Sumando, “Luka” Islam di Minangkabau

Oleh Fachrul Rasyid HF
Tulisan Anwar, Luka Kultural Lelaki Minang, (Singgalang, Budaya/ Edisi Munggu/5 Agustus 2007), tentang nasib lelaki Minang sungguh menarik. Meski Anwar terfokus pada lelaki dalam kontek matrilinial dan kepemilikan harta pusaka, namun ketika ia menuturkan nasib lelaki sebagai sumando, saya melihat yang dialami lelaki Minang bukan lagi luka kulktural, tapi luka adat basandi syara’ syara’ basandi kitabullah (ABSSBK), atau luka Islam di Minangkabau.
Anwar melukiskan, begitu beranjak balig lelaki Minang harus tidur di surau. Setelah dewasa pergi merantau. Ketika secara ekonomi sudah mapan ia beristri dan jadi sumando tinggal di rumah gadang, dan mungkin juga bertani dan membangun rumah di atas tanah pusaka kaum si istri. Dalam posisi seperti itu “sumando” tunduk di bawah kendali istri.
Bagi yang mampu memboyong istri, lalu, membangun rumah di rantau disitulah agaknya dengan kemampuan ekonominya, lelaki Minang mungkin bisa sepenuhnya jadi suami bagi istrinya dan ayah bagi anak-anaknya. Karena itu mungkin banyak lelaki Minang kekal di rantau dan atau menikah dengan wanita etnis lain.
Bagi yang tak mampu, setidaknya kala sudah tua kembali ke kampung menetap di rumah gadang. Beruntung kalau tenaganya masih kuat dan penghasilannya memadai dan anak-anak masih kecil. Jika tenaga sudah uzur dan penghasilan terbatas dan anak-anak pada berkeluarga, lelaki Minang akan tergeser dari rumah dan tanah pusaka. Kalau masih bertahan, ia akan ditempatkan di bagian “belakang”. Dan setelah meninggal jasadnya dikembalikan kepada keluarga orang tuanya.
Jalan lain adalah kembali ke rumah orang tua. Itu pun kalau semasa muda /kuat lelaki itu suka membantu keluarga dan menolong keponakannya. Atau kalau di rumah itu masih ada ruangan yang bisa ditempati. Jika semua ruangan sudah dipadati anak keponakan dan sumando, lelaki Minang terpaksa membangun pondok kecil di ujung tanah pusaka atau tinggal di surau menjelang ajal.
Apa yang digambarkan Anwar, selain terasa lucu juga menyedihkan. Tak berlebihan kalau terkesan bahwa lelaki Minang hanya befungsi untuk tampang dan uang alias bibit dan duit. Setelah kedua hal itu tak lagi diperoleh, lelaki Minang cenderung “terbuang”. Karena itulah agaknya, sumando selalu dipersepsikan sebagai abu di ateh tunggua, yang bisa ditiup kapan saja, tergantung dua hal tersebut.
 Secara kultural, apalagi kalau lelaki memang sepenuhnya “numpang” hidup di atas tanah dan rumah pusaka istri, agaknya “luka kultural lelaki Minang” itu bisa dimaafkan. Begitupun, kalau dilihat dari prinsip ABSSBK dan ajaran Islam tentulah hal itu sebuah persoalan. Sebab,  dalam Islam sumando bukan sekedar bibit dan duit.
Siti Khadijah yang kaya raya yang dinikahi dan kemudian menghidupi dan membiayai perjuangan Nabi Muhammad SAW yang miskin, tak  memperlakukan Muhammad abu di ateh tunggua. Khadijah sepenuhnya memperlakukan Muhammad sebagai kepala keluarga, suami yang bertanggungjawab terhadap istri dan  anak-anaknya sesuai ajaran Islam.
 Kini  akibat perkembangan sosial, ekonomi (sistem mata pencaharian) pendidikan, dan terbatasnya tanah pusaka untuk lahan pertanian dan pemukiman, perlahan posisi sumando mulai bergeser dari abu di ateh tunggua menjadi tunggua di ateh abu. Artinya, keluarga sepenuhnya dibangun dan dibiayi oleh suami.
Bahkan, akibat kondisi ini, di beberapa tempat kultur matrilinial secara perlahan berkembang ke arah fatrilinial. Pernikahan anak sepenuhnya diputuskan dan diselengarakan oleh ayah. Malah ada keluarga Minang yang menerima serumah dengan menatu perempuan. Dan, kekerabatan seayah pun mulai menguat dibanding sesuku.
Kendati demikian persepsi bahwa suami adalah sumando tetap hidup dan berakar. Banyak suami yang  membangun rumah dan mendidik anaknya dengan keringat sendiri,  begitu beranjak tua dan pensiun diposisikan kembali layaknya sumando di atas rumah pusaka. Uang pensiun atau kiriman uang dari anak-anak dikantongi sepunuhnya oleh istri. Ayah seakan tak berhak atas anak-anaknya.
 Akibatnya, banyak lelaki pada usia menjelang tua merasa tersiksa di rumah buatannya sendiri. Ia tak berani bergaul dan duduk di warung karena tak lagi memegang uang.  Kalaupun punya, tak lebih sekedar uang jajan, layaknya anak-anak. Tampaknya hal ini termasuk pemicu stres dan berbagai penyakit pada lelaki menjelang tua. Juga jadi biang perceraian di usia senja.
 Pengadilan Agama Kota Padang, seperti disiarkan Antara 20 April 2006,  mencatat bahwa 65% dari 143 kasus perceraian, priode Januari- Maret 2006, adalah atas tuntutan istri dengan alasan karena suami tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 Dari 429 kasus perceraian pada tahun 2005, lima kasus pada kelompok usia di bawah 20 tahun, 304 kasus usia 21-40 tahun, 101 kasus usia 41-60 tahun dan 19 kasus malah berusia di atas 60 tahun. Mereka,  88 pasangan pegawai negeri sipil, 211 pasangan sektor swasta, sisanya tak punya pekerjaan tetap. Fakta awal ini cukup mengindikasikan betapa persepsi sumando, yang bukan lagi berada di lingkungan harta pusaka istri, tetap jadi masalah.
 Maka, dalam upaya memasyarakatkan ABS-SBK tentulah perlu ditanamkan bagaimana posisi suami dan istri menurut ajaran Islam yang sesungguhnya. Bagiamanapun orang Minang tidak mungkin menafikan keberadaan bako, keturunan ayah, karena anak hanya boleh dibangsakan kepada ayah kandungnya.
Kesetiaan istri kepada suami secara islami tampaknya perlu dimasyarakatkan. Sebab sebuah hadits nabi menyatakan,” Kalaulah manusia boleh menyembah manusia, maka akan saya perintahkan para istri menyebah suaminya”. Lalu, hadits nabi yang lain mengingatkan, “janganlah pernah istri menolak melayani suaminya karena rumahnya tak akan didekati malaikat hingga subuh”.
Lantas bagaimana mungkin suami yang telah bersusah payah membangun rumah tangga dan membesarkan anak-anaknya, setelah ia tua harus disepelekan? (*)

 

 

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: