Penghulu Bersinggulung Batu

Opini Singgalang 13 February 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Setiap kali berbicara sisi negatif praktek beragama dan beradat (akhlak, moral dan prilaku masyarakat) terutama di kalangan generasi muda di ranah Minang’ yang jadi sasaran ocehan nyaris selalu komitmen adat basandi syarak, syara’ basandi kitabullah (ABS-SBK). Ujung-ujungnya bermuara kepada ninik mamak, penghulu dan pemangku adat.  Simak tulisan Riwayat, mahasiswa pasca sarjana IAIN Imam Bonjol Padang berjudul Agama dan Degradasi Moral (Opini Singgalang 17/2/ 2012), yang “menyambung” tulisan Syofyan Kudan berjudul Membentengi Moral Generasi Muda (Opini Singgalang 13/2/2012).

Syofyan mendeskripsikan beberapa kejadian sebagai indikasi kerusakan moral sebagian generasi muda. Diantaranya, mereka yang terlibat pergaulan bebas, asusila, pronografi pornoaksi sampai pada narkoba. Syofyan memberi solusi sederhana. Yaitu, tingkatkan pembinaan agama dan ABS-SBK pada generasi muda sejak SD, SLTP, SLTA hingga perguruan tinggi. Lalu, tingkatkan pengawasan oleh orang tua,  ninik mamak, masyarakat, dan pemerintah.

Riwayat membenarkan kenyataan itu, lalu, menyimpulkan penyebabnya.  Diantaranya Riwayat menggunakan pendapat Azyumardi Azra, bahwa orang Minang terjebak dalam materialisme sehingga lebih bangga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dan perguruan tinggi umum ketimbang di sekolah dan perguruan tinggi agama. Tak heran, jika pendidikan yang berbau agama di Ranah Minang mengalami pasang surut, kalau tidak dikatakan  jalan di tempat.

Riwayat sendiri berpendapat,  degradasi moral terjadi karena daya gebrak ABS-SBK mandul. Filosofi ABK-SBK masih sebatas utopia, symposium, seminar dan diskusi-diskusi massif, sebatas mimpi dan bualan yang tak membawa perubahan secara nyata pada sikap dan perilaku generasi muda dan masyarakat. Sebagi bukti ia menunjuk penyakit sosial yang semakin meningkat.

Riwayat mempertanyakan apakah ABS -SBK masih layak dijadikan filosofi kehidupan di Minang? Padahal kalau ABS-SBK diyakini mampu membentengi generasi muda maka seharusnya penerapan ABS-SBK diprioritaskan dan didukung berbagai pihak, seperti ninik mamak, bundo kandung, dan alim ulama dan pemerintah. Para intelektual perlu menyusun kembali konsep ABS-SBK lebih konkrit sehingga dapat diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan.

Bukan Mimpi

Perhatian Riwayat pada ABS-SBK dan pendidikan agama patut diacungi jempol. Namun sebagai calon doktor di IAIN keluhkesah dan keraguannya pada ABS-SBK justru mengisyaratkan betapa jauh jarak perguruan tingginya dan realita yang berkembang di masyarakat sehingga pengetahuannya tentang ABS SBK terkesan mengawang.

Padahal, soal degradasi moral di sebagian kalangan generasi muda, di berbagai belahan dunia ini, termasuk di Sumatera Barat, tak perlu diperdebatkan lagi. Kondisi itu, sekalipun merujuk Prof. Dr. Azyumardi Azra, tak rasional dan tak relevan didakwakan sebagai kelemahan ABS-SBK. Sebab, menydodok ABS-SBK sama halnya menghujat Islam, sebagaimana ramai dilakukan pengikut orentalis, dan paham sekularisme dan liberalisme terhadap adat dan agama di Indonesia .

Untuk diketahui Sumatera Barat hanyalah sebuah provinsi di Indonesia dan Minang salah satu sub etnis masyarakat budaya Melayu Nusantara. Karena itu saya menyebutnya “Minangkabau Bukan Sebutir Telur” (FR-Media Indonesia 27/3/2007) yang terbebas dari pencemaran gombalisasi global, steril dari segala hama sekulariasasi/liberalisasi agama dan kultural. Minang itu berada di tengah pergulatan budaya regional dan internansional. Pergulatan itu terus berlangsung dan korban, seperti degradasi moral, terus berjatuhan.

ABS-SBK sendiri bukan kebijakan negara. Ia hanya doktrin/ komitmen sosial dan moral  bagaimana menjadikan Islam sebagai landasan sistem nilai budaya. Ia bergulat menggali nilai-nilai Islam, lalu memilah mana tradisi adat yang sejalan dan mana yang belum sesuai dengan nilai-nilai Islam itu. Syariat Islam jadi rujukan melengkapi yang kurang dan meluruskan mana yang menyimpang sampai akhirnya ABS-SBK bisa mewarnai kehidupan. Jika Riwayat memang memahami tradisi beradat dan beragama tentu dengan almamaternya ia bisa meneliti mana adat yang sudah dan belum sesuai syariat Islam sehingga terpetakan mana yang harus dipertahankan dan yang perlu disesuaikan dengan Islam.

Pemrov Sumatera Barat sendiri bersama Pemko/Pemkab, paling tidak sejak pemerintahan Gubernur Gamawan Fauzi sudah menyiapkan langkah dan SDM pelopor untuk mewujudkan ABS-SBK. Antara lain memberikan pembekalan ABS-SBK kepada ninik mamak, walinagari, lurah dan kepala desa. Kemudian, sejak 2006 terus diadakan pelatihan da’i, guru mengaji, memberi honor imam masjid dan guru mengaji, menerbitkan Perda wajib tulis baca Alqur’an, Perda Antimaksiat, pakaian muslim sebagai seragam sekolah dan PNS dan sebagainya.

Untuk lebih konkret dan terukur, Gubernur Irwan Prayitno pada 22 September 2011 lampau bersama ulama, pemuka adat, budayawan, dan kalangan akademisi merumuskan indikator pengamalan ABS-SBK sebagai salah  satu dari tujuh gerakan terpadu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Pemprov Sumatera Barat. Rumusan itu kemudian disosialisasikan ke berbagai elemen dan dalam berbagai kesempatan.

Mengingat bahwa prinsip ABS-SBK sebagai jalinan yang menyatu antara adat dan agama maka, tugas penegakkan ABS-SBK tanggungjawab semua pihak di dan asal Minangkabau; ulama, da’i, mubaligh dan para ustaz bersama ninik mamak/ pemuka adat, pejabat pemerintahan, aparat negara, kalangan pendidik dan akademisi.

Mengandalkan ninik mamak jelas tak memadai. Maklum, kewenangan mereka hanya sebatas kaum/suku di wilayah nagari. Mereka tak berkuasa sampai ke sekolah, perguruan tinggi, objek wisata, hotel dan organisasi pemerintahan. Itupun  ninik mamak sudah bak berbeban berat bersinggulung batu. Jangan lagi dihujat dan diintervensi dengan berbagai teori.

Pemrprov dan pemko/pemkab masih lagi melakukan penguatan ninik mamak. Antara lain diusahakan adanya Forum Kemitraan Polisi dan Masayarakat (FKPM) di tiap nagari sehingga persoalan masyarakat yang berbau adat dan agama bisa diselesaikan para ulama dan ninik mamak. Dengan lembaga ini ninik mamak bisa lebih berwibawa. (Satu Kata dalam ABS-SBK, FR- Refleksi Haluan  20/10/2011). Saya ikut berpartisipasi dalam sosialisasi ABS-SBK dan FKPM itu.

Karena itu pendapat yang mengganggap  ABS-SBK hanya mimpi dan bualan kosong boleh dibilang sudah kesiangan. Sebab, sebagian besar adat itu sudah berjalan mengikuti syariat Islam. Hanya saja, yang diperlukan adalah penyempuraan dan membangun iklim sosial yang lebih islami.

Namun harus diakui, pembudayaan nilai-nilai, termasuk ABS-SBK yang berada di tengah pergulatan budaya global, tentu bukan bak memanen buah terung. Sedangkan pembudayaan nilai-nilai islami misalnya sikap istiqamah, keberanian mengatakan kebenaran, kejujuran, keikhlasan dan kepedulian sosial, di perguruan tinggi Islam yang dikelola secara khusus, masih jauh panggang dari api. Tak aneh, meski sudah berusia puluhan tahun masih saja tendengar adanya tindak pidana korupsi, kasus skripsi bodong dan sebagainya di perguruan tinggi dan departemen yang dinamai agama.

Mendalilkan pendapat Azyumardi Azra tentang kecenderungan masyarakat memilih sekolah umum ketimbang sekolah agama, lalu dikaitkan dengan penerapan ABS-SBK dan degradasi moral, juga tak relevan. Soalnya, pengasuh dan para pakarnya sendiri justru lebih cenderung mengubah lembaga pendidikan agama itu jadi pendidikan umum.

Tak aneh, jika tak seorang pun kalangan perguruan tinggi Islam yang bersuara kala Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri dan Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri disulap jadi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliayah Negeri saja sehingga sekolah agama itu berubah jadi sekolah umum bernuasa agama.

Bahkan IAIN yang dicetuskan sebagai lembaga regenerasi ulama dan budayawan muslim, justru rektor dan para guru besarnya bersepakat mengubahnya jadi universitas umum berlabel Islam (UIN). Azyumardi sendiri ikut mendorong perubahan ke UIN itu.

Lantas bagaimana mengharapkan pembudayaan ABS-SBK dari lembaga dan pemimpin sosial sementara lembaga pendidikan agama dibiayai negara yang berkompeten jadi agen perubahan/ perbaikan kehidupan beragama justru berubah arah jadi pendidikan umum. Padahal, lembaga pendidikan adalah wadah paling efektif untuk sosialisasi dan akulturasi budaya.

Saya kira jika memang tak berniat menghancurkan kultur islami semua pihak perlu bahu membahu mempertahankan, menggali dan memelihara potensi yang ada. Jadikan semua lembaga pendidikan, apalagi yang bebasis agama, sebagai wadah pembudayaan ABS-SBK. Ambil bagian sesuai komptensi masing-masing. Karena, tiap muslim yang menyoal ABS-SBK, ia berada dalam persoalan itu.(*)

Padang 19 Februari 2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: