Ketek Banamo Gadang Bagala

Tak usah heran bila ada orang penting atau pembesar negeri ini diberi gelar. Gelar itu akan melekat pada diri seseorang selama ia memelihara kehormatan dan kebesarannya. Tapi, begitu terlibat pelanggaran hukum, syariat dan adat atau berperilaku, punya hobi, kebiasaan dan permainan layaknya anak-anak, maka diminta atau tidak diminta gelar itu akan pupus dengan sendirinya. Artinya, karena kebesarannya jatuh, maka gelarnya pun jatuh.

Ada pribahasa Minang yang mengatakan ketek banamo gadang bagala (kecil punya nama, besar punya gelar). Saat menyampaikan penghormatan pada muqaddimah pidato adat atau pidato resmi orang biasa mengucapkan ”kok ketek indak basambuikan namo kok gadang indak baimbauan gala.

Melihat kelaziman pemakaiannya, pepatah itu terkesan diartikan secara leterlik. Ketek/ kecil diartikan orang muda dan orang kecil, gadang/besar ditujukan kepada orang tua. Padahal, seperti lazimnya pepatah atau pribahasa Minang tak serta merta berarti leterlik. Ungkapan yang diucapkan sering merupakan simbol-simbol, sedang makna sesungguhnya tersimpan di balik simbol itu.

Karena itu saya sering mengatakan, untuk memahami pribahasa Minang diperlukan kecerdasan ganda. Selain memahami zat dan sifat benda yang disimbolkan juga harus mengerti makna apa yang disimbolkan.

Kalau diartikan secara leterlik, pribahasa itu akan mentah sendiri. Sebab, tiap orang, kecil atau besar, muda atau tua, pasti punya nama. Lantas buat apa lagi dipanggilkan gelar. Kalau yang dimaksud gadang itu besar badan, atau orang tua lanjut usia, nyatanya tak semua orang berbadan besar atau orang tua yang lanjut usia yang punya gelar.

Sesungguhnya yang dimaksud ketek banamo gadang bagala, ada dua. Pertama status sosial yang tak membedakan usia. Melainkan dibedakan fungsi, peran, kedudukan dan tanggung jawab dalam masyarakat. Misalnya, ninik mamak, penghulu adat, ulama, cerdik cendekia alias kalangan terpelajar, pejabat, pengusaha yang diberi tempat, didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting.

Mereka itulah yang diberi gelar. Gelar itu pula yang jadi panggilan, bukan namanya. Sedang orang yang tak punya peran apa-apa dalam masyarakat, berapapun usianya disebut orang ketek/ kecil, tidak punya gelar. Mereka dipanggil sesuai namanya.

Kedua, ketek banamo gadang bagala bermakna prilaku, karakter/ watak dan kedewasaan. Orang tua yang berprilaku cara berfikir, cara berpakaian, hobi, permainan dan berbicaranya seperti anak-anak dikatakan seperti anak-anak atau kekanak-kanakan. Sebaliknya, ada anak muda, dan bahkan anak kecil disebut gadang atau dewasa, kalau cara bertindak, berfikir dan berbicaranya seperti orang dewasa.

Karena itu tak usah heran bila ada orang penting atau pembesar negeri ini diberi gelar. Gelar itu akan melekat pada diri seseorang selama ia memelihara kehormatan dan kebesarannya. Tapi, begitu terlibat pelanggaran hukum, syariat dan adat atau berperilaku layaknya anak-anak, maka diminta atau tidak diminta gelar itu akan pupus dengan sendirinya. Artinya, karena kebesarannya jatuh, maka gelarnya pun jatuh.

Sebetulnya, dalam hirarki pemerintahan juga berlaku ungkapan ketek banamo gadang bagala. Semuanya disebut pegawai negeri sipil (PNS). Perbedaan diantara PNS bukan ditentukan usia dan masa kerja melainkan golongan dan panggkat, fungsi, peran dan tanggungjawab. Yang tak berpangkat atau berjabatan disebut pegawai kecil. Artinya, pegawai biasa. Selanjutnya ada staf dan pejabat.

Rumah Gadang

Istilah rumah gadang di Minangkabau juga tak berarti leterlik. Kalau diartikan leterlik, rumah gadang akan sama dengan rumah besar. Padahal rumah gadang tak selalu berukuran besar. Malah banyak berukuran kecil. Sebaliknya, rumah besar tak selalu disebut rumah gadang.

Seperti halnya orang, julukan rumah gadang bukan dilihat dari ukuran rumahnya melainkan dari status dan fungsinya. Rumah gadang artinya rumah tempat lahir, atau rumah kedudukan ninik mamak atau penghulu kaum dan penghulu suku. Pada banyak nagari rumah gadang disebut istano/istana penghulu. Maka, rumah gadang artinya rumah kegadangan alias kebesaran atau rumah jabatan. Untuk memelihara kebesarannya di rumah gadang berlaku etika atau adat duduk, adat makan, adat bicara dan sebagainya.

Sama halnya dengan masjid, mushalla atau surau. Penamaan itu tak ditentukan bentuk dan ukuran melainkan status dan fungsinya. Dinamakan masjid karena disitu dilaksanakan sholat Jumat selain sholat berjamaah, dan belajar mengaji. Surau dan mushalla tidak difungsikan tempat sholat Jumat. Sesuai fungsinya ada etika dan aturan bagaimana memperlakukan masjid, mushalla dan surau itu.

Ketek banamo gadang bagala juga terjadi pada bangunan pemerintahan. Misalnya, yang disebut kantor karena fungsinya, bukan karena ukurannya. Boleh jadi ukuran kantor itu lebih kecil dari rumah biasa. Begitu juga dengan istana presiden atau istana raja dan gubernur. Sebutan itu menunjukkan kebesarannya, bukan besarnya. Sebagai rumah kebesaran perlu dijaga. Disitu berlaku tatatertip untuk memelihara dan menunjukkan kebesarannya. (*)

Fachrul Rasyid HF

Khazanah Minggu Padang Ekspres 18 November 2012

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: