Serba Seribu di Galugu

Oleh Drs. H. Fachrul Rasyid HF

Pada tanggal 30 Januari 2014 lalu  Walingarai dan masyarakat Gelugur atau Galugua ( penduduk sekitarnya menyebut Galugu) Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, menyelenggarakan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). Musyawarah nagari empat jorong dihuni sekitar 3.000  jiwa itu dihadiri Bupati Alis Marajo dan beberapa kepala SKPD kabupaten.

Jarak Galugua dari Pangkalan Kotobaru sekitar 90 Km. Jalan beraspal baru sampai di Sialang. Namun sejak tiga tahun belakangan jalan antara Durian Tinggi- Sialang sekitar 3 Km sudah sangat parah. Aspalnya hancur dan dipenuhi lobang-lobang. Kemudian dari  Nagari Sialang ke Galugua terpaut sekitar 24 Km, terbilang dekat, tapi tak mudah dijangkau. Jalannya parah. Tanjakannya tajam.

Kondisi jalan ke nagari yang berbatasan dengan Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Rokan Hulu, Riau, memang memprihatikan. Tahun 2013 lampau pernah dilakukan pengerasan. Namun tak bertahan lama. Akibat tanahnya yang labil, badan jalan banyak yang berlobang-lobang dan berlumpur diterjang hujan. Tak aneh jika Walinagari Galugua, Syakban, memilih kendaraan sepeda motor trial, biar lebih mudah ke ibu kecamatan di Muara Paiti.

Serba Seribu

Tak sembarangan mobil bisa menjelajahi jalan ke Galugua. Mobil ke sana, selain truk, hanya mobil doble gardan. Itupun harus berjuang melawan tanjakan dan lumpur yang penuh bahaya. Jangan heran jika dari Sialang ke Galugua tak berlaku tarif resmi angkutan darat. Sewa barang dari Sialang ke Galugua, mirip sewa cargo di angkutan udara. Kecuali tas tentengan, semua jenis barang, apapun jenisnya, dikenakan sewa  Rp 1.000/kilogram.

Karena itu di warung-warung di Sontuang, jorong  di ujung Nagari Sialang, yang menjadi “terminal” mobil ke Galugua tersedia timbangan gantung. Setiap barang ditimbang terlebih dahulu sebelum naik mobil. Yang tak ditimbang cuma buah kelapa. Sebab, sebutir kelapa dipatok sewanya seribu rupiah.

Sebaliknya sewa angkutan hasil pertanian/ perkebunan seperti karet dan gambir dari Galugua ke Sialang juga dikenakan seribu rupiah/ kilogram. Tarif normal hanya berlaku dari  Sialang ke Pangkalan atau ke Payakumbuh.

Akibat sewa angkutan yang mahal itu, tentu saja penduduk Galugua harus menanggung beban ganda. Mereka harus membeli barang-barang dari luar jauh lebih mahal, dan menjual hasil perkebunannya lebih murah.

Karena itu pula banyak barang kebutuhan seperti minyak tanah, bensin, beras, semen, atap seng dan sebagainya diangkut dengan perahu lewat Sungai Kampar dari Nagari Subaliang, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Hasil perkebunan warga juga banyak dijual ke desa tetangga itu. Maklum, hulu Sungai kampar terdapat di Nagari Galugua.

Rencana Jalan Aspal.

Sebetulnya sejak awal tahun 2013 jalan dari Sialang ke Galugua sudah akan diaspal. Sofyan, SH, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumatera Barat, pihak yang menangani urusan penempatan penduduk korban benacana alam itu sudah berkali-kali mengingatkan agar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Limapuluh Kota segera mengajukan permohoan dana tersebut.

Sofyan memastikan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyanggupi dana sebesar Rp 40 milyar untuk pengaspalan jalan Sialang – Galugua. Sesuai tujuannya, Pemkab Limpuluh Kota harus menyeidakan lahan untuk  100 KK korban bencana alama dari bebarapa daerah di Sumatera Barat dan sebagian dari pulau Jawa. Sebelumnya, tahun 2013, BNPB telah mengeluarkan dana sebesar Rp 17 milyar untuk pengerasan jalan Sialang – Galugua.

Sayang, rencana pengaspalan jalan ke Galugua,  masih mengawang-awang karena BPBD Kab. Limapuluh Kota belum mengajukan permohonan tersebut.

Padahal jika memang ada niat untuk memuluskan jalan Sialang ke Galugua, tentu Pemda Kabupaten Limapuluh Kota, terutama BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum setempat, akan lebih serius dan gigih mendesak Pemprov Sumatera Barat untuk melanjutkan pembangunan jalan provinsi tersebut sehingga nasib warga Galugua bisa berubah.

Untuk diketahui perjuangan rakyat Galugua bukan hanya jalan raya, tapi juga listrik. Sejauh ini Galugua belum diterangi listrik PLN. Kecuali generator dengan bahan bakar yang mahal, Nagari Galugua masih bergelap gulita.

Padahal, daya juang warga cukup tinggi. Kini banyak anak-anak bersekolah dan berprestasi dari Galugua. Kalau saja jalan raya lebih baik, dan listrik bisa menyala sebagaimana di nagari lain, tentulah Galugua akan lebih maju.(*)

Komentar Singgalang  12 Februari 2014

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: