Dakwah Diantara Zed dan Zai

Teras Utama Padang Ekspres 
Oleh Fachrul Rasyid HF

Dakwah dan Jebakan Teknologi Media Massa, yang ditulis Mestika Zed – seterusnya kita sebut Zed saja (Teras Utama, Jumat, 07/09/2012), adalah sebuah reportase dan deskripsi yang utuh tentang realita aktual di tengah masyarakat umat, di Sumatera Barat bahkan Indonesia. Realita bahwa hiruk pikuk pengajian selama bulan Ramadhan, seakan hanya bagian dari daftar acara wajib selama bulan Ramadhan sehingga tak membekas bahwa umat Islam baru saja keluar dari penggemblengan mental-spritual Ramadhan.

Buat saya, paling tidak selama 20 tahun mengurus masjid, mengikuti serta mengevaluasi praktik dan materi dakwah/ pengajian dalam atau di luar Ramadhan, apa yang digambarkan guru besar sejarah itu adalah suatu hal yang tak terbantah. Karena itu sebulan sebelum Zed menulis, pada rubrik  Teras Utama ini juga (Senin  06/08/2012) saya telah menulis hal senada dengan judul “Beragama selama Ramadhan (?)

Penggunaan teknologi, seperti migrofon, kaset, vedio dan unsur entertaiment (baca menghibur) dalam berdakwah sebagaimana banyak diprakrtikkan di layar televisi selama Ramadhan, sebatas pendukung visualisasi dan “kecerdasan” dakwah tentulah kalau bukan dianjurkan setidaknya bisa dianggap sah.

Tapi bila hal itu digunakan sebagai syiar Islam, seharusnya mendapat koreksi dari pada ulama. Soalnya, pengajian, ibadah dan juga bacaan Alquraan menggunakan pengeras suara bukannya membuat orang tergugah tapi justru terganggu. (FR- Suara Mikrofon menunggu Suara Ulama- Harian Singalang 13 Agustus 2011).

Kemudian unsur “menghibur” dalam dakwah tentulah tidak dimaksudkan hiburan itu sendiri melainkan sekedar upaya pendekatan. Namun nyatanya, baik lewat televisi maupun di mimbar pengajian/ wirid, diandalkan sebagian mubalig sehingga yang disisakan bukan materi pengajian tapi lelucon da’i. Bila belajar dari profil dan sukses  ulama dan mubalig akhir abad ke 19 dan awal abad 20 dan melihat praktik dakwah selama 25 tahun terakhir, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya deviasi dan keanehan, tetapi penyimpangan yang dianggap hal normal atau penyakit yang dianggap kelebihan, bisa yang dianggap biasa.

Dan, itu jadi bukti betapa yang terjadi bukan sekedar deviasi dari dakwah atau pemanfaatan media massa sebagaimana ditulis Sutan Zaili Asril (selanjutnya saya sebut Zai saja), dalam tulisan ”Dakwah Itu Apa” dan Kegamangan Mestika (Teras Utama Senian 10/09/2012). Tapi “Penyimpangan” praktik dakwah yang berakibat terjadinya pembelokkan tujuan dakwah sehingga salah kaprah.

Karena itu saya kurang sependapat dengan Prof. Dr. Duski Samad dalam tulisan “Tautkan Potensi Dakwah”, Teras Utama Rabu, 19/09/2012) pendapat yang cenderung permisisf dan menutup celah pencerahan yang cepat-cepat mengklalim pandangan antara Zed dan Zai sebagai potensi dakwah yang perlu dikombinasikan.

Sebenarnya yang pantut dijawab adalah pertanyaan Zed, mungkinkah ada sesuatu yang keliru dalam cara kita berdakwah atau nilai-nilai sudah banyak yang berubah. Saya, sebagai jurnalis, bukan mubalig, memang melihat ada yang keliru dalam cara kita berdakwah. Pertama, tujuan dakwah pada dasarnya adalah membangun budaya masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam sehingga Islam  teraplikasi dalam prilaku, sikap hidup terhadap khaliq, dan sesama makhluq, dan terwujud kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Singkat kata mubalig itu berperan membudayakan nilai-nilai Islam, menjadikan Islam sebagai jawaban persoalan kehidupan dan ikut mengawasi proses sosialisasi itu. Peran mubalig bukan melahirkan nilai-nilai, seperti ditulis Prof Dr. Salmadanis dalam Dakwah Sebagai Transformasi Nilai Islam (Teras Utama  Rabu, 01/08/2012). Sebab, nilai-nilai itu sudah ada dalam Alqur’an dan Hadits.

Kedua, dakwah yang efektif tentulah dakwah yang komunikatif. Untuk menjadi komunikatif, mubalig seharusnya mengetahui persolan-persoalan yang dihadapi jamaah. Seorang dokter harus tahu dulu keluhan pasien supaya bisa memberi resep yang tepat. Tapi, sejauh ini kita berani mengatakan 95% mubalig tak mengetahui, juga tak berusaha mencari tahu kondisi objektif calon jamaah yang akan didakwahi. Mubalig datang dengan menebar jaring dan jamaah menunggu dengan persoalannya sehari-hari. Supaya menarik digunakan berbagai trik. Akibatnya, yang tersisa bukan materi ceramah melainkan ulah simubalig.

Menjawab persoalan ini lima tahun terakhir saya sering menyuarakan, langsung maupun melalui tulisan di media, kiranya pergurun tinggi Islam, MUI dan ormas Islam menyusun peta dakwah dan rencana tata ruang dakwah melalui indikator tertentu . Dengan cara itu tiap mubalig mengenal kondisi ril keragaman praktik keberagamaan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sampai ke nagari-nagari. Dari situ bisa direncanakan metoda dan materi dakwah sehingga jadi efektif, komunikatif dan bahkan bisa terevaluasi. Sayang, meski Gubernur Gamawan Fauzi dulu pernah menawarkan anggaran untuk itu, namun tak ada respon dari pihak-pihak yang berkompeten.

Ketiga, pendekatan dan meteri dakwah juga perlu perbaikan. Pada umumnya dakwah kini disuguhkan dengan pendekatan materi tekstual normatif: membacakan teks-teks Alqur’an dan Hadits lalu diterjemahkan dan diuraikan sesuai wawasan mubalig. Materi yang disajikanpun nyaris didominasi tentang ibadah, akhlakul karimah, tentang dosa dan pahala dan jarang sekali yang memberikan pencerahan bidang sosial, ekonomi dan budaya. Karena tanpa rencana dakwah atau silabus, sering terjadi pengulangan-pengulangan.

Pendekatan dan materi dakwah seperti itu berimplikasi pada dikotomi pemahaman agama dan kehidupan duniawi. Agama seolah hanya untuk urusan akhirat dan kehidupan sosial ekonomi, hukum dan budaya adalah urusan dunia. Tak aneh jika haji dijadikan status simbol sosial. Jilbab hanya jadi pakaian seragam, model dan politik, bukan jadi pakaian berbasis aqidah. Ke masjid semuanya menutup aurat, ke pasar membuka aurat. Selama puasa seperti tawadhuk, setelah Ramadhan seperti batal uduk. Meski suara mikrofon tetap keras, tapi jamaahnya kosong. Wajar jika Zed menyebut teknologi digunakan memanipulasi syiar Islam.

Padahal sesuai dengan dinamikan perkembangan budaya masyarakat yang kian kompleks yang diperlukan adalah pendekatan kontekstual normartif: memecehkan persoalan dengan Alqur’an dan Hadits serta kajian agama. Dengan cara itu jamaah mendapat jawaban, obat dan alternatif pemecahan persoalan kehidupan nyata dan agama menjadi rujukan budaya. Saat itulah dakwah akan mencapai sasaran membangun umat yang Islami kaffah. (*)

Padang 20 September 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: