Dua Tahun Irwan MK: Syair Tanpa Lagu

Komentar Singgalang 12 September 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Pemerintahan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Muslim Kasim (Irwan-MK) yang 15 Agustus lalu genap berusia dua tahun, tak obahnya bak syair tanpa lagu. Panjang lirik dan syairnya, tapi tak ada lagu dan iramanya.

Syair Irwan- MK bisa dilihat dari APBD tahun 2010. Ada Rp 2,523 tilyun yang dibelanjakan. Meski tersisa sekitar Rp287,46 milyar, namun sekitar 89,9 % dari anggaran tersebut terealisasikan. APBD tahun 2011 berjumlah Rp 2.328 trilyun, realisasi fisik 97,54 % dan realisasi keuangan 91,69 %.

APBD tahun 2012 sebesar Rp.3.121 trilyun dibelanjakan untuk 3.028 kegiatan oleh 46 SKPD. Yaitu Sekretariat DPRD, 9 Biro-Biro di bawah Sekretariat Daerah, 18 Dinas, 18 Badan, Kantor dan Rumah Sakit Provinsi. Sampai smester pertama tahun ini realisasi anggaran tersebut masih 36,7%

Kegiatan misalnya, terlihat pada pembangunan dan perbaikan jalan dan jembatan serta gedung-gedung pemerintahan oleh Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman. Pembangunan embung, irigasi, normalisasi sungai dan sebagainya oleh Dinas PSDA.

Seterusnya, berbagai kegiatan Dinas Perkebunan, Pertanian, Perikanan, Peternakan, Kesehatan, Pendidikan, Dinas Sosial dan lainnya. Sejumlah pelatihan dan pembinaan oleh biro-biro atau badan dan kantor yang ada. Gubernur Irwan –MK pun nyaris tiap pekan mengunjungi berbagai kegiatan SKPD. Setidaknya, semua itu berdampak pada penurunan jumlah penduduk miskin dari 9,5 % tahun 2010 menjadi 8,99 % tahun 2011.

Sayang, pemerintahan Irwan-MK, meski banyak menciptakan syair tapi tak satu pun punya lagu sehingga tak jelas arah, gema dan spiritnya di tengah masyarakat. Penonton “ konser Irwan-MK” cuma bisa bengong. Tak tahu mau bergoyang tubuh atau mengangkat tangan menari, berjoget bahkan menggerakkan ujung jari sekalipun. Tak aneh jika sampai tiga pekan di tahun ketiga, nyaris tak ada respon dari pengamat, akademisi atau politisi tentang pemerintahan Irwan-MK.

Padahal pemerintah selaku motivator pembangunan bukan hanya perlu menciptakan syair tapi juga lagu. Sebab, lagu dan irama musik, meski tanpa syair dan lirik, mampu memotivasi khalayak. Lagu yang sedih bisa membuat orang menangis. Lagu dan irama yang menggelegar mampu membakar semangat. Itu sebabnya lagu India atau lagu Barat, meski tak dipahami syairnya, laris manis sampai ke kampung-kampung.

Irwan-MK pernah melantunkan “lagu” Gerakan Penyejahteraan Petani (GPP) di awal 2011 dengan syair satu sapi satu petani. Hasilnya lumayan. Sampai Juli 2012 investasinya mencapai Rp86,89 milyar dengan sapi sebanyak 8.409 ekor. Tapi belakangan “lagu” itu raib. Padahal GPP, selain sapi, tentunya, perlu didukung intensifikasi perkebunan, pertanian, perikanan, perindustrian, perdagangan, koperasi dan membasiskan Bank Nagari di nagari-nagari.

Kenapa pemerintahan Irwan – MK tak punya “lagu”? Ada tiga faktor penyebabnya. Pertama, kurang menonjolnya koordinasi program, kegiatan, evaluasi dan ekspose per-kompartemen atau asisten. Masing-masing pejabat SKPD, yang bisa nyanyi “bernyanyi” sendiri-sendiri. Yang kelu lidah, diam seribu bahasa sejak dipromosi hingga dimutasi.

Kedua, tak seperti sebelumnya, pejabat Kesbang Linmas Provinsi tak mampu berperan sebagai penghubung dan pembangun jaringan inspirasi dan partisipasi antara kepala daerah dan komponen masyarakat. Sebab, Kepala Kesbang Linmas selama pemerintahan Irwan –MK, Faisal Syarif, nyaris “mengambang” karena merangkap plt Sekda Kep. Mentawai. Akibatnya,  jika gubernur terdahulu menggunakan dua tahun pertama masa jabatannya berdialog dan berdiskusi dengan komponen masyarakat, pemerintahan Irwan –MK nyaris sepi dari dialog dan pertemuan seperti itu.

Ketiga, tidak berperannya Kepala Biro Humas sebagai koordinasi dan pusat informasi seluruh kegiatan SKPD, termasuk membangun dialog dengan komponen masyarakat. Maklum, dua pejabat Kepala Biro Humas selama dua tahun Irwan-MK, dipilih lebih karena pertimbangan politis ketimbang kemampuan, kepedulian yang tinggi, kejujuran, kecerdasan dan keberanian yang teruji.

Tak aneh jika ekspose Biro Humas lebih banyak tentang apa yang dikatakan bukan apa yang dibuat Irwan-MK. Sebab yang dibuat Irwan MK itu ada di tiap SKPD. Akibatnya, Biro Humas sebagai pencipta lagu dan irama tak mampu melantunkan satu lagupun dari sejumlah syair dan lirik ciptaan Irwan-MK sehingga tak ada yang menjadi lagu rakyat.

Dari sikap seperti itu tentu sulit diharapkan akan ada analisa informasi dan peristiwa sosial politik, ekonomi dan budaya yang berkembang, apalagi saran-saran. Yang terjadi hanyalah cek list kegiatan yang ada, tanpa pernah punya inisitiatif, kreatif dan insperofisasi tentang kepemerintahan Irwan-MK. Jika cara ini diteruskan, tak mustahil satu priode ini Irwan –MK di depan publik akan “hanyut” dan tenggelam dalam syair tanpa lagu. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: