Puasa Hilang Dosa Terbilang

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

setiap habis puasa orang-orang kembali berpacu berbuat dosa sehingga puasa hilang dosa terbilang

Ungkapan puasa (Ramadhan) hilang dosa terbilang tampaknya banyak benarnya. Coba ingat lagi apa yang dilihat dan dialami setelah Ramadhan yang baru lalu. Begitu usai sholat Idulfitri, banyak diantara orang-orang  yang tadinya berpuasa selama sebulan, berbondong-bondong menuju tempat-tempat hiburan dan objek rekreasi, pasar, tempat-tempat pemandian umum, ngarai, kebun binatang, pantai, danau, gua-gua yang kebanyakananya dihuni kawanan monyet. Seolah usai puasa Ramadhan mereka perlu bersilaturrahmi ke monyet-monyet itu.

Di tempat-tempat tersebut prilaku berpakaian dan berpenampilan yang diajarkan Ramadhan dan pesantren Ramadhan seolah raib seketika. Banyak orang muda dan setengah baya berpakaian, berbicara dan bergaul sesukanya. Para siswa yang tadinya tekun di Pesantren Ramadhan, seperti tanpa beban mengenakan pakaian ketat dan polos tengah, berpelukan di boncengan sepeda motor, atau duduk berduaan di tempat rekreaksi hingga pulang larut malam.

Celakanya, di hari yang seharusnya dimeriahkan dengan takbir, malah banyak yang  menampilkan pertunjukan musik organ tunggal dengan penyanyi berpakaian seksi. Dan itu tak hanya terjadi di perkoataan tapi juga sampai ke nagari-nagari  yang terpaut ratusan kilo dari Padang. Kehidupan setelah Ramadhan yang mestinya diawali kebajikan dan ketaqwaan terjauh dari perbutan dan tempat maksiat malah langsung dimulai dengan dosa dan kemasiatan.

Begitukah mestinya berlebaran Idul Fitri? Kenapa pendidikan dan pembinaan kehidupan beragama selama bulan Ramadhan itu tak menumbuhkan budaya Ramadhan. Kenapa setelah bertahun-tahun berpuasa ajarannya begitu mundah rontoh hanya sehari dua setelah puasa. Apa yang salah dalam masyarakat kita?

Padahal puasa Ramadhan berlangsung selama satu bulan. Jika seseorang berusia 40 tahun dan melaksanakan puasa secara tekun sejak usia 10 tahun, berarti dia telah berpuasa selama 30 bulan atau 900 hari selama hidupnya. Mestinya, jika orang-orang melaksanakan puasa selama itu dengan benar dan sungguh-sungguh sesuai aturan dan tujuannya dapat dipastikan apa yang dikatakan Rasulullah bahwa pada 1 Syawal ia bagaikan bayi yang baru lahir, suci bersih tanpa noda dan dosa.

Pertanyaan-pertanyaan di atas tampaknya merupakan persoalan yang sepatutnya direspon para ulama dan pemuka masyarakat Minang. Apakah hal itu terjadi akibat dakwah yang belum sempurna dan atau karena Islam tidak memberikan tuntunan berlebaran yang benar. Atau para ulama dan ustaz memang tidak pernah menyampaikan dalam ceramahnya bagaiamana seharusnya ber-Idul Fitri yang benar itu. Karena kita tahu ceramah selama Ramadhan nyaris hanya didominasi soal puasa dan zakat fitrah.

Jika itu benar, bisa dimaklumi kenapa Idul Fitri berkembang mengikuti arus budaya zaman. Dulu, saat ulama dan penghulu adat masih menaruh perhatian besar dan cuku berwibawa terhadap kaumnya Idulfitri dimeriahkan dengan acara-acara yang terjauh dari bau maksiat di lingkungan dan nagari masing-masing. Kini, seiring kemajuan sarana dan prasarana transportasi, orang-orang pun berlebaran ke objek rekreasi. Menampilkan pertunjukkan kesenian organ tunggal dengan penyanyi wanita berpakaian minim dan penonton yang menenggak minuman keras.

Kenyataannya malah bertolak belakangan dengan ajaran Islam itu. Idul Fitri malah cenderung dirayakan dengan kegiatan yang jauh dari makna dan tujuan puasa Ramadhan, makna dan tujuan zakat fitrah. Karena itu MUI Sumatera Barat dan cendekiawan muslim di IAIN Imam Bonjol merumuskan tuntutan bagaimana mestinya Idulfitri dirayakan sesuai ajaran Rasulullah. Sehingga  kehidupan masyarakat muslim setelah Ramdahan dapat diwarnai budaya Ramadhan. Dan, puasa Ramadhan sebagai proses pembudayaan nilai-nilai qur’ani seharusnya mampu membangun masyarakat yang islami.

Jika tidak, tentulah, setiap habis puasa orang-orang kembali berpacu berbuat dosa sehingga puasa hilang dosa terbilang. (*)

Fokus Minggu 27 September 2009

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: