Semangat Bangkit di Usia 70

Komentar Harian Singgalang 10 Juli 2017

Oleh Fachrul Rasyid HF

Banyak catatan dan pembicaraan yang muncul setelah peringatan Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (PII) ke 70 ( 4 Mei 1947 – 4 Mei 2017)   di Istana Bung Hatta Bukittinggi, 6 dan 7 Mei 2017  lampau. Maklum, acara yang dilabeli “akbar” itu memang terbilang besar dibandingkan acara serupa sebelum-sebelumnya.

Terasa besar tak cuma karena jumlah Keluarga Besar (KB) PII yang hadir, tapi juga beragamnya usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan dan profesi. Mulai  angkatan 66, saat PII mulai berkembang di Sumatera Barat, hingga generasi 2016.

Dari kalangan yang paling senior misalnya ada Maspar Rasyid, Makmur Hendrik, Arbel Ahmad, Anwar Khatib,  Nasrul Hamzah, Harma Zaldi, Syukhyar Iskandar, Sarwan Djas, Syafrizal Muluk, Masri Lamsayun,  dan sebagainya. Mereka ini generasi di bawah penduhulunya, antara lain Binahar Daud, Ratnawilis, Taufik Hidayat, Fatimah Yulinas, Mustamir Makmur, Dasril AN, Adli Fauzi dan lainnya.

Luapan kerinduan pun menambah semaraknya acara itu. Maklum, diantara mereka yang segerasi saja sudah lama tak bertemu karena memang sudah menyebar ke mana-mana. Sebut misalnya, Hafni Muchtar, kader PII-wati, dari Kota Bukittinggi 1973, tinggal di Jakarta dan melanglang buana ke berbagai negara, sudah 40 tahun tak berkumpul sesama PII. Tak aneh bila diantara  mereka tak lagi saling mengenal wajah -wajah kekiniannya. Dan, apalagi, dengan generasi berikutnya mereka tak saling mengenal.

Maka, ditengah-tengah keharuan dan kerinduan itu berkembang dialog yang   mencuatkan berbagai ide dan dialog antar generasi. Mereka bertekad bagaimana mewasiatkan dan mewariskan semangat kekeluargaan dan perjuangan kepada generasi muda yang terpelajar dan islami yang teguh menjaga Negara Kesatuan Republik  Indonesia, yang menjadi ciri khas PII. Hal itu kemudian ditandai makan bersama di hamparan duan pisang, peletakkan batu pertama gedung PII yang telah didahului pembangunan sebuah Masjid PII di Jirek Bukittinggi.

Diantara ide dan gagasan yang muncul misalnya, adanya keinginan mengangkat acara serupa tahun depan dengan wilayah yang lebih luas dan agenda lebih besar. Misalnya peringatan Harba dan Pertemuan KBI PII se Sumatera. Dan, saya kira hal itu bukanlah suatu yang mustahil.

Sebab, Pengurus Wilayah PII Sumatera Barat pernah berpengalaman bekerjasama dengan PB PII melaksanakan Perkampungan Kerja Pelajar (PKP) PII se-Sumatera di Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, tahun 1971 silam.  PKP inilah kemudian yang menginspirasi munculnya program kuliah kerja nayata (KKN) di kalangan perguruan tinggi di Indonesia.

Kala itu saya adalah peserta PKP termuda (masih kelas 3 SLTP) bisa bergabung dan bersahabat  dengan mahasiswa dan bahkan sarjanamuda, utusan berbagai provinsi. Antara lain, Muslimin Nasution, Baharuddin Nasution dan Usman Bava dari Kota Medan.  Tapi ada juga yang memunculkan keinginan pertemuan KB PII, setidaknya, sewilayah Sumatera Tengah (Sumbar-Riau dan Jambi).

Keinginan dan semangat itu masih terus didiskusikan dan perlu terus ditindaklanjuti. Betapa tidak, amanat Panglima Besar Jenderal Sudirman pada peringatan Harba PII pertama di Solo,  4 Mei 1948 silam, masih segar dalam ingatan kita. Kata Jenderal Sudirman,“.. terimakasih anak-anakku PII. Saya tahu, telah banyak yang diberikan PII kepada negara. Teruskan perjuanganmu. Negara kita negara baru, di dalamnya penuh onak dan duri, kesukaran dan rintangan masih terus membutuhkan pengorbanan pemuda dan segenap bangsa Indonesia”.

Masih amat relevans amanat Jenderal Sudirman  69 tahun lalu itu dengan persoalan bangsa hari-hari ini.  Paling tidak, PII bisa ikut berperan menyelamatkan genarasi muda, pelajar dan pemuda yang kini dirasuki narkoba, kenakalan dan bahkan berbagai kejahatan. Artinya, bangsa dan negara ini masih terus membutuhkan pengorbanan  PII bersama para pemuda dan segenap bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan Jenderal Sudirman.

Sesungguhnya PII dengan pola pengkaderannya, yaitu membangun generasi terpelajar, islami dan persatuan Indonesia, dapat memberikan solusi yang tepat mengatasi berbagai persoalan itu. Untuk mencapai tujuan tersebut PII amat mungkin bekerjasama dengan jajaran Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan sebagainya. Sebab, tupoksi dan program lembaga negara tersebut searah dan setujuan dengan apa yang menjadi program dan cita-cita PII.

Harapan kita memang besar, bagaimana semangat Harba PII dan kiprah PII tak  pernah redup mengingat para senior yang kaya berbagai pengalaman terus berkurang dimakan usia. Sementara tantangan generasi di bawahnya kian berat dan komplek.

Bila sempat redup, apalagi sampai pudar, nasib PII kelak bak rumah “gadang” tua. Dihuni, tak lagi kuat. Kalau pun diperbaiki tak cukup memuat anggota keluarga yang terus beragam dan bertambah. Akhirnya, rumah gadang itu terbiar dan runtuh. Lalu, generasi berikutnya hanya bisa berkata,”disini dulu pernah bediri rumah gadang nenek – nenek kami”. (*)

 

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: