Kenapa Partai Islam ke Prabowo?

Komentar 3 Juni 2014
Oleh Fachrul Rasyid HF

Hari-hari menjelang munculnya capres dan cawapres sungguh menyesakkan dada umat. Maklum ada lima partai berbasis Islam. Perolehan suara kelimanya dalam pemilu legislatif 9 Juli 2014 lalu sekitar 31,39 persen ( PKB 9,04 persen, PAN 7,57 persen, PKS 6,79 persen, PPP 6,53 persen dan PBB 1,46 persen) cukup syarat untuk mengusung sepasang capres-cawapres.

Tapi apa hendak dikata. Masing-masing partai berkeinginan memajukan capres dan cawapres sendiri, suatu hal yang sulit mendapatkan dukungan bersama. Di tengah kebuntuan itu Suryadarma Ali, Ketua Umum PPP merapat ke Prabowo Subianto. Dan itu sempat membuat “gaduh” di kepenguruasan pusat PPP.

Tentu saja “gaduh” di PPP itu membuat gunda Prabowo. Situasi ini segera dimanfaatkan Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN, untuk meminang Prabowo. Ternyata pucuk dicinta ulam tiba, Prabowo menerima dan langsung mendeklarasikan dirinya sebagai capres dan Hatta sebagai cawapres. Kejadian itu kemudian meneduhkan suasana dan makin membulatkan dukungan PPP pada Prabowo. Partai Islam yang lain PKS dan PBB pun menyatukan barisannya ke Prabowo-Hatta.

Hanya Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, mungkin berharap jadi cawapres Jokowi, menjadi orang pertama yang merapat ke barisan Jokowi. Nyatanya, Jokowi kemudian memilih Yusuf Kala, mantan Ketua Umum Golkar, sebagai cawapresnya. Padahal ARB, Ketua Umum Golkar, bergabung ke dalam barisan Prabowo. Kejadian itu tak hanya memecah dukungan Partai Golkar tapi juga barisan NU dan PKB. Beberapa tokoh Golkar kemudian menyatakan dukungan kepada Jokowi dan sejumlah petinggi NU dan PKB menyatakan dukungannya untuk Prabowo- Hatta.

Spirit bagi Partai Islam

Pertanyaannya kemudian adalah kenapa empat partai berbasis Islam itu (22,35 persen suara) memilih merapat ke Probowo – Hatta? Di luar negosiasi dan hitung-hitungan pembagian jabatan dan kekuasaan, kita membaca beberapa alasan:

Pertama, karena memang partai-partai Islam belum mampu memunculkan sepasang capres/cawapres yang bisa diterima bersama. Prabowo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, meski dari partai nasionalis namun seperti dinyatakannya, partainya adalah nasionalis religius. Selain itu, meminjam istilah AA Gym, Prabowo dianggap lebih memahami perjuangan dan aspirasi umat Islam.

Tapi jauh sebelumnya, isyarat bahwa partai-partai berbasis masyaraat Islam akan bersatu bersama Prabowo sudah terbaca saat Sutrisno Bakir, mantan Ketua Umum PAN bertemu beberapa kali. Sutrisno selaku Ketua Umum Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PKB-PII) misalnya, menyatakan dukungannya kepada pencapresan Prabowo saat Rakernas PKB PII di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Sabtu malam, 1 Maret 2014.Untuk diketahui anggota PKB-PII banyak menduduki jabatan penting di PPP, PKS, PAN dan PBB. Ketika Prabowo kemudian memilih berpasangan dengan Hatta Rajasa, 30 Mei 2014 lalu Sutrisno berbalik mendukung Jokowi-JK.

Kedua, pasangan Prabowo – Hatta dianggap memberi spirit baru dan kekuatan baru bagi barisan partai Islam menghadapi persoalan sosial budaya, ekonomi dan agama yang mendera bangsa dan umat Islam Indonesia hari ini dan kedepan. Karena itu bisa dipahami jika partai-partai Islam tersebut mengamini seruan MUI dan Forum Ukhuwah Islamiyah yang mendesak partai politik berbasis massa Islam berada dalam satu koalisi jelang pemilihan Presiden Juli mendatang.

Spirit itu menyadarkan bahwa melihat kondisi dan tantangan umat Islam saat ini dirasa perlu adanya tokoh dan pemimpin lintas partai dan ormas Islam yang kuat dan komptensional. Paling tidak, spirit itu mengisyaratkan kepada seluruh pemimpin partai bersama ulama dan elemen umat Islam bahwa sudah tiba saatnya punya wadah bersama mungkin berbentuk Forum Ukhuwah Partai –Partai Islam.

Ketiga, karena faktor sensitifisme keyakinan/ aqidah. Hal itu selain faktor hubungan Prabowo dan tokoh-tokoh Islam selama ini keberadaan Hatta Rajasa, selaku Ketua Umum PAN, partai yang nota bene lahir dari Muhammadiyah, sebagai cawapres kemudian faktor Fadli Zon sebagai Ketua umum, Gerindra, yang dibesarkan dalam organisasi pemuda/pelajar Islam semakin menguatkan harapan bahwa pasangan ini lebih memahami, paling tidak lebih dekat pada barisan Islam.

Keempat, karena faktor sensitifisme sejarah. Sebagaimana diketahui kemerdekaan bangsa dan negara ini diraih atas keterpaduan tentara dan umat Islam. Meski Prabowo bukan lagi tentara aktif, tapi orang yang berlatar belakangan militer, peran tokoh militer dan Islam, seperti yang ditunjukkan Jendral Sudirman dan para ulama besar dalam perjuangan kemerdekaan jelas membangunkan kesadaran bahwa TNI dan umat Islam selalau bersatu dan berada di garis terdepan membela bangsa dan negara ini. Sejarah serupa juga ditunjukkan TNI dan umat Islam ketika negara dan bangsa menghadapi rongrongan Partai Komunis Indonesia dan G.30.S/PKI 1965.

Jika kemudian petinggi Partai Golkar memilih bersatubarisan dengan Probowo- Hatta, tentu tak terlepas dari kesadaran yang melatarbelakangi sikap mayoritas pertai-partai berbasis umat Islam tersebut, selain tentunya hitungan-hitungan pembagian kekuasaan dalam kabinet mendatang yang memang lumrah dalam koalisi. Sebab, sebagaimana diketahui sejumlah tokoh penting Partai Golkar, seperti ARB (Ketua Umum), Akbar Tanjung (Ketua Dewan Pertimbangan), Fadel Muhammad, Fahmi Idris (Ketua DPP), Idrus Marham (Sekjen) adalah mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam. Idrus Marham sendiri adalah mantan Ketua Bakor Remaja Masjid Indonesia.

Karena itu bisa dimengerti jika alasan serupa kemudian mendasari pemikiran sejumlah tokoh NU dan PKB, seperti Mahfud MD dan Oma Irama yang sebelumnya berkampanye untuk PKB bergabung ke dalam barisan Probowo -Hatta. Sebaliknya, jika dari kalangan Golkar sendiri ada yang menyeberang ke barisan Jokowi, tentulah tak terlepas dari faktor senisitifisme aqidah dan sejarah itu.

Dalam situasi sulit dan kritis, memang, sensitifisme agama dan sensitifme sejarah akan muncul secara reflektif menuntun pertimbangan dalam mengambil keputusan. Dan, umat Islam Indonesia yang membaca sejarah bangsa serta perkembangan informasi dan peristiwa di sekitarnya, tentu juga akan terpanggil untuk menggunakan alasan serupa dalam pemilu presiden Juli 2014 mendatang.(*)

Padang 30 Mei 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: