Bareh Samo Dibali, Karak Untuak Urang

 

 

Khazanah Minggu Padang Ekspres 28 Juli 2013

Oleh Fachrul Rasyid HF

Mana yang lebih baik berawajah ustaz berjiwa preman dari pada berwajah preman berjiwa ustaz?  Pertanyaan itu muncul dari pribahasa atau papatah bareh samo dibali, karak diagiahkan ka urang. Ungkapan ini mengingatkan kepada kita kalau bekerjasama dengan berbagai pihak mestilah dengan sikap dan perlakuan yang jujur. Celakanya yang banyak terjadi justru keuntungan dimakan sendiri sedangkan kesulitan dibagi kepada orang banyak.

Pribahasa ini cocok dengan kebanyakan prilaku pemimpin kita hari-hari ini. Di saat mengahadapi pilkada, gubernur, bupati atau walikota, semua pihak diajak bekerjasama mendukung dirinya. Katanya, barek samo dipikua ringan samo dijinjiang. Atau ungkapan tatilantang samo minum aie tatilungkuik  samo makan tanah. Artinya buruk baik atau untung rugi sama dialami.  Toh, masih ditambahkan lagi, baraie sawah di ateh lambok pulo sawah di bawah.

Tapi kenyataannya, beda siang dan malam. Saya menyaksikan sendiri. Seorang kepala daerah yang berkoar-koar mengajak semua lapisan masyarakat mendukung pencalonan dan programnya. Hebatnya, setelah terpilih dan duduk jadi kepala daerah, yang diurusnya hanya partainya saja. Orang-orang dekatnya, misalnya tim suksesnya diberi ruang dan kantor sendiri dan bahkan mau diberi baju dinas khsusus. Untuk DPRD menolak memberi anggaran untuk itu.

Meski dekiman personil tim suksesnya kemudian diberi jabatan pada komisaris –komisaris perusahaan daerah yang berada di bawah kekuasaannya. Sementara orang lain yang lebih berkompeten, berpengalaman dan layak menduduki jabatan itu dijauhkan. Yang tak kebagaian jabatan komisaris diberi peluang untuk mendapatkan fasilitas dari dinas instansi yang ada.

Sementara pejabat resmi yang diangkat juga atas pertimbangan kepentingan partai dengan dalih sama-sama satu sekolah alias sama alumni sekolah di mana dulu kepala daerah itu bersekolah. Maka, yang diangkat hanya alumni SMA sekolah asal si kepala daerah. Inilah kemudian yang melahirkan baperjakat alias badan pertimbangan jauh dekat. Padahal arti baperjakat sesungguhnya adalah badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan.

Sayang, urusan kolusi dan nepotisme ini belum tersentuh KPK sehingga belum ada kepala daerah yang diseret kepengadilan gagra-gara sikap dan perlakuan bareh samo dibali, karak diagiahkan ka urang. Padahal dampaknya terhadap sikap dan dedikasi pejabat pemerintahan sangat buruk. Pegawai dan pejabat kehilangan etos kerja, motivasi dan semangat kerja. Yang punya pengalaman, pendidikan dan prestasi jadi lumpuh layu untuk bekerja lebih baik. Sementara yang mendapat angin, semakin menyuburkan sikap menjilat. Lalu, si pejabat di mana-mana berbicara profesionalisme.

Kalau dikaji sesuai adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK), sikap bareh samo dibali, karak diagiahkan ka urang itu adalah sifat munafiq. Munafiq adalah sifat yang sangat dibenci oleh Islam. Pemimpin seperti itu lazimnya suka mendalilkan ayat Alquran dan Hadits Rasulullah dalam setiap berbicara. Bahkan kalau berpidato di depan khalayak sulit dibedakan apakah ia sedang memberi pengajian atau sedang menegaskan kebijakannya.

Dari kondisi itu pula kemudian muncul istilah baru, bantuak alim atau ustaz, tapi jiwanya lebih dari pada preman. Di depan khalayak suka mengaji sementara dalam bekerja suka menggergaji. Oleh karena itu orang-orang pun berbicara, biarlah betampang pareman asal berjiwa ustaz ketimbang bertampang ustaz berjiwa preman.

Masyarakat perlu diingatkan supaya berhati-hati, dan lebih selektif menilai bantuak jo rupo. Para ulama kita sudah lama mengingatkan bahwa ada orang yang berkompetensi sebagai ulama (pemimpin umat) dan ada yang berkompetensi sebagai umara’, pemimpin pemerintahan.

Kalau memang seseorang dianggap layak sebagai ulama, ustaz atau mubaligh maka terima dan besarkan dia sebagai ulama dan ustaz. Kalau dia layak jadi umara’ besarkan dan terimalah dia sebagai umara’. Jangan ulama dijadikan umara’ atau umara’ dijadikan ulama. Nanti kita akan kesulitan siapa yang harus memberi nasehat dan siapa yang akan menjalankan nasehat itu. Lagi pula, Rasulullah mengingat apabila sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya (berkompeten) maka tunggulah kehancurannya.

Sebenarnya kita sudah banyak dan sudah lama mengalami kehancuran itu, namun kita juga tak kunjung jera. Jadi, hati-hatilah memilih pemimpin supaya tidak salah pilih, ulama dijadikan umara’ atau umara’ dijadikan ulama

 

 

15 Desember 2012

 

Iklan

2 Responses to Bareh Samo Dibali, Karak Untuak Urang

  1. Muhammad Yunus berkata:

    karena enggan untuk jujur dalam membangun diri, mengakibatkan berkulindan dalam ketidakjujuran yang menjadi tradisi. Semoga dihari nan fitri bisa membasuh diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: