Wartawan Bukan Profesi Preman

Komentar Singgalang

Oleh Fachrul Rasyid HF

Tulisan ini terinspirasi perlakuan buruk seorang istri pejabat penting Sumatera Barat sebagaimana diungkapkan seorang wartawan kepada saya Jumat, 24 Mei 2013 lalu.  Katanya, istri pejabat itu mengundang wartawan mengikuti acara yang diselengarakannya. Lalu, ia minta dimuat berita dan foto-fotonya lebih banyak dalam ukuran besar.

Karena berupa pesanan, wartawan tahu benar bahwa berita nyonya tersebut adalah pariwara alias iklan. Sesuai aturan main, beberapa hari kemudian beberapa wartawan yang menerima pesanan menagih harga pariwara itu. Ternyata jawabannya sungguh mencengangkan. Katanya, kami sedang tidak punya. Wartawan, kok, tahunya minta uang saja. “Mestinya berterimakasih tu, dengan dimuatnya foto-foto saya, korannya  jadi laku”, bentaknya.

Mendengar ucapan itu para wartawan balik kanan. Mereka pada menggerutu. “Kami tidak asal minta uang. Yang kami tagih cuma harga pariwara sesuai pesanannya. Kalau belum punya uang bilang saja baik-baik.  Tidak perlu sampai mendabik dada gara-gara memuat foto si ibuk koran kami jadi laku. Padahal sebelum dia ada di Sumbar ini koran kami sudah laku juga,” kata mereka.

Terus terang saya selaku Direktur Program Sertifikasi dan Komptensi wartawan PWI Sumbar cukup sedih mendengar ocehan seorang istri pejabat itu. Saya jadi ingat PWI, ingat Forum Editor, ingat AJI yang selama ini sering menyelenggarakan pendidikan wartawan untuk menegakkan integritas dan profesionalisme anggotanya.

Ucapan seperti yang dilontarkan ibuk penjabat itu dapat dikatakan sebagai sebuah penghinaan terhadap profesi wartawan. Tapi saya kira tak perlu dituntut karena dia kelihatannya tak mengerti profesi wartawan atau, karena istri pejabat,  ia sedang lupa diri dan jadi angkuh. Memperkarakan orang yang berjiwa kecil tentu akan menyeret wartawan jadi orang rendahan.

Padahal wartawan bukan profesi preman, bukan profesi murahan dan rendahan yang bisa disuruh-suruh dan dibentak-bentak. Kalaupun ada wartawan yang mengandalkan premanisme atau menyalahgunakan “kewenangan” pers, sebetulnya dia bukan wartawan. Dia mungkin lebih tepat disebut preman.

Wartawan, meski sering tampak miskin dan tak rapi tapi mereka adalah pekerja intlektual. Bekerja dengan kecerdasan pikiran, ketajaman logika, dengan refrensi dan suara hati nurani. Apabila hatinya terusik, pikirannya akan bekerja dan logikanya akan jalan. Dia tidak akan respek meski itu terhadap pejabat, guru besar dan siapapun yang angkuh, suka petenteng dan sok kuasa yang tak tahu menerima wartawan sebagai rekan bicara setara.

Mungkin tak banyak yang tahu, sebagai pekerja intlektual, sejumlah media secara resmi menetapkan standar calon wartawannya berpendidikan S1 dengan IP minimal 3,2, lincah berkomunikasi dan suka berorganisasi. Hal itu jadi penting karena perusahaan pers merupakan gabungan perguruan tinggi dan bisnis.  Dan usaha bisnis itu baginya modal penggerak idelaisme pers.

Karenanya, sebagaimana di perguruan tinggi, perusahaan pers mewajibkan diri punya perpustakaan dan lembaga penelitian/pengembangan untuk mengasah intlektualitas dan wawasan  wartawannya.

Sekali lagi wartawan bukan profesi rendahan atau pesuruh yang bisa dipesan-pesan tulisannya semau-mau sumber. Apakah sumber itu pejabat, pengusaha, atau aparat sekalipun. Sepanjang tidak memenuhi kaidah jurnalistik, wartawan tak akan mau menulis. Sebab, selain akan merusak profesi dan medianya, ia bisa terjebak dalam keberpihakan dan pembohongan publik sebagaimana sering dilakukan para pejabat.

Kepada rekan-rekan wartawan supaya tetap memelihara etika pergaulan dan etika pers. Andalan wartawan adalah komunikasi. Jika ada sumber-sumber berita yang tak komunikatif  lebih baik dijauhi, dari pada kelak terbawa arus emosi dan merusak profesi. Seorang sumber biasa yang komunikatif jauh lebih baik dari seribu sumber yang angkuh dan mendikte.

Hubungan antara wartawan dan sumbernya adalah saling menguntungkan. Sumbernya beruntung karena dipublikasikan, dan wartawan beruntung karena mendapatkan sumber yang berkompeten dan layak jual. Figur publik, tokoh politik, pejabat penting, artis dan para news maker lainnya sadar benar popularitas mereka sangat dipengaruhi publikasi media. Karena itu mereka tak sembarangan memperlakukan wartawan.

Nyonya pejabat yang berlaku buruk kepada wartawan itu tampaknya bukan figur publik, bukan akademisi dan tokoh yang pembicaraannya bisa jadi pedoman dan berarti bagi masyarakat. Karena itu kita pantas curiga, janga-jangan karena memuat foto dan pernyataannya di media justru membuat koran tidak dilirik pembaca. Maka, untuk sumber seperti itu, daripado mandapek lebih baik kehilangan (*)

 

 

 

 

Padang 26 Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: