Pemerintah Zalim (?)

Komentar Singgalang Kamis 7 Februari 2013

Oleh Fachrul Rasyid.HF

Pernyataan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno saat mengunjungi korban galodo Maninjau di RSUP dr. M. Jamil Padang 31 Januari 2013 lalu, seperti dikutip media  01/02/2013, cukup menarik dan menggelitik. Katanya, para bupati/ walikota sebaiknya lebih proaktif mewaspadai bencana alam sehingga ­tiap kali ben­cana bisa zero (tak ada lagi) korban jiwa. “Ini kelalaian kita semua. Kalau tiap musibah masih jatuh korban jiwa, se­­cara tak langsung peme­rin­tah bisa dika­takan zalim dan lalai,” ujar Irwan.

Menurut Gubernur, meski gempa bumi dan tsunami tak bisa diprediksi datangnya, namun pengurangan resiko bisa diantisipasi sejak dini. Kalau semua peduli dan proaktif  malah letusan gunung api, banjir, longsor, badai, gelombang laut, abrasi pantai, dan erosi tebing sungai dapat diantisipasi sejak dini,” katanya.

Ia kemudian menyebut langkah-langkah antisipasi. Mulai koordinasi instansi dan lembaga terkait, juga disiagakan petugas dan peralatan selama 24 jam. Lalu membentuk  tim survei, dan investigasi lapangan untuk mendektsi wilayah berisiko bencana. Kemudian melakukan operasi penyisiran lapangan, dan pembersihan hulu sungai, serta mendukung pembiayaan operasional siaga darurat bencana dan operasi tanggap darurat.

Pemerintah zalim

Benarkah  jatuhnya korban galodo, banjir, longsor dan sebagainya itu akibat  kelalian kita (Gubernur/Bupati/Walikota dan warga) dan karena itu Pemerintah (daerah) dianggap zalim ?. Jawabanya, seratus persen benar. Coba simak sejumlah fakta dan bukti hukum berikut:

Pertama, menurut UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah bertanggungjawab terhadap keselamatan, keamanan, kesehatan, ketenteraman rakyat di daerahnya.

Kedua, adalah fakta bahwa Sumbar miskin sumber daya alam dan kaya bencana alam. Tapi sejauh ini  belum ada satu kebijakan, perencanaan dan progam nyata Pemprov Sumbar, Pemkab dan Pemko yang berkekuatan hukum dan mengikat untuk mengantisipasi bencana itu, khususnya galodo dan ancaman tsunami. Baik dalam bentuk peraturan maupun alokasi anggaran APBD.

Kepedulian terhadap bencana selama ini masih dalam bentuk penanggulangan korban akibat bencana dan belum dalam bentuk deteksi dini dan antisipasi, keculai dalam bentuk himbauan atau saran dan anjuran. Padahal dalam berbagai retorika selalu diucapkan bahwa mencegah lebih baik daripada mengatasi.

Ketiga, setelah galodo Limau Manih, Pauh, Padang 24 Juli 2012 yang menyebabkan 95 bangunan rusak berat, 172 rusak sedang dan 249 rusak ringan dan 3.636 warga diungsikan, pada  6 September 2012 Kepala BNBP Syamsul Maarif datang ke Padang. Selain antisipasi tsunami, Syamsul berbicara soal deteksi dini galodo.  Saat berada di Painan, Syamsul setengah memerintah menghimbau agar Pemrov Sumbar dan Pemkab/Pemko segera membentuk tim terpadu deteksi dini tempat-tempat rawan galodo.

Katanya, bentuklah tim terpadu. Libatkan semua pihak, Polri,TNI dan ajak mahasiswa mapala menjelajahi perbukitan yang berpotensi galodo. Ambil tindakan segera sebelum menjadi bencana. Sediakan dana melalui APBD. Pemerintah siap membantu.

Mengantisipasi ancaman tsunami Syamsul mengingat Pemprov/Pemkab/Pemko, supaya segera menyusun rencana antisipasi. Siapkan lokasi dan bangunan yang mungkin dibangun jadi selter. Bikin selter sebanyak-banyaknya. Sebelum difungsikan, boleh dipakai untuk olahraga dan pendidikan. Selter itu penting. Sebab, warga yang tinggal di wilayah 3 km dari pantai tak mungkin lari menyelematkan diri. Di kawasan ini yang diperlukan bukan jalur evakuasi tapi selter. “Ini menyangkut keselamatan manusia dan kemanusiaan, pemerintah pusat pasti membantu,” begitu Syamsul memberikan jaminan.

Malah sebelumnya, Presiden SBY mengadakan rapat terbatas dan kemudian melalui staf ahli kepresidenan, Andi Arif, Pemprov Sumbar diingatkan betapa dahysay tsunami yang akan terjadi. Karena itu Pemrov diminta mempersiapkan segala sesuatu untuk menyelamatkan rakyat.

Empat, ternyata sampai hari ini tim terpadu deteksi dini itu belum juga terwujud. Padahal sepekan sepeninggal Syamsul ( 12 September 2012 ) terjadi galodo kedua di Limau Manis. Dua nyawa melayang, lima rumah tertimbun dan ratusan lainnya terendam. Lalu, pada 31 Oktober 2012, rakyat meratap lagi diserang banjir dan galodo di  Nagari Tanjung Betung, Padang Gelugur dan Rao, Pasaman.

Belum teduh warga Pasaman, 31 Desember 2013 meledak pula galodo di Nagari Pakan Rabaa, Solok Selatan. Ribuan jiwa mengungsi, ratusan rumah terhimpit lumpur  2 meter dan dua nyawa melayang. Padahal Juli 2009 Ir. Zainal Saleh saat itu Kepala Dinas PSDA sudah mengingatkan bahwa cekdam di celah perbukitan sebelah selatan Pakan Rabaa sudah tersumbat dan membentuk danau kecil. Inilah yang kemudian meledak  jadi galodo.

Belum kering lumpur galodo di Solok Selatan, pada 27 Januari 2013 terjadi pula galodo dahsyat di Kampung Data Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam. Sebanyak 12 rumah hancur dan  20 nyawa melayang. Tiga hari kemudian (31 Januari 2013) galodo menimpa Kecamatan Empat Nagari Bayang Utara. Jalan raya putus. Empat kenagarian terisolasi dan 124 warga diungsikan.

Meludahi langit

Nyatanya kini, meski Kepala BNPB sudah memberikan jaminan biaya bagi pembangun selter dan akan membantu tim deteksi dini galodo, peta dan rencana pembangun selter itu masih dalam mimpi. Tim deteksi dini yang mestinya dimotori Dinas Kehutanan, Bapedalda dan Dinas PSDA juga masih dalam mimpi. Artinya, Pemda memang lalai dan bahkan zalim. Karena itu, tak berlebihan pula kalau pernyataan dan himbauan Gubernur Irwan tentang peningkatan koordinasi deteksi dini bencana tersebut, bak meludahi langit. Yang terkena akhirnya muka sendiri.

Berdasrkan fakta di atas, lalu, bila terjadi tsunami, banjir, galodo dan longsor yang membawa korban jiwa dan harta benda, maka gubernur, bupati, dan walikota, sesuai KUHP dan UU No.32/2004 itu dapat dituntut secara hukum. Bukankah kelalaian (langsung atau tak langsung), apalagi akibat kezaliman, mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda orang lain adalah kejahatan?(*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: