Menjauhkan Siswa dari Masjid

( Komentar di Singgalang 11 Juli 2015)
Oleh Fachrul Rasyid HF

Seorang pemuka masyarakat Kota Padang menarik tangan saya dari keramaian sebuah pertemuan, Ahad pekan lalu. Katanya, ada masalah besar yang terjadi pada siswa SLTP dan SLTA di Kota Padang. Apa itu?

Yang diceritakan kemudian adalah soal pemindahan kegiatan Pesantren Ramadhan (PR) bagi siswa sejumlah SLTP dan SLTA dari masjid ke sekolah. Kebijakan itu dianggap bertentangan dengan prinsip dan tujuan PR itu sendiri. Apalagi, katanya, yang menjadi pengajar/ pemateri dan instruktur berasal dari kelompok politik tertentu sehingga PR yang dimaksudkan untuk pendidikan pengamalan agama Islam berubah jadi wadah kaderisasi kelompok tersebut.

“Benarkah?”, Tokoh masyarakat itu menjelaskan, pengalihan PR dari masjid ke sekolah dimaksudkan agar apa yang disampaikan kepada para siswa tak terdengar masyarakat. Maklum, yang diajarkan antara lain, adalah soal kepemimpinan yang ujung-ujungnya, untuk empat tahun kedepan minimal mereka dan orang tuanya bisa jadi simpatisan kelompok tersebut dalam pilkada Kota Padang. Sementara terhadap siswa SLTA diharapkan, selain jadi juru “dakwah” bagi orang tuanya, mereka sendiri bisa ikut jadi simpatisan pada pilgub akhir tahun ini.

Ternyata, setelah dicaritahu, yang dimaksud adalah ujicoba pengalihan PR dari masjid ke beberapa SLTP dan SLTA oleh Pemko Padang. Hal itu dilakukan karena PR di masjid-masjid selama ini dianggap tak efektif, tidak terarah dan guru-gurunya belum memenuhi harapan.

Namun, terlepas dari kecurigaan PR disalahgunakan untuk tujuan politis dan niat untuk perbaikan dan peningkatan penyelenggaraan PR, upaya pengalihan PR dari masjid ke sekolah-sekolah memang pantas ditanggapi. Sebab, bila dibaca sejarahnya kemudian dilihat dari pengalaman membina PR selama ini pengalihan PR dari masjid/mushalla itu sama artinya dengan mencabut atau menjauhkan siswa sekolah dari masjid dan lingkungannya sendiri. Berikut beberapa alasannya:

Pertama. Terlepas soal materi yang diajarkan, PR di masjid/mushalla bertujuan mendidik dan mengakrabkan para siswa dengan masjid dan lingkungannya dan mengenal etika dan tata krama di masjid dan sebagainya. Hal ini sangat diperlukan mengingat selama ini keakraban siswa sekolah mulai dari SD hinggga SLTA pada masjid semakin menipis. Maklum, selain tak punya keterikatan kegiatan, waktu mereka nyaris tersita untuk belajar di sekolah, kegiatan ekstra sekolah dan pekerjaan rumah. Maka, selama Ramadhan mereka diharapkan akrab kembali pada masjid.

Kedua, PR pada hakikatnya adalah kegiatan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat yang disuport pemerintah daerah. Sebagai kegiatan masyarakat, PR pun dimaksudkan agar masyarakat lingkungan masjid dan lingkungan siswa ikut berpartisipasi, mengawasi dan mendukung kegiatan tersebut sebagiaman selama ini. Dengan demikian PR sekaligus menjadi wadah sosialisasi siswa dan masyarakat. Ini menjadi penting karena semakin hari para siswa makin kurang peduli dengan kegiatan sosial, seperti gotong royong, ronda, kebersihan masjid, kebersihan lingkungan, keamanan dan ketertiban lingkungan.

Karena itu dari awal PR tidak melulu diisi dengan ceramah atau taushiah. PR pada dasarnya merupakan pembimbingan berkehidupan sosial yang agamis. Sayang belakangan nyaris diisi dengan ceramah sehingga membosankan para siswa. (Hal ini pernah saya jelaskan di depan Walikota Fauzi Bahar, Wawako Mahyeldi, Sekda Emzalmi,, Kadinas Pendidikan Dian Wijaya, dan kepala sekolah se-kota Padang di masjid di lantai atas Pasar Raya Padang, tiga tahun lalu).

Lebih dari itu, PR di masjid di lingkungan siswa sendiri bisa menjadi arena pertemuan dan persahabatan antar siswa antar sekolah. Ini hal penting yang selama ini terabaikan. Padahal inilah pemicu perkelahian dan tawuran antar sekolah yang cukup merepotkan warga, kepolisian dan Pemerintah Daerah selama ini.

Ketiga, kegiatan PR di masjid di lingkungan masing-masing siswa, selain untuk kearaban dengan masjid dan membangun kesadaran sosial di kalangan siswa, juga dimaksudkan untuk mempraktekkan/ mengamalkan pengetahuan dan ajaran agama di lingkungan masing-masing. Untuk itu perlu fasilitas beribadah yang memadai. Misalnya, ketersediaan air untuk berudhu dan ruang sholat berjamaah yang refresentatif. Fasilitas dan suasana sosial di masjid jelas tak setara dengan yang tersedia di sekolah.

Maka, terlepas soal kecurigaan politisasi, pengalihan kegiatan PR dari masjid ke sekolah itu jelas bertentangan prinsip serta maksud dan tujuan semula kegiatan tersebut. Dan, jika ini diteruskan maka selain tetap dicurigai , juga akan semakin menjauhkan siswa dari masjid dan lingkungan sosialnya, juga akan menjauhkan PR dari partisipasi masyarakat. Itu akan berdampak buruk pada sikap dan perhatian siswa pada masjid dan lingkungannya. Dan dapat dipastikan PR sendiri akan menjadi kegiatan eksklusif dan akan menumbuh sikap eksklusif di kalangan siswa.

Kita berharap, jika pihak-pihak terkait, termasuk DPRD Padang, menyadari hal ini sebuah kekeliruan, kiranya bisa mengembalikan kegiatan PR ke habitannya. Bila penyeleanggaran PR selama ini dianggap masih banyak kekurangan, cukuplah kekuarangan itu yang diperbaiki dan disempurnakan.

Biarkanlah PR tetap berada di tengah-tengah masyarakat lingkungannya sehingga masyarakat bisa ikut berpartisipasi, berdedikasi dan beredukasi termasuk mengatasi persoalan kenakalan remaja dan siswa selama ini.
Bagi siswa sendiri hal ini amat berguna utuk menyiapkan diri sebagai penerus kelangsungan kemakmuran masjid di lingkungannya di masa yang akan datang.

Toh, jika semua kegiatan di masyarakat diambilalih, selain terlalu banyak dan berat yang dikelola Pemerintah Daerah, tentu juga masyarakat sendiri kehilangan wadah untuk berpartisipasi dan beredukasi dalam pembangunan umat dan bangsa ini. Dan, itu justru merugikan pemerintahan sendiri. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: