Limapuluh Kota di Tahun ke 172

Teras Utama Padang Ekspres 22 April 2013

Oleh Fachrul Rasyid HF

Hari jadi pemerintahan umum Kabupaten Limpuluh Kota ke 172 diperingati Sabtu 13 April lalu. Ismardi, mantan Ketua DPRD setempat, berbicara mewakili warga. Katanya, Limapuluh Kota di bawah pimpinan Alis Marajo-Asyirwan Yunus sudah ber­be­nah. Toh, masih perlu bekerja keras agar visi dan misinya dan daerah ini lebih maju lagi. Kini ada empat hal yang perlu mendapat perhatian: per­ta­nian, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dasar. Ia berharap bebe­rapa SKPD terkait bekerja lebih serius sehingga dapat merealisasikan dana alokasi khusus yang tersedia. (Padang Ekspres 18/4/13)

Sayang Ismardi tak “mencolek” DPRD. Padahal DPRD adalah bagian pemerintahan daerah. Realisasi visi dan misi kepala daerah amat ditentukan sikap DPRD merespon usulan kegiatan kepala daerah yang dituangkan dalam RAPBD. Visi dan misi itu sulit dicapai karena usulan kegiatan ke arah itu banyak terganjal DPRD. Maka, jika nilai kinerja pemerintahan daerah dianggap buruk, DPRD pun termasuk dalam penilaian itu.

 

Tapi sebagai pengamat di luar pemerintahan, saya anggap penilaian Ismardi hal wajar. Lazim “pemain” yang berada di tengah arena hanya melihat bola dan lawan di depannya. Mereka tak melihat semua sisi di dalam dan di luar gelangang. Padahal kalau mau keluar masuk nagari tentu akan tahu bahwa Limapuluh Kota yang dulu dianggap ketinggalan sepuluh tahun belakangan mengalami perkembangan luar biasa, bahkan melebihi kabupaten lain di Sumbar.

Coba kita baca peta pembangunan sosial ekonomi sejak 172 tahun silam. Limapuluh Kota, luas 3.354,30 Km2, 13 kecamatan dan 79 nagari, kini berpenduduk 355 ribu  jiwa, dapat dipetakan ke dalam tiga wilayah. Pertama, wilayah lembah Sinamar, dari selatan ke utara antara Gunung Sago di sekitar Situjuh, Halaban dan Gunung Mas di serkitar Kototinggi. Dari timur ke barat antara Gunung Bungsu dan perbukitan Akabiliru atau dari sejajaran Nagari Talang Maua dan sejajaran Nagari Batuhampar- Pauh Sangik.

Kedua, wilayah Lembah Mahat,  dari barat ke timur antara Kelok Sembilan hingga Tanjung Pauh di perbatasan provinsi Riau. Ke selatan dan utara antara Gunung Malintang dan nagari Mahat. Ketiga Lembah Kapur, dari timur ke barat antara Muara Paiti di perbatasan Kabupaten Kampar dan Gelugur di perbatasan Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Kalau digunakan garis lurus, Limapuluh Kota merupakan persilangan garis antara Halaban – Kototinggi dan Batuhampar – Pangkalan Kotobaru. Kota Payakumbuh berada di titik persilangan kedua garis itu.

Selama penjajahan Belanda pembangunan Limapuluh Kota nyaris terfokus di garis tengah antara Halaban-Payakumbuh-Kotonggi. Hal itu terkait kepentingan politik dan ekonomi Belanda. Halaban merupakan daerah peternakan dan perkebunan. Sementara kawasan Koto tinggi terdapat tambang emas Manggani. Selain itu kawasan ini merupakan basis perjuangan kemerdekaan yang dipimpin ulama. Antara lain Syekh Abbas Abdullah Padanjapang, panglima jihad Sumatera Tengah, pendiri dan pengasuh Madrasah Darul Fun El Abbassiah, Syekh Padang Kandis yang kemudian mendirikan Tarbiyah Islamiyah Tabek Gadang, dan Syekh Mungka.

Atas pertimbangan politik pula di Era Orde Lama hingga Orde Baru, jalur Halaban – Kototinggi mendapat prioritas pembangunan. Antara lain karena kawasan ini merupakan basis perjuangan PDRI, PRRI dan jadi daerah operasi penumpasan PKI.  

Itu sebabanya Presiden Presiden Soekarno menghadiahkan gedung SD termegah saat itu untuk Padangjapang.

Kemudian SMP pertama di luar Payakumbuh dibangun di Dangung-Dangung. SMA pertama di luar Payakumbuh dibangun di Limbanang. Lalu diikuti SMA Bukit Sitabuh dekat Air Tabit, arah ke Halaban. Rumah sakit pertama di luar Payakumbuh dibangun di Suliki. Malah salah satu Tsanawiyah Negeri dan MAN pertama di Sumbar didirikan 1968 di Padangjapang, dari Dangung-Dangung.

Sementara kawasan pinggiran Halaban-Kototinggi seperti nagari di sekitar perbukitan Akabiluru dan kawasan Gunung Bunggsu hingga Mahat dan Baruh Gunung tetap saja terabaikan. Nasibnya serupa dengan daerah sekitar Batuhampar – Pangkalan Kotobaru  dan Kapur IX. Sebagian daerah ini malah tak terjangkau kendaraan.   

Setelah Era Reformasi, terutama sejak Bupati Alis Marajo, konsentrasi pembangunan diluaskan ke daerah perbukitan Akabiluru dan kawasan Gunung Bunggsu hingga Mahat dan Baruh Gunung. Jalan raya dibangun dan ditingkatkan dari Tanjung Pati, Lubuk Batingkok, Gurun, terus ke Manganti, Padang Kandis, Andiang Banja Laweh hingga Mahat.

Dari Baruh Gunung bisa melingkar ke Kotonggi, Suliki dan kembali ke Limbanang di jalur tengah. Kemudian dibangun dan diingkatkan pula jalan dari Batuhampar, Sariak Laweh terus melingkar ke Suliki. Lalu, dari Halaban via Taram sampai di Tanjung Pati.

Jalur Jalan Pangkalan- Gunung Malintang, Muara Paiti, Sialang juga ditingkatkan. Tahun lalu dibuka pula jalan dari Sialang terus ke Gelugur dan masih akan dilanjutkan ke Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Jika dibangun jalan tembus ke Nagari Tanjung di Kabupaten Kampar dan ke Pandalian di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, otomatis  jalan raya Kapur IX berubah status jadi jalan negera.

Pembangunan jalan selingkaran Limapuluh Kota itu berdampak luas. Jarak tempuh antar nagari dan ke kota lain semakin dekat sehingga mengundang terjadinya perkawinan antar nagari, meluasnya pilihan tempat kerja, pasar dan perdagangan. Yang menakjubkan adalah tumbuhnya perasaan persamaan derajat antar nagari. Dan itu tak dapat diukur dengan angka-angka.

Seiring dengan itu Limapuluh Kota menjadi sentra produksi ayam, telur, perikanan darat dan kakao, pengganti cengkeh yang sudah lama punah. Akibatnya, ibukota kecamatan berkembang jadi kota kecil yang hidup hingga malam hari. Perbengkelan dan bahkan show room kendaraan, ruko dan rumah mewah ala perkotaan mewarnai hampir seluruh nagari. Meski Limapuluh Kota miskin PAD namun ekonomi rakyat tumbuh pesat. Inilah faktor utama yang menghidupkan pasar Kota Payakumbuh hingga larut malam.

Dampak lain adalah, tiga nagari yang secara ekonomi dianggap strategis oleh provinsi kini disiapkan jadi kota baru di Limapuluh Kota. Yaitu Pangkalan Kotobaru, Kototinggi dan Sarilamak. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: