Mahat Paling Berat

Komentar Singgalang  8 Juli 2013

Oleh Fachrul Rasyid HF

Jika diadakan penelitian, agaknya, jalan raya menuju Nagari Mahat (Maek) Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, adalah jalan terberat di dunia.  Nagari itu hanya sekitar 40 km di utara kota Payakumbuh. Atau sekitar 16 kilometer dari Guntung, ibu kecamatan.

Tapi sepanjang 12 km dari 16 km dari Guntung merupakan turunan tajam dengan kemiringan di atas 45 derjat. Tikungannya patah, melebihi siku-siku sehingga tak cukup dilewati dengan seputaran stir mobil truk diesel. Akibatnya, setiap melintasi belokan itu truk harus mundur dulu. Dan, di jalan itu turun naik mesti menggunakan porsneling satu.

Yang mengerikan hampir seluruh jalan di ruas ini berada di pinggir jurang berhutan lebat dengan kedalaman antara 100 hingga 200 meter.  Sialnya, baut besi pembatas jalan dan jurang habis dicuri orang sehingga besi baja itu bergelimpangan di pinggir jalan.

Sepanjang 6 km kondisi jalannya cukup mulus dengan aspal hotmix. Tapi 6 km lagi sebelum masuk ke Nagari Mahat, jalannya hancur. Bukan hanya aspal yang terbongkar, coran jalan di sepanjangan tikungan pun sudah berantakan. Akibatnya, kendaraan di ruas jalan ini persis bak berjalan di sungai kering.

Dulu, sekitar tahun 2001  Gubernur Sumbar (alm) Zainal Bakar, datang ke Mahat meresmikan Kantor Wali Nagari. Ketika pulang menaiki tanjakan sejauh 6 km itu, sopirnya ganti porsneling dari satu ke dua. Eh, tiba-tiba mobilnya tersurut. Gubernur cemas sekali sehingga sempat kolap dan buru-buru dilarikan ke RS. Suliki, kemudian diteruskan ke Padang.

Mengerikan memang. Tapi bagi pengemudi dan pemilik kendaraan di Mahat hal itu kelihatannya sudah biasa. Siswa-siswi SMA asal Mahat juga berani berkendaraan sendirian 20 km ke Limbanang. Hanya saja, meski jumlah kendaraan belum seberapa, di sini banyak bengkel mobil. Maklum, setiap kali keluar dan pulang ke Mahat, kendaraan mereka harus diservice. Terutama kain rem dan gardan.

Upaya memperbaiki/ rehabiltasi jalan ini tampaknya tak banyak menolong.  Meski diaspal mulus, usianya tak bakalan lama. Sebab, jalan yang sempit dan curam ini tak cukup lahan untuk dibuat saluran. Akibatnya, bila hujan turun, jalan raya berubah jadi saluran. Inilah penyebab utama jalan itu hancur-hancuran.

Padahal Nagari Mahat, penduduk 12 ribu jiwa, terbilang kaya dan makmur. Selain menghasilkan gambir, Mahat punya lahan persawahan yang luas dengan beras melimpah. Mahat pun terkenal penghasil ternak sapi dan kopi selain kini kakao dan sawit.Tak aneh jika masjid bagus dan permanen. Juga banyak mobil pribadi di rumah-rumah beton yang berantena prabola. “Apapun ada di sini,” ujar Yasni, teman saya.

Buat saya, yang lebih utama adalah soal jalan raya itu. Selain biaya pemeliharannya tinggi, jalan itu juga sangat berbahaya. Bila kelak jumlah penduduk semakin tinggi dan ekonomi makin membaik, dipastikan lalulintas kendaraan ke Mahat semakin ramai. Apalagi, kini pemuka masyarakat Mahat  berniat membangun SMA sendiri untuk menampung tamatan SMP yang terus bertambah. Dengan sendirinya jalan raya yang berbahaya itu akan jadi kendala.

Lantas bagaimana dengan masa depan Mahat?. Melalui serangkaian diskusi dengan pejabat teknis dan Bupati Limapuluh Kota, Alis Marajo, saya melihat Mahat berpeluang berdampingan dengan Nagari Gunung Malintang di Kecamatan Pangkalan Kotobaru. Membangun jalan ke Gunung Malintang sejuah 20 km akan lebih efektif dan lebih baik. Kondisinya jauh lebih aman karena daerah ini lebih datar ketimbang Mahat – Guntung. Lagi pula hanya butuh sekitar tiga jembatan.

Selain itu, secara historis, etnis, bahasa dan adat, Mahat lebih dekat ke Gunung Malintang. Maklum, sebagaimana diakui pemuka adat kedua nagari, Gunung Malintang adalah balahan dari Mahat. Artinya, kelak Mahat pun bisa bergabung ke Kecamatan Pangkalan Kotobaru, sama-sama penghasil gambir.

Paling tidak, kalau dibangun jalan baru dari Mahat ke Gunung Malintang (persisnya dari Bukit Pasuak melintasi perkebunan sawit PTP IV) akan  terbentuk jalan strategi nansisional dari Guntung – Mahat- Gunung Malintang -Pangkalan.  Dengan begitu Mahat tidak lagi berada di jalur buntu.

Rencana membangun jalan Mahat-Gunung Malintang dengan sendirinya bisa masuk daftar pembangunan jalan baru di bawah Dinas Prasja Tarkim Sumatera Barat. Pembukaan jalan baru tersebut otomatis akan berdampak pada pengembangan wilayah, peningkatan kesejahteraan rakyat, diantaranya warga transmigrasi yang bermukim di Gunung Malintang. Sebuah rencana yang patut dipertimbangkan. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: