Menjual Objek Wisata Nabi Adam

Fokus Minggu 28 Desember 2008
Oleh Fachrul Rasyid HF

Hampir tiap musim libur, baik masa libur pergantian smester sekolah, tahun ajaran baru, Hari Raya Idul Fitri, tahun baru seperti sekarang, masyarakat cenderung mengunjungi objek-objek wisata. Sayang, kecuali museum, kebun binatang dan objek wisata sejarah, hampir semua objek wisata alam yang dikunjungi masih warisan Nabi Adam.

Disebut warisan Nabi Adam karena sejak Nabi Adam diturunkan ke bumi objek wisata itu nyaris belum pernah mengalami pebaikan dan polesan. Meski disebut objek wisata, namun belum satupun yang dikelola sebagai sasaran kunjungan tamasa. Kalau tidaklah karena perubahan alam, kebutuhan lahan pemukiman, prasarana dan sarana transportasi dan pertanian, kondisi objek wisata itu mungkin persis saat Nabi Adam ke bumi.

Ada memang pertanda objek wisata. Misalnya, ada papan nama lokasi, lalu, sedikit bangunan tempat berteduh dan tempat berjulaan yang kondisinya nyaris tak terawat. Lihat saja di sekitar Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Kembar, Lembah Harau, Sungai Jernih, Hutan Cagar Alam Rimbo Panti, Pantai Air Manis, Pantai Bungus dan sebagainya.

Beruntung Ngarai Sianok berada di tengah kota Bukittinggi dan Pantai Padang yang memang berada di dalam kota sehingga sedikit tempat duduk dan panorama yang disediakan tampak agak terawat. Namun bila dilihat dari konsep industri dan bisnis kepariwisataan, objek wisata alam di Sumatera Barat masih relevan disebut sebagai warisan Nabi Adam.

Karena itulah promosi pariwisata Sumatera Barat selama ini terasa sia-sia karena tidak ada garansi/ jaminan kenyamanan, ketertiban, kebersihan, keamanan, kemudahan dan fasilitas yang dibutuhkan. Coba sebut sebuah objek wisata yang menyediakan tempat parkir aman dan tertib, kebersihan dan kemanannya ditangani dengan baik, yang memiliki restoran dan menyediakan makanan dan buah-buahan khusus, yang menyediakan ruang pertemuan lengkap dengan air bersih WC dan kamar mandi yang refresentatif. Yang disitu bisa dilangsungkan pertunjukkan kesenian, seminar, diskusi dan rapat-rapat.

Kenyataannya berkunjung ke objek wisata di Sumatera Barat harus siap membayar berbagai pungutan baik sebelum maupun di objek wisata itu. Harus siap memarkir kendaraan di tempat yang dianggap aman. Harus siap didatangi penyewa tikar, penjaja makanan, atau tukang parkir dadakan. Harus siap melihat sampah bertebaran, dan harus siap juga mojok kalau mau buang hajat. Agar tak “dipangua” penjual minuman, bawalah minuman sendiri. Siapkan makanan karena di objek wisata tak ada restoran. Artinya, mengunjungi objek wisata untuk melihat keindahan alam sembari menghirup udara segar, selain harus menyiapkan uang, harus siap pisik dan mental.

Seharusnya setiap lokasi yang ditetapkan dan dipromosikan sebagai objek wisata dikelola sesuai dengan prinsip bisnis dan industri pariwisata. Kawasan dan arealnya harus jelas dan terkelola sehingga semua pengunjung masuk dari satu pintu. Tempat dan tarif parkir harus jelas. Punya cleaning service dan satpam yang berseragam khusus yang menjamin kebersihan dan keamanan siang dan malam. Tersedia restoran dengan menu makanan dan minuman yang sehat, lezat, tarifnya jelas dan pelayan yang berpakaian rapi dan bersih. Ada warung cendramata. Kalau menyediakn ruang pertemuan, air besrih WC dan kamar mandi yang bersih tentu bisa menampung kegiatan pemerintahan dan swasta. Tak kalah penting adalah jam/hari kerja atau buka objek wisata itu juga harus jelas.

Pengelolaan objek wisata seperti itu jelas tidak mungkin dikerjakan oleh Pemda atau Dinas Praiwisata. Pengelolaan objek wisata mesti ditangani pihak swasta. Dan, karena diantara objek wisata berada di tanah adat, nagari, swasta bisa difasilitasi bekerjasama bagi hasil dengan suku, nagari dan bahkan Pemda sendiri.

Jika konsep ini bisa diterapkan, paling tidak di tiap objek wisata yang sudah populer, bisa ditampung sekitar 40 tenaga kerja. Katakanlah ada 100 objek wisata yang mungkin dikelola secara bisnis dan industri pariwisata, setidaknya 4.000 tenaga kerja bisa ditampung. Lebih dari itu, Dinas Partiwisata atau pihak swasta yang bergerak di bidang pariwisata bisa bergransi dalam berpromosi.

Hanya dengan pengelolalan objek wisata secara profesional itulah potensi wisata Sumatera Barat bisa berdampak ekonomi bagi Pemda maupun bagi rakyat. Kalau Pemda masih bergerak sendiri, berapapun investasi di objek wisata, sebagaimana berkali-kali dilakukan Pemda Sumatera Barat di Muara maupun di Pantai Padang, tetap saja akan percuma. Bayangkan, investasi di objek wisata Muara dan Pantai Padang sejak tahun 1996 hingga 2005 yang menghabiskan sekitar Rp 10 milyar, akhirnya percuma.

Di balik itu semua, hal terpeting adalah, apakah Pemda sendiri punya nyali untuk mengajak swasta mengelola objek wisata itu. Jaka tidak, tentu, cukuplah menjual objek wisata warisan Nabi Adam dari masa ke masa..(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: