Tentang Fachrul

Fachrul Rasyid,eks wartawan MBM Gatra lahir di desa Tanjung Kecamatan XIII Koto Kampar  Kabupaten Kampar-Riau, 2 Maret 1955.  Sejak usia sembilan tahun tinggal di Payakumbuh. Mengawali karir sebagai wartawan koran kampus di IAIN Imam Bonjol Padang. Sejak 1981 hingga 1994 jadi wartawan Majalah Berita Mingguan Tempo disamping menjadi Koordinator Reportase di Harian Singgalang hingga tahun 1989.  Setelah majalah Tempo dibredel pemerintah Mei 1994, bergabung dengan Majalah Berita Mingguan Gatra dan sempat jadi Kepala Biro Gatra di Medan. Kemudian balik lagi ke Padang. Setelah pensiun dari karyawan Majalah Gatra 2007 banyak menulis di koran-koran Sumatra Barat dan jadi instruktur berbagai pendidikan dan pelatihan jurnalistik.

35 Balasan ke Tentang Fachrul

  1. iwansulistyo mengatakan:

    Salam Kenal, Pak Fachrul Rasyid.
    Semoga tetap sehat & sukses.

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih atas perkenalan anda. Semoga anda bisa terus mengikuti blog ini dan tentu juga bisa terus mengikuti perkembangan kampung halaman. Dan kita bisa berdiskusi tentang itu di sini. Terimakasih.

  2. Wempi mengatakan:

    Salam kenal juga ah

  3. tanjabok mengatakan:

    salamualaikum,

    dalam salah satu tulisan bapak, bapak ada menuliskan sebagai salah satu peneliti-penulis buku 20 Ulama Minangkabau..

    kebetulan beberapa tahun belakangan ini, saya kesulitan mencari buku tersebut… mohon petunjuknya…

    salam kenal,

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Tentang Buku 20 Ulama Minangkabau anda bisa hubungi Islamic centre Sumatera Barat atau IAIN Imam Bonjol cq Sdr Yulizar Yunus.

  4. abdullah khusairi mengatakan:

    Assalamualaikum. Wr Wb. Bang, kapan tulisan-tulisan ini bisa dirakit dalam sebuah buku? Ditunggu.

  5. mario holoe mengatakan:

    salam kenal bang.
    artikelnya bagus2 dijadikan refensi nih.

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih anda telah mengikuti tulisan-tulisan saya. Jika ada yang bermanfaat ambillah manfaat itu. Salam kenal balik, terimaksih.

  6. jean elvardi mengatakan:

    bung fachrul satu diantara jurnalis yang handal dan punya integritas,saya pernah berdiskusi dgn beliau tentang beberapa putusan hakim thd kasus DPRD SUMBAR dulu.Bravo bang Fachrul.

    • elvard mengatakan:

      Sukses buat bang Fachrul Rasjid, semoga dg tulisan beliau bisa jadi pencerahan bagi kaum intelektual muda Sumbar,Selamat

  7. ekozul mengatakan:

    artikelnya bagus2,,, salam kenal.
    Terima kasih.

  8. imam santoso dastir mengatakan:

    Ass. Ada pernah mengemukakan tentang otonomi di provinsi. Kebetulan sy mengangkat tema tsb untuk penelitian sy. gimana kalo kita tukar pikiran. Tks Wass.

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih atas perhatian terhadap tulisan saya. Saya kira semua setuju kita terus bicara soal otonomi daerah yang kini seakan telah memisahkan antara daerah dan pusat. Anda masih bisa lagi membaca tulisan saya Otonomi Merdeka, yang memperlihatkan betapa presiden yang dipilih rakyat seakan tak berhubungan lagi dengan rakyat. Apapun yang terjadi di daerah seakan hanya menjadi urusan daerah. Berbabagi impilkasi dari otonomi, baik pilkada maupun penegakkan hukum membuat tak ada lagi di atas rakyat. Sekali lagi terimakasih, saya memang membutuhkan pemikiran untuk membicarakan otonomi ini dengan segal eksesnya di seluruh negeri ini.

  9. sempulur mengatakan:

    Sekedar berkunjung dan ingin berkenalan dari komunitas keluarga miskin.
    Semoga berkenan mengunjungi blog kami untuk menyumbang kesempatan meraih masa depan yang lebih baik dan harmonis.

  10. Adiyansyah Lubis mengatakan:

    Salam kenal bang (Bapak)…

  11. zam mengatakan:

    wah ketemunya disini sejarah surau dan didikan subuh luar biasa, jadi saya bisa bicara hal ini pada anak tpa tempat saya

  12. yulizal yunus mengatakan:

    Bung Fachrul, ada kerinduan nak berdiskusi. ide kita ingin menunjukkan minang 1000 / gudang ulama masih belum terwujud. Gimana kalau kembali kita bersama menulis menggali pemikiran ulama dan implikasinya ke depan dalam pengukuhan peran ulama. Ada yang ganjil sekarang, ulama dilatih Pemda, bukan muballigh/ dai. Apa tak salah, ulama bersanding bupati, wako, gub. Sama halnya melatih bupati, wako, gub…Intinya tak tahu lagi mana yang ulama, pada kabur semua konsep… apakah ulama itu di MUI saja yang sekarang ditandinggi MUI Putih..he he Kalimat mencla mencle ini pernyataan kemelut pemikiran yang ingin menemui salurannya …yuk… mana shofwan, estezet ambang sang cucu mgek diri, emma, ilza dst…

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Sdr Yulizar Yunus. Terimakasih anda rupanya mengikuti blog saya. Seperti tercermin dari tulisan-tulisan saya, saya kurang suka berdiskusi kalau hanya untuk mempertanyakan, misalnya tentang keberadaan ulama, MUI, atau mubalig yang ada sekarang. Kalau hanya sekedar bertanya, maka pertanyaan saya adalah kenapa puluhan profesor/doktor plus MAg dan sejenisnya di IAIN Imam Bonjol itu tak diakui sebagai ulama atau tak dirasakan sebagai ulama? Kalau anda mau jawabannya ajak saya diskusi secara resmi dan terbuka di IAIN itu. Meski dalam khitthahnya IAIN disebut sebagai lembaga pendidikan pencetak ulama, tapi yang lahir cuma da’i dan mubalig. Mereka selalu berbicara tentang kelangkaan ulama, padahal dirinya sendiri yang seharusnya jadi ulama malah tak mau berusaha jadi ulama. Keinginan menjadikan IAIN IB jadi UIN adalah bukti nyata bahwa IAIN telah keluar dari khitthahnya. Sekaligus juga bukti bahwa di sana tak ada lagi ulama. Sebab dengan UIN mereka bisa leluasa menempatkan diri sebagaimana dosen, guru besar atau apalah namanya di perguruan tinggi lain. Karena itu janganlah lebih suka menyoal kenapa ulama dilatih Pemda, kenapa yang diakui ulama itu yang ada di MUI karena memang ulama tampaknya perlu dilatih dan diorentasikan bagaimana seharusnya jadi ulama. Jika Pemda yang melatihnya karena IAIN sebagai lembaga pencetak ulama tak melatih orang jadi ulama. Yang dilatih disitu cuma jadi PNS, lalu jadi dosen, bergelar MAg, Dr. Prof dan entah apalagi, yang tak pernah keluar, melihat, merasakan, dan berbuat di tengah-tengah masyarakat sebagai budayawan Islam. Mereka merasa sudah meemberikan segala-galanya dengan jadi mubaligh. Begitu hebatnya, banyak dosen yang meninggalkann kelas karena mengejar mimbar mubalig. Padahal ulama itu budayawan Islam, yang membentuk prilaku, menananmkan nilai-nilai yang ditunjukkan melalui perbuatan dan sikap konsisten (istiqamah) dengan aqidah, syariah dan muamalahnya, bukan dengan menunjukkan gelar akademisnya di mimbar-mimbar ceramah. Jadi kalau mau bicara ulama sekarang sebaiknya bicara sajalah tentang kondisi, sikap dan prilaku di IAIN itu. Bukankah yang menikmati rezki dari status simbol ulama itu orang-orang di IAIN?
      Begitu dulu, ya. Kalau memang benar mau mengajak saya berdisuksi, bukalah forum resmi dan terbuka. Siapa lagi yang membicarakan ulama itu kalau bukan orang IAIN di IAIN bukan di UIN. Sebab, ulama bukan objek studi melain subjek. Tak usah membawa-bawa nama lain, karena masing-masing punya profesi, orentasi dan misi sendiri-sendiri. Salam, saya tunggu undangan dari anda.

      • Muhammad yusuf el-Badri mengatakan:

        asslam wr. wb. salam kenal bapk fachrul. saya setuju dengan pendapat bapk, ketika OPAK/OSPEK tahun 2008, mengingat jurusan kami adalah jurusan yang paling ditakuti -kalau tidak dikatakan tidak diminati) mahasiswa diiming-imingi bekerja diberbagai instansi pemerintah dan swasta, kemudian lagi sang Dr itu mengatakan “kalau anda tidak mendapat pekerjaan di instansi2 itu, paling tidak anda dipakai sebagai dai oleh masyrakat, kan sudah bisa juga anda hidup. lebih-lebih sekarang kalau di padang satu kali naik mimbar 75. 000,-“.
        kemudian, pada tahun pertengahan 2010 seorang alumni IAIN -yang telah menjadi sastrawan nasional- menyempatkan diri untuk sekedar diskusi ringan di salah satu fakultas, setelah kembali ke jakarta saya menghubunginya via telfon, ketika itu salah satu yang dikatakannya adalah ” saya sedih bercampur heran dengan dosen di sana, ketika kami bertemu dan saya berharap ada disuksi santai atau cerita tentang fakultas yang akan saya bawa ke jakarta tapi dia -temannya yang dosen di fakultas tempat ia kuliah dulu- malah menawarkan Multi Level Marketing pada saya, sampaikan kalau saya kecewa.” begitu katanya waktu it.
        agaknya pandangan saya ini bisa menjadi salah satu jawaban kenapa IAIN tidak dipandang sebagai ulama?

      • fachrulrasyid mengatakan:

        Terimakasih. Anda bisa membaca banyak tulisan tentang IAIN di blog ini.

  13. rhezafawziah mengatakan:

    salam kenal pak, saya sangat ingin belajar ttg investigasi setelah mendengar cerita bpak pda pelatihan jurnalisme peradilan bersih hari ini
    salam kenal pak

  14. rhezafawziah mengatakan:

    salam kenal pak fachrul ..

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih atas perkenalan anda. Kalau mau sungguh-sungguh mempelajari investigative reporting, anda bisa baca makalah saya secara cermat. Lalu tempatkan diri anda sebagai orang yang peduli tentang berbagai hal.n Tumbuhkan dan pupuk rasa ingin tahu anda. Pelajari terus setiap apa yang mencurigakan anda. lalu, perimbangkan layak tidaknya untuk diinvestigasi dan jadi laporan jurnalis.

  15. edwinganadhi mengatakan:

    Salam kenal Pak. Saya Edwin

  16. M.Luthfi Munzir mengatakan:

    assalamu’alaikum bang FR, salam kenal…kapan tulisan2 abng dijadikan buku?

  17. febri dian sari mengatakan:

    asslmkum wr wb….tulisannya bapak bagus2…..tentang didikan subuhnya sangat membantu untuk penelitian saya tentang didikan subuh,,,,,sudah mencari dan mencari,,,akhirnya ketemu blog ini…..bagus banget ide2nya

  18. rudi_harton01@yahoo.com mengatakan:

    aslam pak
    sy telh baca tulisan bpk tntg pembangunan di Aie pacah

    jadi sy mw ty, apkh bpk tw peranan bappeda provinsi sumbar terhadp pembangunan di Aie pacah terminal?

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Saya tidak tahu. Tapi itu jelas tak ada hubungannya dengan Bappeda Provinsi Sumbar. Yang relevan adalah Bappeda Kota Padang.

  19. aslm pak
    apkh bpk tahu sejarah dari berdirinya Bappeda indonesia?

    karena sy sangat penasaran sekali

  20. Abdul Hamdi Mustafa mengatakan:

    salam kenal pak, ini saya yang mengutip tulisan bapak di blog saya tentang pangkalan koto baru. berikut nomer hape saya pak 087895861844🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: