Ulama, Pengusaha dan Parewa

Teras Utama Padang Ekspres Jumat 19 Oktober 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Setiap kali membicarakan kondisi umat perdebatan sering mengarah kepada peran dan kelangkaan ulama. Padahal, adanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi bukti bahwa jumlah ulama cukup besar sehingga karena itu diperlukan sebuah organisasi ulama. Tapi mengapa suara tentang kelangkaan ulama tak semakin mereda?

Pertanyaan di atas menggundang pertanyaan berikutnya. Ulama mana atau ulama seperti apa yang tak langka dan yang langka?  Yang tak langka tampaknya  ulama dalam pengertian orang yang berpendidikan, mendalami dan menguasai ilmu agama. Dan itu cukup besar jumlahnya. Sebagian besar malah bergelar master, doktor dan profesor.

Yang langka, paling tidak dalam persepsi yang hidup dalam masyarakat umat, tampaknya ulama dalam pengertian pemimpin. Dari menapak jejak sejumlah ulama besar di Sumatera Barat, ditemukan beberapa indikasi kenapa ulama masa lampau itu lebih pengaruh. Antara lain karena kepribadiannya yang baik, keluarganya yang terhormat, kepeduliannya yang tinggi, kecerdasan, kejujuran dan keberaniannya yang teruji.

Ulama itu jadi pemimpin jamaah dan berbasis di masjid. Pemimpin pendidikan/ pembentuk prilaku dan berbasis di madrasah. Pemimpin yang ilmunya (komptensinya) jadi rujukan. Ulama yang jadi konsultan umat dalam menghadapi persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Ulama yang cerdas dan bijak merespon dan memberikan arahan sikap kepada umat dalam menghadapi sesuatu. Yang memberikan (bukan diminta) pendapatnya terhadap perkembangan.

Ulama pemimpin itulah yang membangun umat dan bangsa, termasuk di Sumatera Barat, di awal abad 19 hingga awal abad 20.  Di segi jumlah, ulama besar di zaman itu jauh lebih kecil ketimbang ulama bergelar profesor dan doktor di akhir abad 20 dan awal abad 21 sekarang. Namun pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat umat, justru sebaliknya. Bahkan hingga hari ini pemikiran ulama masa lalu itu masih tetap jadi ikutan.

Pengusaha dan Parewa

Selain indikasi yang disebutkan di atas,  ada dua faktor pendukung yang ikut membesarkan ulama di tengah-tengah msayarakat umat. Pertama, partisipasi para pedagang, atau saudagar dan petani/peternak kaya di lingkungannya. Kedua, partisipasi dan dukungan parewa.

Dari penelusuran riwayat ulama besar di Minangkabau, terungkap bahwa di belakang ulama itu terdapat orang-orang kaya, seperti saudagar cengkeh, kopra, gambir, pedagang tekstil, pedagang emas, toke beras dan sebagainya. Setiap kali seorang ulama berencana membangun masjid, madrasah bahkan infrastruktur di nagari, ia selalu mengajak musyawarah para saudagar. Saudagarlah kemudian yang  menjadi pemodal atau penyandang dana pembangunan.

Inilah kenapa ulama masa lalu, tanpa pernah meminta bantuan pemerintah, begitu mudah membangun madrasah, masjid, surau, dan bahkan kegiatan-kegiatan pengajian. Para saudagar pula yang menyediakan dana bila ulama bepergian, atau biaya perwatan anak istrinya di rumah sakit, termasuk beribadah haji.

Selain saudagar, di belakang ulama besar masa lalu berdiri beberapa parewa. Parewa, dalam masyarakat Minang tempo dulu bukan preman dalam pemahaman sekarang. Parewa adalah pemuda pendekar, berotot dan pemberani. Meski bukan tokoh organisasi, jarang tampil di depan umum ia berpengaruh di kalangan orang muda. Ia bisa hadir dalam berbagai kegiatan pemuda. Ia bisa tampil di bidang olahrga, pertanian disamping juga pintar main judi dan menyabung ayam, bahkan sesekali mereka juga maling ayam untuk dimasak  “malapeh salero”.  Kendati demikian sholat Jumatnya tak pernah tinggal.

Para parewa sangat menghormati ulama. Meski jarang bertemu ulama, parewa lazimnya menjadi pengawal dan pengaman tak langsung kegiatan dan urusan ulama. Jangan mencoba pernah bertindak tak sopan, apalagi mengganggu jamaah dan madrasah ulama. Jangan ada yang berbuat maksiat, maling, merampok dan sebagainya.  Bila itu terjadi parewa akan mencari pelaku tanpa setahu ulama. Bahkan ketika ulama berniat turun ke sawah atau mengumpulkan kayu untuk membangun rumah, parewa dan kawanannya mendahului rencana itu.

Jangan heran ketika perang perjuangan kemerdekaan dan saat melawan agresi Belanda 1948, para parewalah yang menjadi pasukan inti para ulama di medan perang terbuka atau perang grilya.

Pertanyaan kenapa pengaruh dan kharisma ulama masa kini terasa minim karena selain tak memenuhi indikasi di atas, mereka juga jauh atau menjauhi  pengusaha dan saudagar dan parewa. Akibat tak berbasis di madrasah, tak mandiri secara ekonomi ( mereka kebanyakannya PNS), rendah kepedulian dan seterusnya  tak dekat dengan pengusaha/sudagar, termasuk dengan parewa, rendnah pengaruhnya. Padahal fakta membuktikan, beberapa masjid besar di daerah ini didirikan pengusaha bukan ulama. Bahkan sejumlah pesantren modern yang ada sekarang adalah milik pengusaha, bukan ulama.

Maka, untuk menjawab kelangkaan ulama tampaknya tak cukup hanya mengandalkan jumlah tapi lebih ditentukan pengaruh dan kewibawaannya. Seandainya ulama masa kini yang jumlahnya cukup besar mau mengoreksi kiat pendekatan, sikap dan responnya di tengah masyarakat tentulah pengruh ulama masa kini bisa  melebihi ulama masa lalu. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: