Retaknya Hubungan Serumpun

31 Agustus 2010

Komentar Singgalang 1 September 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

“Serumpun dua kebun”, begitulah hubungan Indonesia dan Malaysia. Hubungan itu   diperkirakan telah terbentuk sejak tiga abad sebelum Masehi, saat dua gelombang imigran asal Mongolia, disebut proto dan neo Melayu, datang ke Semenanjung Malya dan kepulauan Nuasantara.

Keserumpunan itu semakin meluas akibat mobiltas bangsa pelaut yang mampu menyebar ke sreluruh Nusantara ini. Apalagi kemudian rantau ini pernah dikuasai secara bergentian oleh Kerajaan Sriwijaya yang sempat sepuluh kali berpindah-pindah di sepanjang Nusantara ini. Kemudian berlanjut di bawah Kerajaan Majapahit, Kerajaan Malaka, Johor sampai Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau.

“Persilangan” genetika pun tak terelakan. Akibatnya, bangsa Melayu nyaris tak memiliki proto tipe khusus yang menonjol. Hampir semua warna kulit, bentuk mata, warna dan ragam rambut, serta bentuk dasar etnis di dunia ada pada bangsa Melayu. Prilaku sosial, sistem mata pencarian (pertanian dan perdagangan) dan seni  budaya hingga masakan juga memiliki kesamaan. Sebutlah misalnya, masakan rendang dan gelamai atau dodol hampir didapati di seluruh sub etnis Melayu di sepanjang Nusantara mulai dari Sumatera, Semenanjung Malaya, terus ke Betawi, Sunda, Bugis, Mandar, Dayak  bahkan sampai ke Mindanao Pilipina

Persamaan juga terlihat pada kesenian dan tarian diantara sub entis Melayu.  Hampir seluruh alat kesenenian tradisionalnya menggunanakan talempong (gamelan), gendang dan gong. Namun ketika terbentuk wilayah-wilayah administrasi pemerintahan provinsi atau negara oleh penjajahan dan kemerdekaan muncullah egoisme kedaerahan atau kenagaraan sehingga satu daerah atau negara seolah mencaplok kesenenian atau budaya yang lain.

Padahal era globalisasi dengan teknologi komunikasi dan transportasi serba canggih juga berimplikasi  pada sosial ekonomi dan budaya sehingga nyaris mengaburkan batas wilayah administrasi itu. Satu sama lainnya tak hanya sulit dibedakan tapi juga tak sulit diperdebatkan. Lantas kenapa hubungan antara negeri serumpun Indonesia dan Malaysia harus meruncing?

Pertama memang karena tanaman serumpun itu tumbuh pada dua kebun yang dikelola dan dipelihara dengan sistem yang berbeda. Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi cenderung menciplak habis sistem politik dan pemerintahan model barat dan nyaris tak menyisakan potensi dan budaya ketimuran, seperti Melayu. Sementara Malaysia tetap memelihara kultur politik dan pemerintahan Melayu disamping mengadobsi secara selektif  budaya dan politik pemerintahan ala barat.

Heboh kasus pernikahan Manohara Odelia Pinot, 17 tahun, dan suaminya Tengku Mohammad Fakhry, 31 tahun, Pengeran Kerajaan Kelantan, Malaysia, awal 2009 silam pada dasarnya adalah perseteruan dua kultur, tradisi dan kebiasaan antara barat dan timur itu. Manohara yang dibesarkan dalam kultur barat dengan pergaulan bebas, berhadapan dengan Tengku Fakhry yang nota bene adalah pangeran kerajaan Melayu Kelantan. Akibatnya, tata krama di istana kerjaan Melayu itu dianggap penyiksaan oleh Manohara yang barat.

Konprontasi Indonesia dan Malaysia zaman Presiden Soekarno pada dasarnya  akibat perbedaan kepentingan politik. Di satu pihak Indonesia saat itu berada di bawah blok Soviet. Sementara Malaysia berada di bawah blok Amerika dan negara Persemakmuran di bawah Inggris.  Ketika kemudian kekuasaan Partai Komunis di Indonesia runtuh, apalagi setelah Uni Soviet terbelah, hubungan Indonesia – Malaysia pulih kembali.

Kini, jika  hubungan Indonesia – Malaysia  kembali memanas, penyebabnya tak lain karena perbedaan pengelolaan negara itu.  Sebut misalnya soal TKI ilegal. Meski disebut pendatang haram, namun Malaysia terus menampung TKI ilegal itu karena memang membutuhkan banyak tenaga kerja. Mereka pun memanfaatkan ilegalitas  TKI untuk diperlakukan secara ilegal. Artinya, jika Indonesia mau TKI diperlakukan secara baik, mestinya Indonesia jangan pernah membiarkan TKI ilegal ke Malaysia .

Persoalan perbatasan, di darat atau di laut, tak jauh beda.  Indonesia mestinya menunjukkan kedaulatannya sampai ke garis terakhir negara. Lindungi teritorialnya dan tingkatkan kesejahteraan rakyat sehingga tak menjadi wilayah terbiar. Apabila suatu wilayah perbatasan tak terkuasai lumrah akan dikuasai, bukan hanya wilayahnya penduduknya pun bisa beralih ke negara lain

Satu hal yang tak bisa diabaikan adalah kedua negara sama-sama memiliki pihak tertentu yang menginginkan hubungan keduanya jadi retak dan bahkan berlanjut ke medan perang. Amerika termasuk yang tak kemajuan Malasyia di Asia tenggara. Sementara di dalam negeri Malaysia sendiri ada etnis tertentu yang menginginkan memburuknya hubungan Indonesia – Malaysia untuk mendongkel dominasi Melayu di negeri itu. Dalam berbagai kasus, baik perlakuan buruk terhadap TKI maupun soal perbatasan, kalangan etnis tertentu itulah yang menjadi biang perkara.

Di Indonesia sendiri, pihak-pihak yang berusaha memperkeruh hubungan Indonesia –Malaysia untuk menyodok kelemahan kepemimpinan negara dan mejauhkan kultur berbau Melayu di negeri ini. Tak aneh kalau Menlu Malaysia saat merespon demonstran yang melempari Keduataan Malasyia di Jakarta berucap. “Jangan persoalan dalam negeri anda sendiri dihadapkan ke negeri kami,” katanya.

Hal itu pun terungkap dalam dialog antara rombongan wartawan senior  Sumatera Barat dan beberapa wartawan senior Malasyia di Kuala Lumpur  26/27 Maret 2010 lalu. Menurut mereka generasi muda kedua bangsa, baik Melayu Malaysia dan Melayu Indonesia kini tak lagi mengenal persamaan akar budaya keduanya. Sementara ada pihak-pihak lain yang terus membangun jurang pemisah sehingga generasi muda kedua bangsa kelak bukan hanya tak saling mengenal keserumpunannya tapi malah bisa merasa asing dan bertentangan.

Maka, jika memang mau memelihara keserumpunan Indonesia –Malasyia apabila ditelusuri jauh ke belakang akan terlihat jelas biang keruh hubungan Indonesia – Malayisa itu. Dan, apabila kedua negara mau duduk semeja membaca realita, kemudian menyadari keserumpunan atau kesurupannya, agaknya hubungan Indonesia – Malayisa, tak akan pernah terusik apapun. (*)


Sejarah Didikan Subuh & Pesenatren Kilat

10 Juni 2010

Pos Metro Opini 21 Mei 2010

Oleh H.Fachrul Rasyid HF

Pada momentum peringatan hari kebangkitan nasional, ada baiknya kita membalik lembaran sejarah lahirnya Didikan Subuh (DS) di Sumatera Barat. DS  merupakan salah satu respon terhadap kondisi Pemerintahan Presiden Soekarno yang saat itu didominasi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menerapkan/ membaurkan Nasionalisme, Agama  dan Komunisme yang disingkat) Nasakom.

Masyarakat lebih banyak direcoki dan dimobilisasi isu konprontasi dengan Malasyia dan anti Amerika. Di mana-mana, di dinding toko, tembok-tembok pagar hingga ke sekolah-sekolah dipenuhi corat coret tulisan Ganyang Malaysia dan Ganyang Armada Ke 7 Amerika.

Menghadapi kemungkinan perang, rakyat diperintahkan membuat lobang berbentuk leter “L” di depan, dibelakang atau di bawah rumah masing-masing sebagai tempat persembunyian. Di setiap sekolah juga dibuat lubang lebih besar semuat seluruh murid sekolah. Selain menyiapkan rakyat terlatih  yang kemudian digabungkan ke dalam organisasi Pemuda Rakyat, lembaga pendidikan hingga kegiatan pramuka pun dikerahkan belajar Nasakom dan bahkan belajar huruf Cina.

Padahal kemudian bertiup kabar bahwa bila PKI berhasil mengambilalih kekuasan pemerintahan, maka seluruh umat Islam akan dibunuh. Para ulama, tokoh masyarakat atau tokoh-tokoh yang anti PKI masuk dalam lest hitam atau daftar orang-orang yang akan dibunuh. Lobang-lobang tadi akan digunakan sebagai kuburan massal.

Dalam situasi seperti itu pendidikan agama terpinggirkan. Pesantren dan kegiatan di masjid dicurigai dan diawasi sehingga kegiatan mengaji ana-anak di surau dan cermah-ceramah agama di masjid jadi sepi. Kalau pun ada yang berani melaksanakan pendidikan agama di surau/mushalla dan masjid akan ditakuti-takuti dan digangu oleh orang-orang tak dikenal yang waktu disebut orang hitam

Berbagai ikhtiar dilakukan umat Islam untuk pendidikan agama anak-anak. Salah satunya adalah melaksanakan pendidikan di waktu subuh yang kemudian berubah istilah jadi Didikan Subuh. Didikan Subuh pertama lahir di Mushalla Aljadid Simpang Aru, Padang, tahun 1964. Selain belajar mengaji dan pendidikan keislaman Didikan Subuh melatih anak-anak berpidato (muhadharah) diskusi dan menyanyikan nyanyian islami.  Ternyata, berkat publikasi koran-kortan anti PKI dan RRI, didikan subuh cepat diterima dan diikuti masyarakat.

Setelah peristiwa gerakan 30 September 1965 yang dikenal dengan istilah Gestapu /PKI dan pemerintahan diambilalih Kolonel Seoharto, PKI dibubarkan dan diganyang di mana-mana. Keadaan pun berubah. Umat Islam mendapat kebebasan menjalankan pendidikan agama sehingga Didikan Subuh pun berkembang sampai ke pelosok desa.

Sebagian besar penggerak Didikan Subuh adalah pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia (PII) atau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saat itu kedua organisasi ini merupakan anggota inti Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) motor penumbangan Orde Lama. Mereka punya pasukan khusus (pasus) dengan jaket loreng kuning merah hitam dan mendapat latihan dasar kemiliteran. Anak-anak didikan subuh pun dilatih kesamaptaan.

Buya Prof. DR. Hamka yang kala itu jadi ketua/imam Masjid Al-azhar Kemayoran Jakarta, juga mengembangkan didikan subuh dan kuliah subuh bagi orang dewasa. Kuliah subuhnya  diterbitkan Majalah Panji Masyarakat, majalah Islam Pimpinan Buya Hamka. Belakangan kuliah subuh itu dibukukan.

Sedang Pesantren Ramadhan (PR) lahir dan berkembang dari Pesantren Kilat, dengan lama belajar sekitar 4 hari hingga seminggu. Pesantren kilat berkembang atas anjuran  Presiden Soeharto tahun 1994 sebagai upaya antisipasi intervensi budaya asing yang merusak generasi muda.

Presiden Soeharto mengadobsi Pesantren Kilat dari Basic Tryning PII, kegiatan yang diamuk PKI di Kanigoro, Jawa Tengah 1964. Peristiwa itu kemudian menjadi awal cerita/ prolog dalam Film G.30.S/PKI.  Presiden Seoharto mau menganjurkan Pesantre Kiolat ala Basic Trining PPI, setelah mengakui kembali keberadaan PII yang sebelumnya dianggap membangkang karena menolak asas tunggal Pancasila. Namun dalam perkembangan metoda pengajaran di PR berubaha dari pembentukan prilaku dan pembinaan mental menjadi pengajaran agama dalam bentuk ceramah-ceramah.

Kektika kemudian kondisi sosial politik awal pemerintahan Orde Baru, beberapa tokoh tokoh Islam dari Muhamadiyah duduk di pemerintahan. Misalnya, almarhum Bapak Amir Ali diangkat jadi Kakanwil P&K Sumatera Barat yang saat itu banyak dikuasai orang-orang pro Nasakom. Sekitar tahun 1968 Amir Ali, didukung Gubernur Harun Zain mulai memerintahkan agar di tiap sekolah dibangun mushalla atau masjid tempat siswa shalat zuhur berjamaah. Dan, setiap hari Jumat para siswi SLTP/SLTA diwajibkan berbaju kurung. Di bawah Gubernur Azwar Anas (1977-1987) pembangunan masjid di sekolah, pakaian muslim dan didikan subuh terus dikembangkan.

Pada tahun 1999-2004 Pemda dan DPRD Sumatera Barat menerbitkan Perda Anti Maksiat dan Peda Baca Tulis Aguran. Antara lain mengatur soal pakaian muslim bagi para sisiwi sekolah menengah sehingga  jadi seragam resmi  siswa siswi SLTP/SLTA di Sumatera Barat. Begitulah riwayatnya. (*)


Lain Guru Lain Surau

10 Juni 2010

Pos Metro Opini Kamis 27 November 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Menyebut kata surau (bahasa Melayu bukan bahasa Arab) kini langsung dipersepsikan rumah ibadah, mushalla, tempat shalat atau tempat mengaji/ belajar membaca Alquran. Hanya beberapa diantaranyan dijuluki sesuai fungsi khususnya. Misalnya, surau suluk karena digunakan tempat suluk atau surau thariqat karena digunakan tempat belajar atau mengamalkan ilmu-ilmu thariqah.

Karena itulah, bila di Indonesia tempat shalat di gedung, di pasar atau terminal  ditunjukkan dengan sebutan mushalla, Malasyia bahkan sampai di Pathani, Thailand Selatan, ditunjukkan dengan sebutan surau. Di beberapa nagari di Limapuluh Kota sebutan surau hampir sama lazimnya dengan sebutan langgaran (longgea/langga).

Sebelum Islam jadi anutan, surau di Minangkabau bukan tempat ibadah atau tempat mengaji. Surau adalah rumah tempat para lelaki bujangan, tua atau muda, menginap. Yang baru pulang dari rantau atau tamu lelaki menginap di surau. Maklum, konstruksi rumah adat Minang tak menyediakan ruang bagi laki-laki atau bujangan. Buat mereka

Surau, layaknya rumah biasa punya kamar, dapur tempat memasak dan sumur tempat mandi. Kamar tidur biasanya disediakan untuk tetua surau.

Di surau kemudian berkembang berbagai kegiatan para lelaki sesuai siapa dan apa keahlian tetua surau. Jika tetua surau seorang pendekar maka surau itu menjadi surau silat. Jika tetuanya seorang perandai, maka suraunya menjadi basis randai. Jika tetuanya seorang petani berpengalaman, maka yang berkembang adalah ilmu pertanian. Begitulah seterusnya, sampai ada surau indang dan sebagainya. Singkat kata, lain guru (tetua) lain suraunya.

Setelah Islam diterima di Minangkabau, peran surau secara evolusi bergeser ke arah pendidikan Islam dan tempat ibadah. Prosesnya sederhana. Para pemuda yang memperoleh pendidikan dan pengajian agama dari kalangan juru dakwah setempat atau di perantauan, ketika pulang ke kampung menginap di surau. Mereka mengajarkan ilmunya kepada anak-anak secara halaqah/lesehan: membaca Alquran, hadits, ibadah, akhlak atau bercerita tentang kisah-kisah para nabi. Merekapun mengajarkan tulis baca bahasa Melayu dengan tulisan Arab (Arab Melayu).

Dalam perkembangannya, sejalan dengan makin diterimanya ulama, ustaz dan mubalig dalam kepemimpinan masyarakat Minang, surau mengaji terus mendapat tempat sampai akhirnya mengalahkan pamor surau yang lain. Sejak itu surau mulai identik  dengan tempat mengaji. Namun kemudian, seiring meningkatnya ilmu para ulama, mubaligh dan ustaz kemudian semakin menguatnya posisi dalam masyarakat surau akhirnya berkembang  jadi mushalla, masjid dan bakan jadi madrasah.

Di awal abad ke 19  beberapa surau yang dimpimpin ulama terpelajar, diantaranya alumni Mekah, Madinah dan Al Azhar, berkembang menjadi madrasah terkemuka. Diantaranya madrasah yang bernama Madrasah Sumatera Thawalib. Menerapkan pola dan methoda pengajaran modern, madrasah ini punya ruang kelas, papan tulis berkursi dan meja. Sumatera Thawalib berdiiri di beberapa kotra dan nagari. Misalnya, Sumatera Thawalib Padangpanjang, Sumatera Thawalib Parabek yang masih berkembang sampai sekarang. Kemudian Sumatera Thawalib Manin jau, Sungayang dan Padang Japang Limapuluh Kota. Tapi yang terakhir ini kemudian berganti nama jadi Darul Funun El Abbasyiah.

Beberapa surau tetap bertahan dengan materi, pola dan metoda pengajarannya. Misalnya, surau thariqat Sekh Burhanuddin Ulakan, Pariaman, tetap mengembangkan pengajaran tahariqah hingga sekarang. Surau Sekh Abdurrahman di Batu Hampar, Limapuluh Kota, meski berkembang jadi madrasah namun tetap mempertahankan kekhususannya pengajaran seni baca Alquran.

Menurut Prof. Mahmud Junus dalam bukunya Sejarah pendidikan Islam Indonesia,  sampai akhir abad ke 19 satu-satunya qari terbaik di Minang adalah Syekh Abdurraham Batu Hampar itu. Setelah wafat tahun 1317 H/ 1900 M, ia digantikan dua anaknya, H.M. Rasyad dan H. Arifin.  Suaru Abdurhaman kemudian berkembang jadi madrasah dan hingga sekarang banyak melahirkan pembaca Alquran terbaik.

Ungkapan lain guru lain surau, meski sudah diterima sebagai  sarana ibadah dan tempat mengaji terus berlanjut. Bahkan perbedaan tercemrin dari prilaku murid dan jmaahnya. Bila gurunya seorang ulama yang berpendidikan Islam, berwawasan dan terbuka, jamaah dan murid-muridnya pun dinamis, inklusif/terbuka dan lazimnya punya kepedulian sosial yang tinggi. Ini misalnya menandai alumni atau turunan Madrasah Sumatera Thawalib.

Bila surau dipimpin guru/ulama yang eksklusif/tertutup, fanatik dan taklik, murid dan jamaahnya pun cenderung  demikian. Dari surau yang dipimpin dan dibina guru yang memahami ekonomi maka muridnya berkembang di bidang ekonomi. Cara berpenampilan guru pun tercermin pada jamaah dan muridnya. Jika gurunya memelihara jenggot dan bergamis pengikutnya pun berjenggot dan bergamis. Bahkan warna warni guru dan surau itu berkembang pada urusan politik. Maka jadilah, lain surau lain partai politiknya. (*)


Urang Rantai Adalah Pahlawan

16 Maret 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF
Pos Metro Opini Rabu 17 Maret 2010

Urang (orang) rantai adalah sebutan untuk tahanan/ terpidan dalam perkara politik atau kejahatan umum di zaman penjajahan Belanda. Siapa saja yang dianggap melawan terhadap aturan penjajah atau dianggap melakukan kejahatan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan maling atau dianggap meresahkan penduduk ditangkap, ditahan dan dipenjara.

Mereka kemudian dijuluki orang rantai karena selama dalam tahanan atau penjara kedua kaki, tangan dan bahkan lehernya dipasangi borgol dan digembok. Borgol itu terbuat dari besi mirip pipa sepanjang 10 sentimeter dirangkai dengan rantai besi sekitar 60 sentimeter. Dengan cara itu para tahanan masih bisa berjalan meski bak orang sedang pacu karung. Julukan itulah masih melekat hingga sekarang untuk menyebut para terpidana atau orang-orang yang dianggap tak menghargai aturan yang berlaku.

Sebutan itu sesungguhnya merupakan penghinaan Pemerintah Belanda terhadap bangsa Indonesia. Sebab, kalau ditelusuri sejarahnya, tak semua orang yang pernah dirantai belanda adalah penjahat. Sebagian besar mereka justru para pejuang bangsa Indonesia. Mereka ditangkap, dipernjara dan dirantai, lalu, digiring ke medan kerja paksa, bukan karena maling, merampok, memerkosa atau terlibat pembunuhan. Mereka ditangkap karena melawan dan memberontak terhadap berbagai kebijakan dan aturan Belanda yang merugikan bangsa Indonesia. Tak aneh jika sebagian besar orang rantai terdiri dari guru, ustaz, tokoh adat, tokoh politik, pemuda dan sebagainya.

Sebutan orang rantai di Sumatera Barat mulai populer saat Belanda membuka tambang batu bara di Sawahlunto tahun 1887. Saat itu Belanda mendatangkan sejumlah tahanan dari Pulau Jawa, Maluku, Sualwesi, warga keturunan Tionghoa, India dan beberapa dari daerah lain di Indonesia. Mereka dipekerjakan secara paksa, dalam keadaan dirantai, membuka lobang-lobang tambang di perut Sawahlunto.

Dua buku Erwiza Erman, yang diterbitkan Pemko Sawahlunto; Orang Rantai dari Penjara ke Penjara (Juli 2007) dan Pekik Merdeka dari Sel Penjara & Tambang Panas, (Mei 2008) bercerita banyak tentang siapa dan bagaimana penderitaan orang rantai di sel persis di mulut lobang sebuah tambang bawah tanah Sawahlunto.

Seadanianya generasi sekarang berkunjung dan menyaksikan sisa tempat penyiksaan di Penjara Orang Rantai di Kampung Durian, Sawahlunto itu mungkin tak terbayangkan betapa pahitnya kehidupan orang rantai itu. Mereka bergumul dengan kelaparan, penyakit dan bakuhantam sesama. Tapi apapun yang terjadi penjajah Belanda hanya mau tahu mereka harus bekerja. Setiap pagi, di kawal polisi bertampang seram dan bringas, mereka digiring ke dalam lobang tambang dan baru keluar saat makan siang. Menjelang mata hari terbenam mereka kembali digiring ke penjara persis bak kerbau masuk kadang.

Toh, meski tenggelam dalam penderitaan dan penyiksaan rasa nasionalisme dan semangat ingin merdeka orang-orang rantai tak pudar. Mereka tak hanya berteriak dan memekikkan kemerdekaan tapi juga berjuang dengan segala daya dan cara. Padahal kalau sempat ketahuan melakuakn perlawanan mereka akan dikucilkan dan disiksa lebih keras. Tak sedikit dari mereka yang tewas di ujung campuk, di mulut senjata atau di tiang gantungan.

Maka, meski tak tercatat sejarah dan tak dikembumikan di makam pahlawan, mereka sesungguhnya adalah pahlawan yang mengorban nyawa demi matbat dan kemerdekaan bangsa. Mereka bukan orang yang mengorbankan bangsa dan negara demi diri sendiri seperti yang banyak terjadi sekarang.

Karena itu tak sepantasnyalah sebutan orang rantai diwariskan dari generasi ke generasi. Sebab, mewariskan sebutan orang rantai, apalagi dengan konotasi dan persepsi penajahat versi Belanda dulu sama dengan mewarisi penghinaan terhadap bangsa sendiri. Apalagi kini, secara hukum pidana maupun hak asasi manusia, perlakuan buruk ala penjajah itu adalah perbuatan melanggar hukum. (*)