Islam dan Budaya Islam

Oleh Fachrul Rasyid HF

Islam dan Keadaban: Eksistensi, Tantangan dan Peluang. Inilah tema seminar yang diangkat dalam rangka ulang tahun ke 50 Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang, 15 Agustus 2013 ini.  Prof. Dr.Machasin, MA, Pjs Kepala Balitbang Kemenag berbicara tentang Ilmu Adab, Eksistensi, Tantangan dan Harapan. Prof.  Dr. Nashruddin Baidan, MA, berbicara Konstribusi Keilmuan Alumni Fak Adab, Drs. Irhash A Samad, MH, berbicara soal Presfektif Keilmuan Budaya dalm Konteks Pengembangan Budaya Minangkabau.

Tidak ditegaskan  apakah Islam dan Keadaban dimaksud adalah Islam dalam konteks perkembangan ilmu sastra Arab atau Islam dalam konteks budaya Islam. Dilihat dari keberadaan Fak. Adab (Sastra) tampaknya pembiacaraan lebih mengarah pada Islam dan Kebudayaan Islam sesuai dengan Fak. Adab yang kini dipopulerkan sebagai Fak. Ilmu Budaya.

Dengan beberapa alasan, sasaran  tema seminar itu tentu saja menarik disiasati. Sebab, Islam sebagai basis nilai dan budaya Islam sebagai aplikasi nilai sejauh ini masih berada di dua bibir jurang yang tak kunjung bertaut. IAIN umumnya dan Fak. Adab khususnya masih berperan sebagai ajang penyebaran teori-teori keilmuan atau teks-teks Islam ketimbang sebagai lembaga pembudayaan Islam, meski lembaga pendidikan dianggap sebagai wadah akulturasi budaya yang efektif.

Sikap dan peran tekstual itu kemudian menjelma dalam pendekatan dan pengajaran bahkan metoda dakwah Ilsmiyah di tengah-tengah masyarakat. Hampir semua mimbar dari surau dan sekolah –sekolah hingga ke perguruan tinggi Islam diwarnai kajian-kajian tekstual normatif sehingga meski secara keilmuan Islam, paling tidak ilmu-ilmu dasar keislaman telah diperkenalkan kepada masyarakat, namun belum mampu membentuk budaya Islami.

Meski lembaga pendidikan Islam terus berkembang, namun  pendekatan tersebut terus diwariskan sejak berabad –abad silam. Inilah penyebab kenapa muncul pemilahan/ pemisahan urusan agama (Islam) dan realitas kehidupan. Agama seolah hanya urusan pengetahuan, urusan ibadah dan urusan akhirat.  Islam sebagai basis nilai sekan berhenti sampai pada pengetahuan, ibadah dan akhirat itu.

Tak heran jika orang semakin rajin menunaikan sholat, menjalan puasa Ramadhan dari tahun ke tahun, semakin ramai yang menunaikan ibadah haji dan umrah dan ibadah lainnya, tapi budaya Islam semakin jauh dari kehidupan.

Sebuat saja soal menutup aurat. Berpuluh-puluh tahun wanita menjalankan sholat dan ke masjid menutup aurat sesuai syariat Islam. Tapi begitu keluar dari masjid atau usai menunaikan sholat, kebanyak mereka kembali ke pakaian biasa yang tak lagi menutup aurat.

Singkat kata, semakin banyak masjid yang dibangun, semakin ramai jamaah sholat dan pengajian, semakin banyak yang beribadah haji dan semakin banyak lembaga pendidikan Islam, tapi semakin ramai pula kejahatan dan kemaksiatan. Kenyataan itu memperlihatkan bahwa agama begitu terpisah dari kehidupan.

Kenapa nilai-nilai Islam belum melahirkan budaya Islami, salah satu penyebab utamanya adalah karena Islam belum diajarkan sebagai basis nilai kehidupan riil yang berimbalan akhirat. Para ilmuwan, akademisi, da’i dan ulama tak lagi memerankan diri sebagai budayawan, pembentuk budaya Islam. Artinya, Islam tidak dikembangkan secara kontekstual normatif. Dalam bahasa lain bisa dikatakan, Islam belum diajarkan untuk menjawab dan membentuk budaya masyarakat. Inilah tantang terbesar dan terberat yang sedang diahadapi Islam dan umat Islam hari-hari ini.

Padahal agama dalam konteks pembentukan budaya lokal Minangkabau, misalnya, sudah dirumuskan dengan sederhana : Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Prinsipnya, Syarak (Islam) mengato (menentukan nilai) adat memakai (membudayakan/ mewujudkannya dalam bentuk budaya). Sayang, pemahaman sederhana itupun tak mendapat sambutan akademisi IAIN.

Maka, membicarakan Islam dan Keadaban: eksistensi tantangan dan peluang, tentunya tidak hanya dibicarakan dalam presfektif transformasi keilmuan, tapi lebih pada aplikasi nilai-nilai Islam.

Dalam konteks ini maka, seharusnya M.Ts.N dan MAN yang kini hanya menjadi sekolah umum bernuansa (beraroma) Islam, harus dikembalikan menjadi lembaga pembudayaan/ pembentukan karakter  Islam sehingga jilbab tak hanya jadi pakaian seragam belaka. IAIN yang digiring jadi UIN sehingga hanya jadi pusat studi/ belajar Islam harus dikembalikan sebagai pusat pengembangan ilmu dan budaya Islam. Ini mestinya jadi tugas pokok Balitbang Kementerian Agama.

Selain itu methoda dakwah yang larut dalam pendekatan tekstual normatif, harus diubah jadi kontekstual normatif sehingga setiap norma yang ajarkan Islam mampu diaplikasikan/ terasa berguna dalam kehidupan nyata.

Begitupun seminar itu tentulah hanya sekedar pemenuhan acara ulang tahun atau sekedar menyentuhkan ujung lidah ke Departemen Agama, kebiasaan yang tak kunjung luntur di IAIN. Artinya, tak banyaklah yang bisa diharapan dari seminar tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: