Mewaspadai “Transformasi” Iman

Mewaspadai “Transformasi” Iman
Oleh Fachrul Rasyid HF

Mewaspadai kecenderungan kemerosotan akidah dan penurunan kualitas ibadah pada masyarakat Islam Sumatera Barat. Inilah yang diperingatkan Gubernur Sumatera Barat, diwakili Sekretaris Dearah Drs. Yohanes Dahlan, saat acara bedah buku 100 Tahun Surau Syekh M. Djamil Djambek di Bukittinggi, Ahad 3 Februari 2008 lalu.

Peringatan itu tampaknya perlu disahuti dan ditindaklanjuti oleh para ulama, ustaz, para mubaligh bersama semua lapisan masyarakat. Soalnya, terlepas apakah yang diperingatan itu masih sebatas kecenderungan atau memang sudah menjadi kenyataan, yang jelas kini ada sebuah gerakan yang disebut “Transformasi Iman“, penggantian/ pengubahan iman, penuaian iman yang dilancarkan penganut agama tertentu untuk memurtadkan umat Islam Indonesia.

Buletin dan kepingan CD yang diedarkan organisasi dakwah Islam, Forum ARIMATEA (Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah Terpadu& Aktual) memaparkan bahwa gerakan Transformasi Iman itu menargetkan sebanyak 70 hingga 90% umat Islam Indonesia akan dituai/beralih keimanannya selama tahun 2005 hingga tahun 2010.

Grakan Transformasi Iman tahap awal, tidak langsung murtadkan umat Islam. Umat Islam akan dibiarkan tetap mengakui Islam sebagai agama, tetapi tidak lagi meyakini Tuhan Allah yang Esa (Allahu Ahad), tidak mempercayai Muhammad SAW sebagai Rasul Allah, Alqur’an sebagai kitab suci yang harus diamalkan ajarannya, tidak lagi melaksanakan sholat lima waktu. Caranya adalah membangun pemikiran rational, logis dan realitis berdasarkan logika Barat dan membentuk prilaku yang menjauhi ajaran Islam.

Transformasi Iman membentuk kader militan yang siap diterjunkan dalam berbagai bentuk kegiatan. Menyebarkan brosur dan buku-buku, mengadakan diskusi dan seminar di kalangan mahasiswa/i, pemuda/i Islam tentang persamaan gender, hak asasi manusia, kebebasan beragama (sekularisme), kesamaan agama tentang paham tidak ada satu agama pun yang benar dan tidak seorang pun boleh menganggap agamanya paling benar (pluralisme). Harap diingat, setiap kali diskusi mereka selalu bicara persamaan dan menghindari pembicaraan tentang perbedaan tiap agama.

Di Sumatera Barat, misalnya, ada LSM yang dipimpin pemuda bukan Minang, kuliah di IAIN Imam Bonjol dan mengajar di sebuah sekolah non Islam. Sejak sepuluh tahun terakhir selalu bicara persamaan gender, hak asasi manusia, persamaan agama, sekularisasi, pluralisasi, dan liberalisasi. Sampai-sampai menyatakan bahwa ninik mamak di Minang melanggar hak asasi manusia wanita karena wanita menikah harus seizin mamak.

Gerakan lainnya adalah membangun opini dengan cara membesar-besarkan kejelekan, kemiskinan dan ketinggalan umat Islam. Mengejar pemuka, tokoh politik dan birokrat Islam baik di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan memanfaatkan isu politik dan tangan-tangan non Islam yang memiliki kewenangan di bidangnya.

Kader “Transformasi Iman” itu juga diprogram mendekati remaja puteri Islam, terutama dari keluarga pemuka Islam melalui persahabatan, pacaran, sampai terjadi hubungan intim dan atau pernikahan. Setelah menikah mereka diultimatum meninggalkan Islam atau bercerai. Jika pilihannya bercerai, maka anaknya diusahakan tetap pada sang suami supaya tidak jadi muslim.

Juga melalui permainan dan pertunjukkan musik seperti konser, organ tunggal, secara terbuka dan melalui media masa televisi. Juga melalui model pakaian, perhiasan, rambut memanfaatkan salon kecantikan atau memanfaatkan waria, untuk mengalihkan perhatian mereka sehingga meninggalkan ibadah dan kewajiban agamanya.

Pendekatan terhadap warga, terutama yang miskin dan korban bencana alam, dilakukan melalui pengobatan gratis, pembagian pakaian dan buku-buku non Islam secara gratis, dan pembagian sembako.

Para perancang Transformasi Iman menilai kondisi sosial ekonomi dan sosial politik Indonesia saat ini menjadikan ladang mereka sangat subur. Katanya, “Indonesia kini sedang menguning, tinggal menunggu musim menuai dengan hasil tuainya yang amat besar”.

Maka, melihat sistmatika gerakan ini, ditambah dukungan dana dan tenaga dari luar, tampaknya memang sudah tiba saatnya umat Islam, selain membetengi diri, keluarga, terutama kalangan remaja yang menjadi target, juga mewaspadai semua bentuk kegiatan yang secara sadar atau tidak sadar dilancarkan pendukung Transformasi Iman itu.

Umat Islam diharapkan tidak mudah terpancing isu-isu hak asasi manusia, persamaan gender dan sebagainya yang seolah menyudutkan umat dan ajaran Islam. Sebab, bukan tidak mungkin Transformasi Iman juga memancing timbulnya konflik di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena Umat Islam mesti terus berkoordinasi dengan pejabat dan aparat.

Sudah saatnya pula umat Islam teguh berhimpun dan bersatu di bawah kelembagaan masjid di mana pun berada untuk memperdalam iman dan Islam, membangun ikatan sosial dan membangun ekonomi masyarakat. Hanya dengan tetap di bawah naungan masjid umat Islam akan mampu menghadapi bahkan mematahkan Transpormasi Iman itu. (*)

Opini Harian Singgalng Rabu 6 Febaruari 2008

Satu Balasan ke Mewaspadai “Transformasi” Iman

  1. […] Opini Harian Singgalng Rabu 6 Febaruari 2008 Oleh Fachrul Rasyid HF […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: