Ramadhan Hilang Lebaran Terbilang

Oleh Fachrul Rasyid HF

Usai sholat Idulfitri esoknya,  kendaraan ramai-ramai menuju tempat-tempat hiburan dan objek rekreasi, pasar, ngarai, kebun binatang, pantai, danau, gua-gua, tempat-tempat pemandian umum.Orang seolah lebih suka bersilaturrahmi dengan monyet-monyet penghuni Lembah Anai, Ngarai Sianok atau di Pantai Teluk Nibung dan di tempat-tempat rekreasi sehingga jalanan pun jadi macet.

Selama puasa sebulan Ramadhan ibadah seorang mukmin haruslah lebih banyak dan lebih lengkap. Himbauan itu tampaknya sudah disahuti. Buktinya, jika di hari-hari biasa shalat jamaah di masjid cuma diikuti lima enam orang, selama Ramadhan masjid disaksi pria dan wanita. Wirid dan ceramah agama setiap usai shalat Isa dan Subuh. Lalu, dilanjutkan dengan pesantren Ramadhan bagi siswa siswi sekolah selama tiga pekan.

Prilaku pun tak boleh terusik dosa sedikitpun. Panca indra, kaki dan tangan, pakaian, makanan dipelihara dan terpelihara dari gangguan orang lain. Tak boleh ada yang makan minum dan merokok demi menghormati orang yang berpuasa. Sehingga,    pemerintah kota pun menutup warung-warung di siang hari.

Melihat suasana itu benarlah agaknya apa yang dikatakan Rasulullah bahwa orang yang berpuasa Ramadhan dengan benar dan penuh kesadaran, pada 1 Syawal ia tak ubahnya bayi yang baru lahir, suci bersih tanpa noda dan dosa. Mengingat Ramadhan sebagai latihan dan pembentukan prilaku, tentu diharapkan kondisi nol dosa itu bisa mewarnai kehidupan sampai Ramadhan berikutnya.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Begitu meninjak malam terakhir Ramadhan masjid langsung sepi. Di Kota Padang misalnya, hanya sedikit jamaah yang bertakbir menyambut kehadiran Idulfitri 1 Syawal. Sedikit jamaah dan anak-anak berjalan kaki sembari mengusung obor menabuh beduk menyiarkan takbir di jalanan. Yang ramai justru orang-orang hlir mudik dengan berbagai kendaraan hilir tak tentu arah.

Usai sholat Idulfitri esoknya, hanya sebentar orang-orang terlihat bersilaturahmi di tiap perkampungan. Menjelang siang pemukiman mulai sepi dan keramaian beralih ke jalan raya dengan lalu lintas kendaraan menuju tempat-tempat hiburan dan objek rekreasi, pasar, ngarai, kebun binatang, pantai, danau, gua-gua, tempat-tempat pemandian umum.

Keterlaluan juga kalau dianggap orang-orang berhari raya dan bersilaturrahmi dengan monyet-monyet penghuni Lembah Anai, Ngarai Sianok atau di Pantai Teluk Nibung, misalnya. Namun, kenyataannya memang orang-orang lebih suka berhari raya di tempat-tempat rekreasi itu sehingga jalan-jalan dari dan ke tempat rekreasi jadi macet sampai masa liburan berakhir.

Semua itu seolah membenarkan ungkapan lebaran datang Ramadhan hilang. Begitu masa lebaran datang ajaran tentang berprilaku, berbicara, berpakaian dan berpenampilan selama Ramadhan dan pesantren Ramadhan seolah raib seketika. Tak ada lagi keramaian shalat berjamaah di masjid dan tak ada lagi pengajian-pengajian.

Seperti lumrahanya di tempat-tempat rekreasi, orang berpakaian, berbicara dan bergaul  sesukanya. Para siswa yang tadinya tekun di Pesantren Ramadhan, seperti tanpa beban mengenakan pakaian ketat yang polos tengah, berpelukan di boncengan sepeda motor, atau duduk berduaan di tempat rekreaksi hingga pulang larut malam dan bertaburan mercun.

Ibu-ibu muda yang di bulan Ramadhan tak pernah lepas dari mukenah kemudian balik bercelana jin dan kaos ketat. Dari belahan Sumatera Barat yang lain terbetik kabar lima pemuda tewas menenggak minum keras, menambah jumlah korban sepuluh orang korban miras tahun lalu. Kehidupan setelah Ramadhan yang mestinya diawali dari nol kebajikan dan ketaqwaan seolah diartikan harus dimulai dengan nol dosa dan kemasiatan.

Begitukah mestinya berlebaran Idulfitri? Selama ini sepanjang Ramadhan setidaknya dari ceramahkan para ulama, mubaligh dan ustaz cuma memang jarang terdengar adanya tuntutan syar’iyah bagaimana mestinya meyakan Idulfitri itu. Isi ceramah nyaris didominasi soal puasa dan zakat fitrah.

Dilihat dari perjalanan sejarah, ada kesan Islam memang tak memberikan tuntutan bagaiamana mestinya berindulfitri itu. Karena itu, mungkin, para ulama membiarkan perayaan Idulfitri berkembang mengikuti arus budaya zaman. Dulu umat Islam memeriahkan Idulfitri dengan acara-acara yang tak berbau maksiat di lingkungan dan nagari masing-masing. Kini, seiring kemajuan sarana dan prasarana transportasi, orang-orang pun dibiarkan berlebaran ke objek rekreasi. Menampilkan  pertunjukkan kesenian organ tunggal dengan penyanyi wanita berpakaian minim dan disertai minuman keras.

Tapi, karena arah perkembangan perayaan Idulfitri yang cenderung mendekati maksiat dan bertentangan dengan ajaran Islam, makna dan tujuan puasa Ramadhan, makna dan tujuan zakat fitrah, tentu sepantasnya MUI Sumatera Barat dan cendekiawan muslim di IAIN Imam Bonjol merumuskan tuntutan bagaimana mestinya Idulfitri dirayakan. Jika tidak, yang terjadi nanti tentu habis puasa terbitlah dosa, habis sebulan beribadat terbitlah maksiat.(Fokus Minggu Haluan 12 Oktober 2008*)   

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: