Saatnya Kampanye Antimunafiq

Oleh Fachrul Rasyid HF

Berbicara di depan publik atau menulis di media massa menggunakan kata-kata munafiq dan fasiq, kini dinilai kasar. Padahal kata munafiq atau fasiq adalah bahasa agama. Kata itu amat banyak ditemukan dalam ayat-ayat Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW. Seharusnya pula setiap muslim termotivasi mengucapkanya karena, sesuai janji Allah, akan berimbalan pahala.

Di segi berbahasa, kedua kata itu juga lebih ekonomis dan efektif mengkomunikasikan perilaku yang dapat membahaya kehidupan bermayarakat dan bernegera. Sebab, kata munafik, sesuai bunyi hadits mengandung tiga makna: pembohong, pengkhianat dan pendusta. Dengan kata lain, orang munafiq bagaikan musang berbulu ayam.

Sedang kata fasiq bermakna orang yang dalam hidupnya membaurkan perbuatan halal dan haram, baik dan buruk. Misalnya, suka bersedekah tapi juga suka korupsi. Suka beribadah dan ke masjid tapi di masyarakat atau di kantor terus berbuat dosa.

Di kalangan masyarakat Kabupaten 50 Kota, orang fasiq (pasiak) malah berkonotasi  mengalami gangguan kejiwaan, mirip sebutan bocoh aluih atau dalang (orang yang babana surang dan atau suka bicara sendiri) di Padang. Karena itu agaknya Islam mengajarkan, orang munafik atau fasiq tidak boleh jadi imam sholat apalagi jadi pemimpin masyarakat, daerah dan negara.

Tapi kenapa belakangan justru kedua kata itu dianggap kasar dan jarang diucapkan. Padahal, menurut pribahasa, “bahasa menunjukkan bangsa” (tipikal/prilaku) dan cara bicara menunjukkan cara berfikir. Apakah itu berarti agama tak lagi menjadi dasar nilai-nilai sosial di daerah yang memegang prinsip adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah ini?

Banyak hal, memang, pantas dipertanyakan di balik semua itu. Sebab, menurut teori perubahan sosial, kata-kata yang sering diucapkan atau ditinggalkan erat kaitannya dengan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.

Sebagi contoh, kata poyok, julukan untuk wanita pezinah. Kata itu digunakan untuk menunjukkan perbuatan tersebut sangat keji. Tapi seiring dengan makin longgarnya kontrol sosial dan meluasnya perbuatan zinah, sebutan poyok berubah jadi pelacur. Kemudian, setelah budaya kebabasan seks meluas dan perzinahan dianggap komiditi, mungkin juga sumber devisa, sebutan poyok dan pelacur berganti jadi pekerja seks komersial (PSK).

Jangan-jangan, setelah disebut pekerja dan komersial, kelak PSK dilindungi undang-undang layaknya pekerja dengan undang-undang perburuhan atau pedagang dengan undang-undang perdagangan. Sehingga, perzinahan yang awalnya sesuatu yang sangat diharamkan nanti berubah jadi sesuatu yang dihalalkan dan dilndungi hukum. Lalu, orang akan tersinggung disebut pelacur dan bangga dijuluki PSK.

Proses perubahan sebutan dan pemaknaan kata munafiq dan fasiq, tampaknya juga demikian. Pada awalnya untuk menyebut munafiq, orang merasa cukup mengucapkan kata pembohong, pendusta, pengkhianat. Kemudian seiring makin banyak diantara figur publik (pejabat, politisi, aparat, artis dan da’i) yang suka berbohong, berdusta dan berkhianat, kata itu pun diperhalus jadi pembohongan, pengelabuan dan pengingkaran. Belakangan berubah jadi manipulasi, distorsi, degradasi dan sebagainya. Dan, kemampuan berbohong, berdusta dan berkhianat pun cenderung “dianggap” sebagai kemahiran berdiplomasi.

Begitu juga halnya dengan kata fasiq. Orang yang mampu tampil dan berbuat di tempat-tempat ibadah dan mendatangi tempat maksiat atau menganjurkan berbuat baik dan melakukan perbuatan dosa, dianggap punya kemampuan beradabtasi, menyesuaikan diri, terbuka, fleksible, akomodatif, persuasif dan sebagainya.

Maka, kata munafik dan fasiq yang tadinya berkonotasi jelek, buruk, dosa yang harus dikenai sanksi moral dan sanksi pidana, kemudian berubah jadi sesuatu yang positif, terpuji, bahkan dianggap prestasi yang dihargai. Maka, memperoleh kekayaan, pangkat dan jabatan dengan cara mencuri, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan penyelewengan hukum yang merupakan tindak kejahatan dianggap prestasi. Lalu, seperti dinyanyikan Ebit G. Ade, orang pun bangga dengan dosa-dosa.

Melihat keinginan negara menumpas berbagai kejahatan dan budaya korupsi sekarang tampaknya tiba saatnya dilancarkan kampanye penggunaan kata munafiq dan fasiq tersebut. Dengan demikian diharapkan nilai-nilai kebenaran kembali tumbuh sehingga masyarakat tahu membedakan antara dosa dan pahala, kebaikan dan keburukan, serta prestasi dan korupsi.

Menyongsong pilkda di beberapa kota di Sumatera Barat dalam waktu dekat ini tampaknya kampanye antimunafiq dan antifasiq itu menjadi penting untuk menyadarkan masyarakat tentang mana calon kepala daerah yang berprilku baik dan buruk. Mana yang munafiq, pembohong, pendusta dan yang bersih, jujur dan amanah. Mana yang suka bicara peningkatan kesejahteraan rakyat tapi menyejahterakan diri sendiri. Menyadarkan masyarakat tentang calon kepala daerah yang manis di mulut jahat di hati, beda bicara dan perbuatan suka berjanji tapi sering mengingkari.

Para ulama dan mubaligh, para pejabat pemerintahan, penegak hukum dan figur publik lainnya perlu menyuarakan prilaku munafiq dan fasiq itu sebagai sesuatu yang buruk, jahat dan berdosa. Dengan cara itu masyarakat punya ukuran yang tegas dan jelas mengontrol dan menilai para pemimpin dan pejabat. Dan, dengan cara itu daerah dan negara ini bisa dihindarkann dari kehancuran dan kutukan Tuhan.(*)

Komentar Singgalang 14 April 2008

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: