Dakwah dan Radikalisme

Teras Utama Padang Ekspres Sabtu 3 November 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Dakwah dan radikalisme. Inilah tema besar yang akan dibicarakan empat profesor dalam seminar di Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang Sabtu 3 November 2012 ini. Pilihan tema, katanya, dilatarbelakangi perkembangan dakwah islamiyah dan realitas umat yang sering memicu kekerasan atas nama agama. Dan, konflik itu dipicu aktifitas dakwah dan masyarakat yang radikal. Bahkan salah satu pembicara akan mencoba melihat fenomena dakwah dalam radikalisme dan terorisme.

Membicarakan dakwah dan kaitannya radikalisme dan fenomena terorisme di Sumatera Barat, ibarat jualan, tentu kurang pas. Sebab, sepanjang sejarah di Minangkabau hingga hari ini, belum ditemukan indikasi dakwah memicu radikalisme apalagi terorisme. Kecuali dalam menghadapi penjajahan Belanda dulu, dakwah di Minangkabau, termasuk guru besar Fakultas Dakwah itu sendiri, nyaris hanya bicara soal akhirat, dan hampir steril dari urusan ekonomi apalagi politik praktis.

Meski tak ada larangan bicara hal tersebut di Ranah Minang, namun membicarakan sesuatu tanpa pertimbangan faktor relevansi (kedekatan) dengan masyarakat tentu bisa menimbulkan aneka penafsiran. Boleh jadi seminar itu dianggap “titipan” atau memberikan “titipan” untuk mengambil muka ke pemerintah, setidaknya ke Menteri Agama. Di samping itu, tentu bisa pula dianggap sebagai peringatan kalau bukan jadi motivasi alias pemancing.

Apapun di balik seminar yang dilabeli nasional itu, membicarakan dakwah, radikalisme dan terorisme perlu kehati-hatian. Perlu pemilahan satu dan lainnya sesuai kamusnya masing-masing. Dakwah adalah bahasa agama, merupakan sosialisasi ajaran dan nilai-nilai Islam berdasarkan Alqur’an dan Hadits. Dalam bahasa praktis, dakwah adalah upaya amar makruf nahi mungkar. Tujuannya, supaya umat melaksanakan ajaran Islam secara kaffah, di semua segi dan lini kehidupan. Dan, itu dengan metoda hikmah dan mauizah, dengan kebenaran dan kesabaran.

Sedangkan radikalisme, istilah politik, adalah kelompok yg menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis melalui kekerasan. Kemudian teror dan terorisme kelompok yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam mencapai tujuan (terutama tujuan politik).

Dari rumusan sederhana itu jelas perbedaan bahkan kontradiksi antara dakwah islamiyah, radikalisme dan terorisme. Karenanya tak beralasan menyebut dakwah radikalisme dan dakwah terorisme atau dakwah dengan misi radikalisme dan dakwah bermuatan terorisme. Mustahil pula jika dakwah dianggap sebagai pemicu/penyebab  radikalisme atau terorisme. Kecuali dakwah (baca propokasi) itu datang dari dan untuk kalangan radikalisme dan terorisme itu sendiri.

Kalau kemudian ada diantara anggota umat Islam dianggap berprilaku radikalisme, atau terlibat gerakan terorisme, selain harus dilihat arah datang tentu harus juga dicermati arah sasaran dan faktor yang menjadi pemicunya. Hal itu menjadi amat penting karena dalam berbagai peristiwa berbau radikalisme dan terorisme di Indonesia, pemicunya ada yang bersifat kasat mata dan ada yang kasat rasa. Kelompok yang dicap sebagai terorisme di Indonesia sebagaimana banyak diungkapkan berakar dari perang melawan Rusia kemudian beralih melawan Amerika di Afganistan.

Setelah Afganistan dikuasai Amerika, para pejuangnya bergerilya di berbagai kota di dunia, termasuk di Indonesia. Karena itu agaknya sasarannya adalah warga Amerika dan sekutunya. Ketika generasi pasca Afganistan mendapatkan tekanan terus menerus dari kepolisian, sasaran pun bergeser ke arah polisi. Hal itu memperlihatkan bahwa teroris, kalau itu dikatakan sebagai kelompok radikal, sasarannya bukan bangsa dan pemerintah Indonesia. Barangkali karena itu pula mereka bisa aman dan bahkan diterima di kalangan masyarakat di mana mereka bermukim.

Selain itu radikalisme, diantaranya mungkin muncul dalam bentuk gerakan terorisme, merupakan respons atau akibat dari gerakan yang juga tergolong radikal. Golongan itu selain penganut agama lain juga datang dari orang-orang yang mengaku penganut Islam. Yang disebut terakhir itu tanpa basa basi secara terus menerus melakukan gerakan transformasi iman umat Islam.

Gerakan transformasi iman melalui liberalisasi Islam ini selalu menyuarakan semboyan “tak seorang pun boleh mengatakan agamanya paling benar”. Mereka kemudian secara sistemik, terang-terangan dan terbuka melakukan desakralisasi dan rasionalisasi  Alqur’an. Diantaranya, menganggap Alqur’an yang ada sekarang tak lagi orisinil, lalu, ditafsirkan sesuai nalar logika semata. Hadits Nabi Muhammad SAW pun dihujat secara terbuka.

Gerakan ini begitu leluasa masuk ke perguruan tinggi Islam, lalu, memberikan beasiswa pasca sarjana di luar negeri. Mereka kemudian dengan mudah mengubah kurikulum madrasah sehingga MAAIN berubah jadi MAN, lalu, menjadi SMA bernuansa Islam. Pokoknya, Rukun Iman yang menjadi basis keimanan/ keyakinan umat Islam dipreteli secara semena-semena, tanpa pernah mendapat koreksi apalagi tindakan dari pemerintah.

Mengatasnamakan kebebesan beragama dan HAM, kelompok ini selalu tampil melindungi dan membela aliran yang dianggap menyimpang dari Islam. Bahkan mereka “menyerang” beberapa Perda Antimaksiat yang dibentuk DPRD berbasis umat Islam, dengan tuduhan menegakkan syariat Islam dan mau mendirikan negara Islam. Oleh mereka kebebasan beragama bukan diartikan kebebasan menganut dan mengamalkan agama masing-masing melainkan liberalisasi agama atau kebebasan melibas agama, khusus Islam.

Mereka tak menghargai subjektifitas dan sensitifitas keyakinan/keimanan yang dimiliki setiap pemeluk agama. Padahal Islam melaui ayat Alquran memberikan garisan yang tegas: lakum dinakum, waliyadin. Karena itulah umat Islam tak ‘mencikarui” keyakinan penganut agama lain. Umat Islam sangat menghormati Nabi Isa as, tapi juga tak rela Nabi Muhammad dihina. Anehnya, kala muncul reaksi atas keterusikan subjektifitas dan sensitifitas keyakinannya, kelompok itu enteng menuduh umat Islam radikal dan fondamentalis. Kelompok inilah selama era reformasi yang selalu bentrok dengan organisasi keislaman, terutama di Ibukota.

Gerakan transformasi iman dan liberalisasi agama yang berakar dan berasal dari luar Indonesia itu tak terawasi dan bahkan terkoreksi pemerintah itu jelas ikut memicu reaksi umat Islam yang kemudian dicap radikal. Padahal, setiap tantangan aktual yang dihadapi umat, dari mana pun datangnya pasti akan direspon ulama termasuk juru dakwah. Sebab, hal itu termasuk bagian amar makruf nahi mungkar.

Jadi kalau mau melihat dakwah dan radikalisme apalagi terorisme di Indonesia, janganlah memulai dari reaksi. Lihatlah secara adil dan objektif, bukan hanya dari internal umat tapi juga dari gerakan eksternal umat. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: