Gombalisasi Global

Oleh Fachrul Rasyid HF

Ketika isu globalisasi, serba mendunia, digulirkan awal tahun 1990-an silam, dunia seakan menjadi sebuah hamparan yang damai. Penghuninya secara individu, bangsa dan negara yang penuh kebebasan. Mulai dari kekebasan (liberalisasi) politik, ekonomi, budaya dan bahkan beragama terlindungi dibawah bendera hak asasi manusia (HAM) demokratisasi dan keadilan.

Setelah lebih sepuluh tahun berlalu, yang tampak bukan perlidungan hak asasi manusia (HAM), jaminan kedualatan negara, demokratisasi dan keadilan. Yang terlihat di layar globalisasi itu adalah dunia di bawah satu kendali Amerika Serikat (AS) yang dimotori Yahudi Israel.

Lihatlah setelah berakhirnya perang dingin atau jatuhnya komunis Rusia, Amerika dengan Yahudi tak lagi menganggap komunis sebagai musuh utama. Jangan heran jika Amerika tak teramat peduli dengan tokoh komunis Pidel Castro Presiden Panama. Amerika tak gencar amat menyoal proyek peluru kendali dan nuklir Korea Utara. Amerika pun merasa puas hanya dengan menjalin pershabatan dengan Cina selama Cina tak mengusik Taiwan negara bentukkannya.

Yang dianggap musuh utama oleh Amerika kemudian adalah negara Arab dan Umat Islam. Lihatlah Afganistan. Ketika kaum terpelajar Afganistan bangkit melawan pemerintahan komunis yang didukung Rusia, Amerika mendidik dan mempersenjatai pejuang Thaliban yang sebagian berasal pemuda muslim dari negara Timur Tengah dan Asia Tenggara hingga rezim komunis jatuh.

Kala naik kursi pemerintahan, Thaliban pun disodok pelanggaran HAM, demokrasi dan keadilan. Sistem pemerintahannya yang islami dan cara berpakaian wanitanya dipersoalkan. Lalu, Afganistan diperangi sampai jatuh. Amerika kemudian menunjukkan kehidupan liberalisme dan demokrasi di Afganistan melalui tayangan televisi. Misalnya, pemuda mengenakan jas, tanpa jenggot, dan bermain bola billiard. Juga wanita yang ikut pemilu atau tampil melenggok di tas pentas model.

Para pemimpin Thaliban yang merasa dikhianiti dan mengadakan perlawanan dicap pemberontak dan teroris. Lalu, pendukungnya dikejar sampai ke nagara asalnya, termasuk ke Indonesia, Pilipina dan Thailand. Itu sebabnya, mengapa pasukan khusus Amerika sampai ikut menyerbu daerah muslim Mindanao yang menuntut otonomi khusus. Karena itu pula tak berlaku kamus HAM atas pembataian pemuda muslim Pethani oleh tentara Thailand.

Atas dasar itu pula Amerika dan Australia bercarut marut saat Abu Bakar Ba’syir yang dianggap mendukung Thaliban dibebaskan pengadilan. Padahal di era Presiden Soeharto Australia, jangankan mencerca mendahampun tak berani ke arah Indonesia. Wajar jika Presiden SBY tersinggung dan menuduh Australia terlalu jauh mencampuri urusan peradilan di negara ini.

Sebetulnya, pengalaman Afganistan dialami Indonesia di Timor Timur. Ketika Amerika, juga Autralia, menganggap Partai Fratelin di bekas jajahan Portugis itu basis komunis, Indonesia didorong merebut Timor Timur. Tapi setelah komunis Rusia runtuh, tokoh-tokoh Fretelin kemudian “dimodali” untuk melawan Indonesia. Akhirnya Timor Timur lepas, lalu, dikendalikan Australia sebagai perpanjangan tangan Amerika di Selatan.

Amerika, bersamaan kepentingan Yahudi di Timur Tengah, kemudian mengusung isu senjata nuklir dan pemusnah massal ke arah Irak. Kemudian tanpa peduli HAM, demokratisasi, keadilan, dan kedaulatan sebuah negara, pemerintahan Irak diobok-obok. Kini, untuk memperpanjang masa penguasaan minyak negeri itu, kelompok Syiah dan Suni diadudomba. Dan, kepada kita dipertontonkan aksi bom bunuh diri tiap hari di Irak untuk mempengaruhi opini dunia bahwa umat Islam doyan kekerasan.

Sebetulnya, senjata pemusnah masal itu tak pernah ada. Irak diserbu dan diruntuhkan, tak lain karena tiga hal. Pertama untuk menguasai minyak. Kedua, Irak dianggap memodali pejuang Palestina lawan berat Israel. Ketiga, Irak adalah central peradaban Islam yang dianggap dapat membahayakan perabadan barat.

Setelah Irak, masih untuk kepentingan Yahudi Israel, Amerika mengarah ke Iran. Iran dituduh menjadi tempat persembunyi sisa-sida pengikut Thaliban dan dianggap sebagai pemasok senjata bagi pejuang Palestina dari kelompok Hizbullah. Tapi, isu yang disodokkan ke Iran adalah rekayasa uranium dan reaktor nuklir. Karena itulah Iran diancam akan diserang dan dipaksa memusnahkan reaktor nuklirnya melalui tangan PBB.

Namun alasan sesungguhnya serupa terhadap Irak. Yakni menguasai minyak, membesarkan dan melindungi Israel dan memusnahkan peradaban Islam yang dianggap membahayakan perabadan barat. Tapi mengingat luka umat Islam atas penjajahan Irak, maka untuk menyerang Iran, Amerika perlu melakukan test cass melalui penyebaran karikatur Nabi Muhammad oleh sebuah koran Denmark.

Tak usah heran, ketika karikatur itu mendapat reaksi luar biasa dari umat Islam, Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleeza Rice menuduh Iran berada di belakang rekasi umat Islam itu. Begitupun, Amerika belum berani menyerang Iran. Soalnya, Cina dan Rusia tampak makin intensif membangun persahabatan dengan Iran.

Amerika mengubah taktik. Sebagaimana kita saksikan di televisi sebulan terakhir, Amerika menggunakan tentara Israel menyerbu Hizbullah secara membabi buta. Hizbullah yang dianggap mendapat dukungan dari Iran dikejar untuk memancing Iran turun ke gelanggang perang. Jika terjadi, ada alasan untuk menyerang Iran.

Nyatanya, serangan Israel bukan hanya menewaskan pasukan Hizbullah tapi lebih banyak rakyat sipil dan anak-anak yang terbantai. Bahkan tentara PBB yang bertugas menengahi perang itupun dihujani roket hingga tewas. Namun Iran yang menyadari permainan itu tak terpancing dan terus menahan diri. Israel dan Amerika malah dikecam di seluruh dunia. Tak hanya oleh penduduk muslim, tapi juga kalangan Kristen Amerika, Australia dan Eropa, termasuk di Indonesia. Bahkan Partai Komunis Israel sendiri memperotes pembantain itu.

Meski aksi itu membuat pamor politik Amerika dan Israel jeblok, toh, Israel atas perintah Amerika, tampaknya tak akan berhenti menyerang sebelum Iran turun ke gelanggang. Sebab, dalam hitungan Amerika, apabila Iran dikuasai, berarti seluruh dunia Islam dapat digenggam. Negara-negara muslim lainnya tak diperhitungkan. Menghadapi umat Islam di negara muslim, seperti yang sedang terjadi di Somalia, Amerika cuma perlu mempersenjatai kelompok sekuler, liberal dan pluraisme agama di negara itu.

Indonesia yang mayoritas muslim juga tak akan diperangi. Sebab, di mata Amerika Indonesia, apalagi setelah ditimpa berbagai bencana alam, secara ekonomi, politik dan militer sedang payah. Kekayaan minyaknya pun sudah dikuasai perusahaan Amerika. Pemerintah dan umat Islam Indonesia cukup dilemahkan dari dalam dengan cara membiayai pendukung sekularisme, liberalisme, pluralisme agama dan LSM tertentu.

Amerika juga merasa cukup dengan penguasaan media massa. Untuk misi itulah majalah Playboy, meski diprotes warga dan dilarang pemerintah, tetap dilindungi kalangan sekuler, liberalisme dan plurasime agama. dengan alasan HAM dan kebebasan. Kelompok sekuler, liberal dan pluralisme agama itulah kini yang sedang menggerogoti umat dan institusi Islam di Indonesia.

Karena itulah, tak berlebihan kalau isu globalisasi dianggap hanyalah gombalisasi Amerika dan Yahudi.***

Fokus Minggu 6 Agustus 2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: