Minang punya filosfi, alam takabang jadi guru. Tapi  bencana alam yang terjadi sejak 35 tahun terakhir tampaknya belum jadi guru dan belum menjadi pelajaran bagi Pemerintahan Daerah.  Buktinya, tiap kali terjadi bencana Pemda, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah, selalu turun memberi bantuan tanggap darurat dan melakukan perbaikan-perbaikan. Namun urusan bencana demi bencana ditutup begitu tahun anggaran ditutup.

Sementara kalangan politisi, baik calon kepala daerah maupun anggota DPR dan DPRD, termasuk DPD, juga mencatat. Paling tidak sebagai kenangan-kenangan pernah menabur simpati politis pernah mengulurkan bantuan dan berfoto-foto di lokasi bencana dengan harapan warga akan berpartisipasi saat pemilu.

Warga juga mencatatnya sebagai kenangan hidup. Walinagari Kototinggi, Kotobesar, Dharmasraya, misalnya, diberi nama Andestra singkatan anak desa transmigrasi. Maklum, orang tuanya adalah korban galodo Tanjung Raya, Maninjau, tahun 1987 yang ditransmigrasikan ke Kototinggi.

Sayangnya, kepala daerah (Gubernur, Bupati/Walikota) bersama jajarannya, termasuk DPR, DPRD dan DPD, belum menjadikan bencana demi bencana sebagai kajian dan patokan kebijakan pembangunan antisipasi banjir dan galodo itu. Sehingga, meski tak mampu menghentikannya, bisa mengurangi resikonya..
 
Ironis.

Kalau dilihat organisasi pemerintahan provinsi, kabupaten/kota, sebetulnya sudah ada lembaga/instansi yang berperan mengantisipasi bencana tersebut. Ada Bapedalda yang mengurusi soal lingkungan, Dinas Kehutanan yang mengurusi soal hutan dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) yang mengurusi kelestarian hutan dan isinya. Ada Pemberdayaan Sumber Daya Air (PSDA) yang mengurusi sumber air, sungai dan rawa. Ada Bappeda sebagai koordinator perencanaan dan perancang Tata Ruang.

Sumatera Barat juga punya sejumlah perguruan tinggi dan ahli masalah lingkungan dan kebencanaan. Ada pula beberapa LSM dan bahkan Forum PRB (Pengurangan Risiko Bencana).

Maka, dilihat dari kerawaanan bencana alam selama ini serta potensi sumber daya manusia dan lembaga pemerintahan yang ada itu selayaknya daerah ini  sudah punya peta tata ruang bencana, setidaknya sejak 15 tahun terakhir. Sebab, tahun 1995 silam Dinas Pertambangan Sumatera Barat pernah melakukan penelitian tentang pemukiman penduduk. Hasilnya, sekitar 35% pemukiman warga provinsi ini berada di atas kemiringan 45 derajat alias rawan longsor.

Peta itu tentu berisikan inventarisi dan klasifikasi gambaran kondisi daerah aliran sungai dan celah bukit yang rawan banjir dan galodo di pelosok provinsi ini. Di situ akan terlihat mana kawasan yang sangat rawan (hamil tua) mana yang bakal berbahaya dan mana lokasi yang dianggap aman. Dari peta itu, kalau memang diiringi kebijakan, dapat ditentukan prioritas penanggulangan/ antisipasi, dan pembinaan serta pemeliharaan lingkungan.

Terhadap lokasi  yang sangat rawan diantisipasi misalnya dengan membangun embung/ waduk. Ukuran dan volume embung disesuaikan dengan kondisi curah hujan, daerah tangkapan air, luas celah bukit dan sebagainya. Masyarakat di sekitar embung diajak melakukan penghijauan dengan bertanam pepohonan dan bambu. Air embung bisa jadi sumber air bersih, pertanian/perikanan, dan bahkan objek rekreasi. Pepohonan bisa jadi cadangan kayu bagi nagari setempat. Bambu bisa jadi bahan bangunan, industri kerajinan, dan kuliner.  Yang terpenting adalah di musim hujan embung bisa mengendalikan debit air dan arus sungai. Sehingga, meski terjadi galodo, resikonya dapat dikurangi.

Pembiayaan embung bisa diklasifikasi dan direncakan. Embung ukuran besar berbiaya milyaran rupiah, bisa didanai APBN seperti beberapa yang sudah dibangun. Embung ukuran menengah dapat dibiayai APBD Provinsi, dan ukuran sedang dibiayai APBD Kabupaten/Kota. Untuk ukuran kecil bisa diprogramkan embung pedesaan yang dana dan teknisnya dibantu provinsi bersama kabupaten /kota. Saluran dan lingkungan embung pedesaan, seperti dulu Irigasi Pedesaan berbiaya Rp 5 juta, dikerjakan warga nagari secara manunggal.

Gagasan ini pernah saya bicarakan secara terpisah dengan kepala Dinas PSDA, Kepala Bapedalda dan Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat. Mungkin karena belum direspon Gubernur/Wakil Gubernur serta DPRD, gagasan itu tak kunjung direalisasikan. Padahal gagasan itu sangat urgen mengingat dana pemerintah untuk menanggulangi bencana, khususnya galodo, dari tahun ke tahun cukup besar. Belum lagi dampak sosial, ekonomi dan psikologis yang diderita rakyat.

Kalau memang Pemprov dan Pemda Kabupaten/Kota bermisi meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka dana sebanyak itu tentu akan lebih bermanfaat digunakan mengantisipasi berbagai galodo dan banjir. Bukankah banjir dan galodo selama ini sangat berpotensi memiskinkan rakyat? (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: